Sepi, sempurna, dan gagal
Kesenanganku pada anime cukup fanatik.
Tontonan ninja kecil yang pantang menyerah sekalipun dikucilkan sungguh memantik harapan jiwa kesepian sepertiku.
Saat teman sepantaran sudah mantap menata hidup sesuai kesukaannya, bahkan beberapa telah maju ke singgasana pelaminan. Disini aku masih terkatung, membuntu.
Tentang Jati diri yang tak kunjung kutemui. Dorongan yang tidak dirasa.
Meski nampak sesekali bersemangat, tertawa lebar-lebar, sejujurnya jauh di dalam sana ada rasa hampa.
Jika digambarkan, gadis berambut panjang itu tengah memeluk lutut, pakaiannya bagus, namun basah.
Ia terisak, rambutnya jatuh hingga menyentuh kakinya yang tak beralas.
Sosok itu sedang di balik daun pintu, mengurung dirinya dari dunia luar yang menyeramkan.
Semua nampak kosong, hampa, hanya ada tempat tidur dan sebuah kursi. Jendelanya terbuka, tirai tipis yang membatas tertiup sapuan angin.
Namun tetap saja, gadis itu masih memeluk diri. Angin tak dihiraunya.
Aku jelas bukan orang periang. Penilaian yang jauh dari baik sudah tidak asing lagi.
Untuk hal seperti itu, aku kebal. Sungguh.
Masalah ada pada diriku yang belum bisa menerima "Aku" . Seperti ada dua jiwa disana. Jutek, gahar, suka tantangan, lalu satunya periang, lugu dan main aman.
Aku tidak membenci sifat itu. Keduanya unik. Aku hanya suka menangis jika sifat itu keluar tidak sesuai situasi dan keadaan.
Seperti kata teman, aku perfeksionis.
Ingin kuubah, tapi memang agak sulit.
Tidak pernah kukerjakan sesuatu tanpa "terbaik" yang kupunya.
Lalu aku mengenal teman.
Ajaran bodo amat mereka sangat berguna menetralisir stres yang tiap saat mengekang otak.
Meski tak sesering itu, sempurna dan gagal sudah mendarah didiriku. Bodoh
Walaupun begitu,
Uzumaki Naruto setia merenggangkan tangannya. Anggap saja dia belum punya hinata, boruto dan himawari. Hehe.
Arigatou Gozaimas, Masashi Kishimoto. Teman.
Komentar
Posting Komentar