Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Mu

Sekitar 2015 lalu, aku bertemu kenalan baru. Tidak akrab, hanya tau nama. Saat aku dan teman tertawa, ia ikut senyum. Tipis sekali tapi, aku kadang-kadang melihatnya dari ujung lihatku. Sejauh yang kuingat, kerap ia memakai kaos putih. Jujur, aku tak begitu peduli. kau tau bukan? Aku dijuluki si dingin hati. Hampir di setiap akhir pekan kami bersua, tidak ada pembicaraan. Aku bahkan tak ingat sama sekali obrolan kami, yang kutau pasti, tak ada yang menarik. Posturnya cukup tinggi, entah berapa senti dariku. Sepertinya tak terlalu jauh. Sekali mataku tertumbuk, aku langsung tertunduk. Haha, sekilas kulihat matanya yang jauh besar dari mata minimalis milikku. Setahun berlalu, tidak ada yang spesial. Sama sekali. Lalu tiba hari, kudengar ia akan merampungkan pendidikannya. Saat kakak sepupu menceritakan dengan hebohnya, aku iya iya saja. Takut disangka tak sopan hahaha. Padahal dikepalaku saat itu hanya "apa hubungannya denganku?" Wkwkwk aku sebodoamat itu hahaha. Entah ...

Tidaktau

Suatu hari dimana aku kehilangan asa. Di depan cermin, aku menatap nanar. Pemilik titipan raut muka datar, tipis senyum. Menjadi sebuah kebiasaan, sehabis ditelepon, saling tatap diri dimulai. Satu persatu kata yang dilontarkan via ujung telepon kembali membayang. Tidak frontal, tapi jelas sekali maknanya. Bibirku mulai bergetar, badan lemas, hati yang keram, mata mulai terasa panas. Dalam hati, kuberteriak. Keras. Iya, aku tahu aku jelek!!!. Air mata tak tertahan, menderas seiring teriakan dalam hati. IYA, aku tahu aku tidak punya apa-apa.. IYA, aku tahu pekerjaanku tak pantas dibanggakan. Aku gagal. IYA, aku tahu benar! Tanpa perlu diingatkan, aku sudah tahu. Tahu sekali. Sangat, sungguh sangat tahu. Selain Tuhan, aku tak punya siapapun untuk mendengar nanarku. Aku selalu berteguh untuk tidak bercerita dengan manusia, sekalipun teman. Sebab kutahu, masalah ini tak ada apa-apanya dibanding ujian orang lain. Aku hanya si pengeluh. Setiap hari kucoba menata hati. Pagi y...

Terbaik tuk pelupa

Tuhan, maaf aku pelupa. Lupa jika Teman-temanku banyak Lupa jika Keluargaku sayang Lupa bahwa nikmat-Mu tidak terkira. Maaf, Tuhan. Kadang aku membenci diriku, yang juga ciptaan-Mu. Aku bingung, dengan aku yang lain. Tiap hari kuberdoa, kadang sepenuh atau setengah hati. "Allah, tunjukkan yang tebaik" "Ya Allah, masalahku besar, tapi kuyakin Engkau Mahabesar. Maka lapangkanlah dadaku, beri sabar yang tak berujung." Sering kumerasa jatuh, menyerah, tidak punya semangat hidup. Apa yang orang sebut hati, bagiku seperti tidak berasa. Hampa. Hambar. Ya Tuhan, doaku masih sama seperti ribuan doa yang lalu. Tuntunlah aku, kuatkan batinku, juga ragaku yang kadang rapuh. Kutunggu terbaikMu.

Its ok

It's okay :') Saat memilih jadi tertutup, saat itulah aku harus siap memutar otak mengcover semua pedih. Malam ini, ibu (mama) bercerita via hp. Tentang rindu, juga pekerjaan (untukku) yang diharapkannya. Kukira aku telah berusaha, aku hanya merasa tak perlu bercerita masalah yang bisajadi menyedihkan atau memalukan. Kata perkatanya kudengar. Nadanya halus, aku datar. Lebih banyak diam. Hanya air mata yang menyeberang dagu, lalu ke lantai. Untung saja teman kosanku sedang keluar. 12 menit lamanya, kutahan sesenggukanku dengan tarikan nafas panjang. Kulap ingus dengan kain jilbab yang barusaja kulepas. Air mata kubiarkan berjatuhan. Tuhan, apa iya hidupku memang ditakdirkan seperti ini? Jika iya terimakasih. Engkau telah memilihku jadi hamba yang Engkau percaya untuk melalui ini. Aku mohon sabar, sabar, sabar, dariMu. Jelas sekali arti kata ibu. Aku merasa gagal akan semua usahaku selama ini. Semua jerih payah, letih, sakit, aku kalah. Tuhan, tidak bisakah aku ...