Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

2019, is end

2019. Tahun berat, hampaku belum berakhir. Sesatku belum berujung. Kucoba sibukkan diri, Setelah drama hidup sepanjang tahun. Acara insomnia berat, maag akut, stres, juga pendepakan. Mentalku terserang, hampir terbunuh. Aku sadar, aku egois. Bukannya tidak peka, aku hanya mencoba tenang. Lunturkan sedikit sesak. Tau tidak? Hari itu, hari dimana sesak diujung tanduk. Sekuat hati kutahan. Sampai rasa menusuk itu benar-benar terasa. Saat itu, Aku sedang melipat pakaian, pakaian orang tentu. Kuputar lagu-lagu agar tak terlalu kaku. Jujur saja, itu hanya usaha membagi ruang dengarku. Kebiasaanku menatap dalam-dalam cukup buruk, karenanya aku terngiang lagi. Tentang aku yang tak punya nenek lagi, lalu patahnya harapanku tentang hal yang seharusnya sudah kusadari. Aku tertipu, untuk angan yang tak akan sampai. Atas janji yang kubuat lalu menusuk diriku sendiri. Apa aku egois lagi? Tuhan, aku tidak punya apa-apa sekarang. Jangankan uang, senyum saja aku susah. Kusalahkan i...

I'm sick, now

Kadang, sewaktu-waktu. Ada rasa menyerah dalam jalani hidup. Berat, lelah, sangat menyakitkan. Sering aku berkomat-kamit sendiri. Gini amat idup ya Allah, mati ajadah. Terdengar seperti candaan, tapi ini benar bukan kalimat yang terlontar begitu saja. Aku diambang sesak. Sungguh berat melawan diri, menerima nasib. Aku benci diriku. Kenapa Aku tidak bisa bersikap sedikit manis? Kenapa Aku susah sekali berlemah lembut? Kenapa? Bibir membeku, hati hancur. Benar-benar kesedihan yang paling disengaja. Kubunuh diriku pelan-pelan dengan siksaan batin. Ingin sekali kukatakan, ayolah. Apa daya mulut sampah ini bilang, sudahlah. Sok tegar sekali anda! Spesies manusia paling bodoh. Mencari alasan, lalu menyerah dan minta mati. Apa kau tak percaya Tuhan? Ya, Aku percaya. Mungkin aku sedang lelah saja. Sulit sekali mengatur nafas. Berat sekali mengukir senyum. Rapuh. Ruh rapuh berkulit segala bentuk acuh, cuek, sombong, angkuh. Kubenci, benci, sungguh benci. Belum kutemu...

Shine

Kudengar dia, Dia yang menjatuhkan Aku dan kawanku terbahak. Tertawa sangat puas. Setelah sekian lama tidak bergeming. Bersuara hanya jika sedang marah atau membentak saja. Anehnya, Aku disini tersenyum. Tidak seperti biasanya. Biasanya aku akan tersinggung dan mengamuk. wah, kurasa mentalku agak membaik. haha. Lucu sekali mengingat manusia yang anggap dirinya laki-laki, beristri, beranak empat pula menunjuk-nunjuk seorang gadis. Hahaha, bocah sekali. Kuberdoa dalam hati, semoga anak-anaknya kelak jadi orang yang berguna, tak seperti... yahsudahlah. Aku disini, di sekat triplek rapuh. Menggigit bibir, menahan perih. Sungguh aku tidak peduli lagi dengan kejadian aneh bin tolol kemarin. Aku hanya memikirkan janji pada Adikku untuk berlibur akhir tahun ini. Tidak tega kuberitahu, bahwa aku kehilangan mata pencaharian. Belum bisa kususun kata-kata bahwa aku sedang diambang keterusiran. Ya Allah, kuatkan aku. Berkeping rasanya saat kuingat wajah orangtua yang kian menua. ...

dear, aku

Dear, Aku. Senyum, itu akan membantumu. Aku, Kutau kau sedang berkabung. Aku, Kutau kau butuh peluk. Kutau benar, kau sedang kalut. Aku, Bersabarlah. Kutau kau kuat, Allah tau kau bisa. Aku, Menangislah. Tidak apa, meski itu sesak. Tak masalah pun jika harus membekap dalam kain atau bantal. Kutau kau tak ingin didengar. Kutau kau sedang tidak baik, tapi berusaha tegar. Aku, Tersedu saja. Jika menggigit bibir membuatmu nyaman, lakukanlah. Nyalakan saja keran air keras-keras. Aku, kutau kau tak pandai bercerita. Tak apa kau tenangkan diri dengan caramu. Kupeluk kau, erat dalam dekapan. Jangan sedih, manusia memang bukan tempat harap, tapi sarang kecewa. Aku, jika dengan mengunci diri membuatmu lebih baik. Tak masalah. Sesak didadamu, rindu dibatinmu. Nikmatilah, kau kuat. kau bisa. Sibuk perbaiki dirimu, Aku. Lihat dirimu, kau nampak tak baik hari ini. Tidakkah kau sayang pada raga yang tak pernah tinggalkanmu. Aku, ini hidupmu. Kau pantas memilih. Jika sekaran...

Fall into ure hand

Aku jatuh, lagi lagi. untuk kesekian kali. Ujian apa lagi ini, Tuhan? Kejutan di pagi yang masih berselimut lelah bekas kerja keras semalam. Belum reda lelah, belum usai kantuk. Aku terhuyung menuruni anak tangga, menyusun semangat. Mengalihkan duka. Tidak kutau pasti apa yang membuatku begitu kalut akhir-akhir ini. Lagu Hurt Christina Aguilera terus terngiang. Aku rindu seseorang. Insomnia jadi sahabat, meski jam sudah tunjukkan angka tiga, mata masih segar saja. Aku tak suka menduga, tapi kuyakin ini pasti ada apa-apa. Doaku selalu, kumohon jagakan keluarga dan teman-temanku. Aku bersedia sakit, tapi tidak dengan orang-orang itu. Betapa raut mukaku dibuat bingung. Untuk kesalahan yang katanya sebesar itu, aku masih tidak paham. Seberapa apapun kucari kejelasan, aku hanya di cap menantang. Telunjuk laknat yang kurang ajar menantang mataku yang dilanda bingung. Sial, dia jauh tua dariku. Aku bisa saja memukul, tapi itu membuatku jadi sederajat, dan aku tak sudi. Kubi...

Shuold I Fight?

Kudekap diriku, erat. Sadar, aku benar tak punya tempat pulang. Aku bukan pemimpi. Mimpiku gugur, bersama api yang dulu benderang. Karena lebih banyak diam, aku suka memerhatikan. Satu yang kutau benar, Manusia cenderung sembunyikan diri di balik geriknya. Sekarang aku merasa bersalah, lagi. Katanya, kalau aku diam. Suasana kerja jadi beku. Teman, asal kau tau. Introvert akut sepertiku bisa kehabisan energi sewaktu-waktu. Tolong sabar, aku sedang pulihkan diri. Mencoba bangkit. Aku memang sering nampak paling mudah ditertawakan, atau menertawakan. Mencoba menjaga perasaan, tak biarkan suasana menegang. Korbankan rasa yang mungkin ada. Meski tak diminta. Aku tak suka orang lain terganggu, apalagi khawatir karenaku. Kadang aku memilih pergi, jika memaksa bertahan, bisa saja aku tumpah, dan aku tak mau. Cukup membuat mereka berpikir aku egois saja, tak apa. Mereka tak perlu tau saat kututup pintu, memutar kuncinya. I'll crying like a kid. Mengadu pada Tuhan. I kno...

Kedua Aku

Baru saja, baru beberapa menit lagi kulihat sesi tanya jawab di kanal youtube. Tamunya Marshanda, aktris yang didiagnosa depresi di umur 17 dan bipolar di 21. Aku diam, memerhatikan. Kucoba tidak menyamakan dengan apa yang kerap kurasa. Menjadi seorang pemendam, aku banyak mengubur asa. Aku tidak pernah bisa ceritakan apapun yang kiranya bisa menularkan rasa khawatir, sedih, atau yang berbau duka. Lebih kupilih dibenci, daripada orang yang kusayang jatuh pada khawatir. Sisi gelapku selalu bertanya. Untuk apa hidup? Ini tidak ada gunanya. Tidak berguna sama sekali. Yang kulakukan hanya salah, salah, salah. Bisakah Tuhan mengambilku sekarang? Aku tidak mau bunuh diri. Itu bukan penyelesaian. Aku takut. Takut sekali. Lalu ada "Aku" lain yang berkata Apa yang kau pikir? Tidakkah kau pikir bagaimana susahnya kau dilahirkan? Dibesarkan? Apa kau tega? Orang disekitarmu sedih karena kau mati? ~Aku hanya merasa gagal, tidak lebih. Kurasa lebih baik pergi saja dari...

Sepi, sempurna, dan gagal

Kesenanganku pada anime cukup fanatik. Tontonan ninja kecil yang pantang menyerah sekalipun dikucilkan sungguh memantik harapan jiwa kesepian sepertiku. Saat teman sepantaran sudah mantap menata hidup sesuai kesukaannya, bahkan beberapa telah maju ke singgasana pelaminan. Disini aku masih terkatung, membuntu. Tentang Jati diri yang tak kunjung kutemui. Dorongan yang tidak dirasa. Meski nampak sesekali bersemangat, tertawa lebar-lebar, sejujurnya jauh di dalam sana ada rasa hampa. Jika digambarkan, gadis berambut panjang itu tengah memeluk lutut, pakaiannya bagus, namun basah. Ia terisak, rambutnya jatuh hingga menyentuh kakinya yang tak beralas. Sosok itu sedang di balik daun pintu, mengurung dirinya dari dunia luar yang menyeramkan. Semua nampak kosong, hampa, hanya ada tempat tidur dan sebuah kursi. Jendelanya terbuka, tirai tipis yang membatas tertiup sapuan angin. Namun tetap saja, gadis itu masih memeluk diri. Angin tak dihiraunya. Aku jelas bukan orang periang. Penilaia...

Sebelah sayap yang dipatah

Merasa tak berharga dan tak laik hidup di usia kepala nol dulunya kukira biasa. Hingga aku besar, lalu kutau bahaya sakit yang biasa orang sebut depresi. Terlahir ambisius menjadikan aku pemikir yang cukup keras. Egoku kadang tak kuasa dikendalikan. Aku yang ambisius di dalam tapi diam di luar meyakinkan banyak kenalan untuk segera melangkah mundur. Dulu, waktu rok selututku masih merah berlipat, setiap pagi penuh semangat kuayun kaki beralas sepatu taliku. Kadang naik vespa biru tetangga, namun lebih sering melangkah sendiri. Tentu dengan payung mini yang tiap hari ku dibekali. Di sekolah, kesan menonjol jauh dari sosokku. Aku hanya dikenal karena selalu menyisakan beberapa lembar kertas dibagian belakang buku untuk coretan imajinasi. Saat teman sekelas mendengar seksama, aku menggambar. Ingat sekali saat aku digampar buku tulis karena dikira tak memerhatikan. Aku diam, menunduk. Sungguh mentalku sedikit digerus kala itu. Ibu Guru, maaf. Aku memang tampak acuh, namun sungguh! T...

Rule

Teman, teman dekat, sahabat Dulu, 8 tahun lalu, aku kerap menunduk. Menjadi seorang pemalu sungguh ujian yg agak menyiksa. Apalagi dibekali Tuhan dengan raut wajah dingin, salah sangka sering sekali terjadi. Jutek Sombong Pongah Penuh menyumpali telingaku. Aku hanya tidak paham. Bagaimana mungkin seseorang melemparkan senyum pada orang yang tak begitu dikenalnya. Lumrahkah memberi kontak whatsapp begitu saja setelah bertukar nama. Itu benar-benar tak masuk diakal. Setidaknya diakalku. Memiliki teman se-geng di putih abu seolah jadi berkah untukku. Berorganisasi bersama, bahkan mengatur posisi bangku pun sama-sama. Lalu aku mulai bingung kala dikata egois, tanpa embel-embel lagi Aku didiamkan, dibuang, dikucilkan. Untuk seseorang yang sukar berkenalan, aku kecewa. Percayaku pada teman sudah makin meluruh. Aku tak pernah bersemangat lagi, diamku makin menjadi. Tiga tahun berselang, kududuki sebuah kampus. Tidak pernah kuduga bagaimana kampus yang awalnya kupikir menyera...

Ridwan

Untuk Ridwan, Temanku yang selalu membuatku merasa gagal Ridwan. Parasmu kuyakin bukan berasal dari Indonesia tulen. Apalagi Makassar. Meski kau selalu meyakinkan kami bahwa kau adalah orang Makassar asli. Nyatanya kami tak percaya begitu saja. Kulitmu kemerahan, dengan bintik-bintik  yang biasa orang sebut freakless memenuhi wajahmu. Hidungmu juga tidak terlalu mancung seperti bule. Tapi sudah cukup membuat kami yang perempuan tulen kerap merasa gagal disampingmu. Daripada gagah, kau cenderung cantik. Kebanyakan orang yang melihatmu pasti berkata demikian. Aku sudah terbiasa. Ridwan. Dulunya kau bergabung di salah satu geng yang sok menguasai kelas. Hahaha. Mungkin tak resmi. Tapi kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Aku mendapat info, kau menyukai salah satunya. Hayoloooohh. Tapi takdir berkata lain. Cukup tragis, dia lebih memilih sahabatmu yang badannya lebih atletis. Suatu hari di lobby fakultas kau menanyaiku. Tentang seseorang dari kelas sebelah...

Teman duduk

Teruntuk teman dudukku di putih abu-abu, selamat.. kau tengah melangkah ke jenjang yang baru. Sempat kukirim janji lewat pesan. Apa daya, badan tetiba merapuh. Berdiri pun hampir jatuh. Tekadku kalah. Maafkan aku. Em, boleh aku berterimakasih? Ya. Anggap saja boleh. Ekhem. Oke Terima kasih untuk penerimaanmu kala aku jatuh dulu. Di tengah kebingungan, aku mengenalmu. Bersedia menjadi teman satu bangku di barisan paling buntung. Aku terpuruk, untuk orang yg kuanggap teman tetiba mengucilkanku. Lalu kau ada, menyemangati di hari-hari gelapku. Sadar atau tidak, kau banyak membantu kembalikan asa yang sempat hilang. Aku bangkit, lalu mulai mengenal teman lain yang dulu tak kupeduli. Kubuka hati yang tadinya dingin. Walau satu, aku tetap tak banyak ketawa ketiwi. Tak ada yang bisa bayangkan bagaimana aku kehilangan semangat pagi. Apalagi organisasi. Ahsudahlah, toh sudah jadi masa lalu. Hikmahnya aku jadi bisa sedikit membaur, Aku mengenal teman-teman barisan belakang ya...

Winny Aurina Ariyani

Winny, gadis mungil yang lugu. Belum sempat dibuai kasih ayah. Belum juga tahu rupa orang yang kiranya menafkahi dan menimangnya tiap sore sepulang kerja. Dua bulan sebelum hirupan nafas pertamanya, sang ayah berpulang. Manusia yang sejatinya menjadi pacar pertamanya di dunia. Sorot mata yang merindu jelas tergambar di hitam pekat matanya. Nampak kehilangan sosok yang sebetulnya dimiliki. Apa mau dikata, takdir membawanya ke haluan yang berbeda. Nak, gaya tidurmu sepertiku. Berputar, berguling, berakrobat. Satu yang tak biasa kuabaikan adalah wajah tenangmu. Bak malaikat, kau dititipkan oleh Allah dan ayahmu. Pada seorang yang kini berjuang untukmu dan kakakmu. Ibu, yang sekarang terasa seperti kakakku. Kelak kau harus memeluk ibumu erat-erat dan memberondonginya terimakasih sebanyak mungkin. Ialah yang menyayangimu lebih dari siapapun di dunia ini. Selain di dunia, ada Ayah juga yang menyayangimu di dimensi berbeda. Tumbuh dan jadilah "besar" Meski tak semp...

Kala ini

Sudah enam jam. Kami terkatung. Duduk di pinggiran aspal, makan minum pun disana. Jika lelah ada beberapa pohon mangga yang rindang. Menyediakan tempat meneduh melepas penat karena ketidakjelasan. Beberapa warga yang kehilangan keluarga tampak cemas. Memijit hp lalu berharap ada kabar di seberang provinsi sana. Anak-anak kecil yang baru tiba dari sana tampak kegirangan. Meloncat dan tertawa. Meski sangat tampak mata panda bekas ketakutan semalam.

2nd

Tenda naungan kami dari pagi kemarin mulai teduh. Pendar matahari perlahan meredup. Tanda gelap akan tiba. Dua orang teman yang masih mahasiswa baru membunuh bosan dengan bernyanyi diiringi musik dari aplikasi yang mereka punya. Sekali-kali terdengar serasi. Tapi tak jarang melengking atau kerendahan tak jelas. Lagu Shawn Mendes, Bruno Mars, Charlie Puth dan banyak lagi bergantian memamerkan suara. Jujur kami terhibur. Meski di seberang tikar, teman laki-laki sedang membicarakan hal tidak tentu arah. Kurasa untuk menghibur diri. Kuyakin mereka sama lelahnya denganku yang dua hari ini hanya memandangi patok tenda, TNI, dan korban yang baru meninggalkan tanah tambang rezekinya, sepintas tampak senang. Tapi, jika dilihat lagi, amat jelas kerut sedih dari sisa ketakutan dan panik di hari silam. Semua bercengkrama, saling hibur. Begitupun aku yang sedang menghibur diri dengan mengadu jempol dengan layar hp ku. Mengaburkan sendiri yang kurasa. Beberapa nampak memerhatikan. Dari mata...
Kalau kemarin aku bilang menunggu 30 jam dan kesal. Sungguh ini tak berbanding dengan mata-mata sendu yang bertahan di atap yang sama. Aku malu, mendapati diriku yang terlampau egois mencaci prosedur yang tak kunjung ada kejelasan. Mendiam lalu kembali tumbang. Mempertanyakan segalanya. Ketika 70 jam yang kurasa terbuang sia-sia tertampar dengan visual yang membuat peri hati

Donggala,

Rabu, 10/10/2018 Distribusi logistik dan evakuasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi masih terkendala. Sampai hari ini Rabu, 10 Oktober 2018 para pengungsi masih sangat memerlukan uluran tangan. Keputusan pemerintah mengenai pemberhentian proses evakuasi korban sekaligus penarikan relawan dianggap ganjal. Pasalnya kondisi di lapangan belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Perekonomian yang masih terpincang-pincang dianggap sudah mendekati titik normal. Padahal masih ada ribuan kepala yang masih kehilangan pekerjaan, rumah, dan bahkan keluarganya sendiri. Sorot mata nanar masih memenuhi lokasi evakuasi. Mengais barang berharga yang masih tersisa diantara puing-puing bangunan yang sudah porak-poranda tertelan tanah dan lumpur. Beberapa warga datang dan pergi, menanti harapan sanak keluarganya ditemukan. Meski dalam sendok eskavator dan sudah tidak utuh lagi. Besar harapan para korban agar proses evakuasi masih dilanjutkan. Demikian pula distribusi logistik yang di...

Tikaku lima

Hari ini kau ujian. Mengenakan kemeja putih lengkap dengan blezer hitamku yang selama ini kuanggap jas. Kau tampak pucat, ini karena kau tidak enak badan. Juga bekas begadang semalam. Aku menemanimu, tapi dalam bentuk tidur. Aku terlalu lelah, kerjaan tadi pagi terlalu banyak. Ah, sudahlah. Kau tau? Kemarin waktu kau menelepon, mengabarkan ujianmu yang begitu mendadak. Rahangku hampir copot. Saking menganganya. Aku lupa bahwa telinga kiriku sedang sakit-sakitnya. Kau terdengar lebih kaget, lebih lelah dan sedikit memelas. Kau harus tahu, aku adalah makhluk tidak tegaan apalagi untuk masalah teman. Aku mulai mengarang cerita dan alasan untuk mendapat izin esok hari. Aku tak diizinkan seharian, seperti dugaanku. Tapi setidaknya aku bisa pulang lebih awal, dan itu cukup melegakan. Aku duduk, menatap layar laptop kerjaku. Tampak sedang melamun. Tapi sebenarnya aku sedang menyusun rencana, membagi setiap menit waktuku sebaik mungkin. Menjelang pukul satu siang, leherku mulai enc...

Tikaku, enam

Kau lebih beruntung. Setidaknya itu pikirku. Bisa kulihat dari matamu, kau anggap kehidupanku beruntung. Bebas lakukan segalanya, tubuh selalu sehat. Kadangkala kulihat raut wajahmu begitu letih. Kau sakit. Badanmu, ragamu seringkali kudapati lemah. Yang kau tau dariku adalah si kuat yang bebas lakukan segalanya. Maafkan aku yang begitu tertutup denganmu. Aku hanya tak mau kau dengarkan sakit versiku. Tapi jika kau bersedia membacanya, tak apalah. Pernah sekali kurasakan hidup dengan rasa sayang dan kasih. Suasana yang hangat, ceria. Mungkin bagi orang lain kehilangan nenek adalah hal biasa. Memang sudah waktunya, sudah tua. Tapi apa kau tau? Perginya nenek dari hidupku bagai lilin yang kehilangan pijarnya. Aku menangis, tanpa air mata. Baru kurasa, dan ternyata jauh lebih dalam. Tidak adalagi yang bertanya apa kabar, bukan basa-basi. Tidak ada lagi yang bertanya apa berasmu masih cukup. Tidak ada lagi yang mengupaskan mangga untukku, cucunya yang manja. Kau pernah denga...

Tikaku, tujuh

Sejujurnya aku malu menulis ini, tapi biarlah. Karena kadang-kadang menjadi memalukan itu juga perlu. Kemarin kau menelepon, katamu besok adalah hari pengesahan gelar barumu. Aku jantungan, tapi tak separah waktu kau mengabariku seminar tutupmu. Dengan mantap kuiyakan, karena besok jadwal kerjaku memang bukan sore sampai malam. Dari tempat kerja aku bergegas, menyelesaikan lipatan terakhir. Lalu kabur tak karuan. Di perjalanan aku galau, beli boneka atau tidak. Allah memang baik, kodenya datang melalui seorang bapak yang mengendarai motor tua hitamnya. Beliau menyelip di sebelah kiriku, membuat si maroon mau tak mau harus menghadap lurus. Kupacu gasnya. Menyelipi puluhan kendaraan. Di rumah aku merebah sebentar. Menyembuhkan remuk yang sedaritadi kurasa. Lalu mengisi perut, takut si lambung kambuh (lagi). Setelah mandi dan juga berterimakasih pada-Nya. Aku menghitung-hitung lembar biru yang disematkan di amplop. Kusisihkan dua lembar untuk kita. Sisanya untuk kebutuhanku sebu...

Mamaa

Nama lengkapnya Shahrisah S. Sekarang tambah S. Sos. Teman-teman lain akrab menyapanya dengan nama Icha. Kadang juga Shahrisah. Kalau saya, juga si suara halilintar suka memanggilnya mamaa. Kenapa? Karena dia memang begitu. Kalau dipikir-pikir, seharusnya dia yang paling butuh mama. Tapi entah, mungkin karena pembawaan dan pengalaman hidup itulah yang membentuknya menjadi perempuan dengan karakter lebih dewasa. Padahal dari segi umur memang iya. Mwehehe. Sekarang umurnya 23 tahun. Cie. Kapan? Kapan? Kapan? Sudah pasti banyak menyumpali telinga. Sudah, abaikan saja. Hahaha. Selamat ulang tahun, mamaa. Kau tetap jadi mamaa kami. Asal jangan cari anak baru disana. Hehe. Semoga kuat menghadapi masa akan datang. Ini berat, tapi kuyakin kau kuat. Kalau butuh lawakan, sini sini. Asal jangan minta senyum.. Kau tau kan? Saya tidak ahli dalam hal itu  hehe. *Barakallah fii umrik*

Kebingungan si anak nakal

Masa laluku tak terlalu buruk, pun tak begitu baik. Bahkan, belakangan baru kurasa bahwa hidupku sedikit membosankan cenderung flat. Tapi, kenapa yah? Orang-orang terdekat justru bilang hidupku sangat amat penuh warna Helloww apa mereka yang kudet ato gue yang kurang bersyukur yah? Entahlahhh Yeah! My hobby is made a sketch Suka teriak-teriak gak jelas sok ngukur range nada di kamar mandi. Paling gemes sama anak kecil Dan exactly... Gue Paling seneng jadi berbeda diantara kebanyakan manusia. Gue suka tantangan Karena itu, gue punya nyawa ganda buat ngejelajahin dunia Panas, hujan, bukit, sungai, laut, aspal, lapangan... Jadi sahabat-sahabat gue Dikatain iteman? Bodo amatlah Yang penting gue happy.. yuhhuu Gue adalah makhluk yang bosenan sekaligus membosankan (maybe??) Atas nama kenyamanan, gue seringkali gak bertahan lama sama satu jalan Gue anak cewe satu-satunya sekaligus cucu cewek yg langka Tapi, lain sisi.. gue bernyawa tomboy Gue suka dunia laki-laki Alesanny...

Kenalkan

Dia adalah lilinku yang benderang di penghujung gua yang pekat. Dia adalah manusia pertama yang membuatku merasa tak perlu malu untuk jadi diriku sendiri. Mengajarku bermain bersama, bukan bermunafik bersama. Dia tak sekedar hebat membuat banyak orang tertawa. Bagai hangat mentari di pagi bersalju. Aku, yang dingin. Yang teramat pemalu. Dia berhasil mencairkan dingin hati milikku. Dia ajarkanku tersenyum, bahkan tertawa tanpa malu. Dia adalah sahabat paling berharga yang kumiliki. Selalu bahagia.. Selalu tertawa.. Selalu tak berbeban.. Selalu bersemangat apapun situasinya.. Tetapi . . . Dia berbohong Bohong untuk semua senyuman bahagia itu.. Bohong untuk semua tawa tak berbeban itu.. Kali ini.. Aku ingin berhenti bodoh percaya akan senyum palsu itu. Karena aku tahu benar, tawa itu tak lebih dari derita yang bertopeng bahagia. Berhentilah.. Berhenti untuk sekedar memberiku tawamu.. Berhenti memanjakanku dengan menuruti egoku.. Aku ingin kau menangis, curahkan ap...

Tikaku, sepuluh

Aku tak banyak bercerita tentang keluargaku padamu. Suatu waktu aku merasa tak adil saat kau dengan gamblangnya menceritakan padaku kisah hidup yang didominasi keluargamu yang selalu berhasil membinarkan mata dinginku. Kalau kulihat-lihat, sebenarnya kau cukup handal dalam berbicara. Sekali kau memulai cerita, baik itu nyata atau mimpimu semalam, segalanya terasa nyata diotakku. Begitu mendetailnya sampai-sampai otak pas-pasan ini bisa menggambarkannya dengan baik lewat theater of mind yang kupunya. Kau hanya terlalu gugup saat menghadapi lawan bicaramu yang baru, terlebih mereka yang kita anggap penting. Aku yakin, sebenarnya kau bisa jadi semacam Marketing yang handal. Kau fasih sekali dalam menjelaskan segala hal, terlebih untuk spesies sepertiku. Aku selalu senang menunggu akhir dari ceritamu. Kadang-kadang aku berpikir, ceritamu itu sebenarnya tak seberapa lucu, tapi pembawaanmu lah yang membuatku terus tertarik mendengarnya sampai titik terakhir. Kita berbeda, tapi salin...

Untuk Ridwan, Temanku yang selalu membuatku merasa gagal

Ridwan. Parasmu kuyakin bukan berasal dari Indonesia tulen. Apalagi Makassar. Meski kau selalu meyakinkan kami bahwa kau adalah orang Makassar asli. Nyatanya kami tak percaya begitu saja. Kulitmu kemerahan, dengan bintik-bintik  yang biasa orang sebut freakless memenuhi wajahmu. Hidungmu juga tidak terlalu mancung seperti bule. Tapi sudah cukup membuat kami yang perempuan tulen kerap merasa gagal disampingmu. Daripada gagah, kau cenderung cantik. Kebanyakan orang yang melihatmu pasti berkata demikian. Aku sudah terbiasa. Ridwan. Dulunya kau bergabung di salah satu geng yang sok menguasai kelas. Hahaha. Mungkin tak resmi. Tapi kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Aku mendapat info, kau menyukai salah satunya. Hayoloooohh. Tapi takdir berkata lain. Cukup tragis, dia lebih memilih sahabatmu yang badannya lebih atletis. Suatu hari di lobby fakultas kau menanyaiku. Tentang seseorang dari kelas sebelah yang kau taksir belakangan. Sejujurnya waktu itu aku cuk...

Tikaku, sebelas

Rasanya baru kemarin aku bingung menatap judul tikaku sepuluh yang sudah banyak tersalip tulisanku yang lain. Aku bukan tak punya topik untuk menuliskanmu, tapi kurasa hari ini akan jadi topik paling sedih. Plis, jangan ketawa dulu. Aku serius. Bayangkan mukaku, ekspresiku. Aku memang makhluk paling suka mengeluh. Aku sadar sekarang. Kemarin aku begitu mengeluh tentang bagaimana adik-adik yang kuceritakan sebelumnya sangat menyebalkan. Kami akrab, tapi hari itu mereka membuat tanduk ketigaku timbul dijidatku yang lebar. Aku mendengus. Mukaku kurasa memanas dan sudah pasti merah. Aku bosan ditanyai. Dimana Yusran? Imma, dimana akram? Mereka tak kunjung jera. Aku merengut-rengut pagi itu. Tinjuku kupukulkan ke meja setrikaan yang lembut, hehe. Siapa juga yang mau kesakitan. Harusnya hari ini aku bisa berleha-leha sepanjang hari. Tiduran, selimutan, guling-guling ditemani hujan pagi. Tapi apa mau dikata, mereka kembali berulah. Aku mulai diambang batas sabar. Pikiranku mulai kalu...

Tikaku, empat belas

Entah akan berjudul apa tulisanku kali ini. Aku baru merebahkan badan setelah perjalanan 3 jam. Berkendara tanpa pembonceng dan boncengan. Membelah hutan lebat, hanya ada beberapa monyet yang sudah terlalu biasa kudapati di pagi hari tiap pulang dan pergi dari rumah (di Kampung). Aku kembali ke perantauan. Seperti biasa, aku akan merasa sangat berat. Masih ingin kunikmati masakan kakek dan mamaku, menggulingkan badan seenaknya di kasur depan TV adikku sambil merecoki pemiliknya. Menikmati minuman dingin lengkap dengan bapak, mama, adik, kakek, juga nenek dari pihak bapak. Kalau masih diizinkan berandai, aku hanya ingin ada nenek dari pihak mama yang juga duduk bersama kami. Aku melirik sebentar ke arah foto bersama terakhir kami di idhul adha 2016 lalu, menunduk, lalu menghela nafas. Semakin sering aku pulang ke rumah, rinduku padanya semakin menjadi. Belum kudapat orang yang menyayangi lebih dari caranya memperlakukanku. Cucunya yang nakal. Sedang kudidik diriku untuk lebih...

Vegi

Lebaran tahun ini rasanya jadi paling berkah selepas tahun-tahun duka kami. Perjuanganku menahan segala nafsu belanja akhirnya membuahkan hasil. Aku tidak bosan dengan hp veteranku, aku hanya merasa mulai butuh yang lebih mampu menyokong hobby ku menjelajahi yutub dan IG hehep. Liburan paling panjang selama bekerja jadi kado pertama diakhir ramadhan. Siapa sangka, momen mesraku di jalan berbelok tebing kanan jurang kiri dengan Vegi si motor bebek kesayangan sudah sampai masa. Kadang aku kasian, mendengar suaranya yang seolah minta minum kehausan. Apalagi dijalan menanjak, tuanya semakin kedengaran. Perjalanan kesekianku dengannya seperti biasa. Kunyanyikan dikala sepi, lalu kusemangati saat jalan sedang curam-curamnya. Ya! Aku memang begitu. Kuanggap semua benda mati bernyawa yang bisa kuajak bicara dan bersemangat ketika kusemangati. Kupikir mereka juga akan sedih jika tak diperlakukan dengan baik. Sepanjang kebersamaan kami, dia tak pernah melontarkanku dari sadelnya, tidak ...
Kuingin saat ini engkau ada disini Tertawa bersamaku sperti dulu lagi Walau hanya sebentar Tuhan, tolong kabulkanlah Bukannya diri ini tak terima kenyataan Hati ini hanya rindu Andmesh kamaleng, Hanya Rindu Lagu ini terngiang-ngiang dikepalaku. Selain memang karena musiknya yang peacefull alias menenangkan. Liriknya juga dalam, dalam banget malah. Untuk orang yang sedang merindukan sosok yang pergi, aku melarut dalam lagu. Ya, seperti penggal liriknya "Bukannya diri ini tak terima kenyataan, hati ini hanya rindu" Aku hanya sedang berandai Jika ia masih di rumah menungguku, tentu baju yang kubeli kemarin kugenapkan jadi tiga buah. Andai suaranya masih bisa terdengar, aku akan bisa lebih semangat bekerja untuk memenuhi pintanya.

Bodo amat njiirr

Apa ini yang namanya beranjak dewasa? Kurasa sekarang diriku sedang berada di titik dimana aku mulai bisa menerima diriku. Yang ngambekan, emosian, tapi kalau peduli kadang sampai bego tak terkira. Aku berdiri di atas titik nyaman yang orang bilang kesendirian. Kurasa aku sudah tidak lagi butuh tongkrongan, juga basa-basi apa kabar. Sebenarnya tidak melulu bisa kunafikkan, bahwa kesepian itu kadang menyiksa. Aku hanya mulai terbiasa dengan segala kekecewaan, hati yang patah, juga wacana yang lagi-lagi jadi kenangan. Aku mulai memahami cara Tuhan mendidikku menjadi orang yang lebih kuat. Bertemu dengan banyak orang yang sebagian kecil jadi teman, sebagian lainnya jadi pelajaran. Belajar untuk tidak menjadi benalu bagi sesama manusia Bersyukur akan segala nikmat berupa teman dan kerabat yang selalu ada. Fase terberat yang kulalui tidak lain saat kehilangan satu demi satu orang terdekat. Entah mengejar cita, cinta, atau pulang selamanya. Aku makin akrab dengan kesendirian. Aku...

Tikaku come back 😆

Sudah 3 hari aku merasa agak kurang enak badan. Suhu badanku menghangat selepas perjalan panjang di tengah malam. 170 km, berteman angin malam pantai. Juga kantuk yang setengah mati kulawan. Ditengah perjalan kami menyempatkan tidur sebentar di mushallah pertamina yang tampak tak terawat. Motor yang hampir oleng berkali-kali membuatku mengalah untuk istirahat kembali. Kurasakan angin menerobos jaketku. Akh, apa mau dikata. Pukul setengah 12 malam, kami akhirnya tiba di depan gerbang kosan tina. Terjadi sedikit drama pencurian kunci diam-diam. Aku hanya berjongkok menunggu kepastian, lalu menjatuhkan badan begitu saja saat tiba di kamar kosan. Kurasa badanku mulai hangat, melihat kondisi tina yang lebih memprihatinkan, kuputuskan untuk menukar jam kerja. Aku pagi, dia siang. Esok harinya, kudatangi rumahmu. Dengan alasan membawa kuotamu yang sudah kubeli seminggu lalu, aku berangkat. Tidak direncanakan, tapi untuk pertama kalinya, kita pergi ke pantai losari. Khusus untuk ritua...

Bulukumba in love

Aku memang lemah. Tanganku selalu gatal mengetik setiap ada hal yang nyangkut dihati. Kurasa, aku harus sedikit tahu diri. Menulis tidak hanya dukanya saja, tapi suka pun harus antusias. Selepas liburan singkat kemarin otakku benar-benar ter-refresh dengan baik. Kesegaran di lobus-lobus otak membangkitkan aura baru, juga semangat baru disaat semua sudah nampak monokrom. Perjalanan panjang menyusuri hutan, sawah, kota, juga pantai benar-benar menyejukkan mata. Kuhirup dalam-dalam aroma pantai, pandanganku lekat-lekat ke arah desiran ombak. Sungguh ketenangan dunia yang hakiki. Sayang sekali, aku hanya bisa memandangnya dari jok belakang motor matic teman. Padahal jika bisa, ingin kududuk di tepi pantai, membiarkan ujung kaki disapu ombak tenang. Menunggu senja datang. Tapi apa mau dikata, jika saja si kecil kriwil, sudah pasti dia mau diajak. Aku hanya merasa tidak berhak mengganggu ketenangannya di rumah. Toh, tetap saja. Saat tahu aku sempat ke kampung halamannya diam-diam, dia...

Kampret

Hari ini kau datang, mengambil gajimu. Sekaligus mengunjungiku. Semalam kepalaku kembali tak terkendali. Berat, sakit, lalu sesekali 'menyerang'. Ingin kututup pintu segera, berharap bisa segera rebahkan badan. Meski begitu, aku masih menunggu tobi. Baju yang dititipnya belum diambil juga. Ia datang dibonceng temannya, yang juga temanmu. Setauku namanya awal, perawakannya mirip dengan kalian. Kecil-kecil. Haha. Selepas pamit kudorong si merah masuk ke kandangnya. Kututup paksa si pintu lalu menggemboknya cepat. Kepalaku benar-benar mau pecah. Berganti kostum lalu shalat isya, astaga, lagi-lagi aku shalat di akhir waktu. Kurebahkan badanku segera, kutarik-tarik rambutku berharap ini bisa membuatnya baikan. Ehhh.. malah si perut yang keruyuk minta makan. Ampunlah, stok makanan cuma ada mie instan. Kulirik bayanganku di kaca. Alergi di penjuru muka sudah tak termaafkan. Kuhela napas sejenak, sekali ini saja. Ini yang terakhir. Lalu kumasak dan kumakan dengan was-was. Wel...