Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

karena kau, bangkee

Karenamu, Kutinggalkan banyak hal. Kuabaikan semua yang kiranya bisa sakiti hati. Aku yang tadinya bebas, memasung diri. Feeling sahabat memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan sebelum bertemu, kulihat pandangnya meragu. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku juga sama ragu. Hanya saja, kurayu diriku agar sedikit membuka. Masa iya, harus beku sepanjang hidup? Pikirku kala itu. Polos sekali kau bloggg bloggg Sekeras itu aku merayu diri. Bahkan coba mantapkan hati lewat malam-malam hening. Kuhela nafas, nampak tak ada jawab Tuhan. Waktu kian berganti. Sekian lama coba membuka diri, satu persatu petunjuk mulai buka mataku. Naasnya, kupilih berkeras kepala. Mengabaikan, selalu berdalih dengan ragam kemungkinan. Sibuk mungkin, tak sempat mungkin. Ternyata, Allah sudah menjawab tanyaku. Aku saja yang bandel. Kini kutahu salahku, bahwa aku tidak pernah siap untuk pilihan kedua. Aku terlalu sibuk kendalikan diri untuk pilihan pertama. Baiklah, tawakkal ku rasanya diuji kali ini. Benar saja...

moveee

Ekhm, permisi. Tukang nulis lupa diri mau lewat. Hehe. Sudah 2 bulan sejak hari itu. Kupikir hampir 3 bulan. Entahlah, mengingatnya kembali bikin otak teriak "Halaaahh lebay kali kau", hehe. Untuk kali pertama dihidupku, aku jatuh dijurang yang sebelumnya belum pernah kusentuh. Ya, bukan kali ini saja aku tenggelam. Tapi ini lebih ke beban yang merunut dan bertubi. Sebagai manusia biasa, aku lembek sendiri. Ehehe. Banyak hal yang kulalui. Ada yang bikin lelah, senang, patah, hancur, bahagia bukan kepalang, juga banyak emosi lainnya yang bahkan tak bisa kugambarkan jelas. Selayaknya manusia, aku selalu merencana yang mulus-mulus saja. Dua bulan nanti ini, setahun kemudian jadi itu. Ya, tapi memang. Banyak sekali kerikil, jurang, batu segede gaban, dan halangan-halangan lainnya. Kadang sudah jatuh ke jurang, eh dasarnya muara buaya. Habis itu, hujan batu, angin topan, kabut, badai menghempas. Hebatnya, ada saja yang bisa selamatkan. Pertolongan Allah bisa datang darimana saja. ...

kamu,

Kamu dituntut banyak hal. Selama ini, hidupmu dihabiskan hampir sendirian. Jatuh, berdarah, terluka, Kamu harus membalutnya sendiri Belajar bangkit kembali Menyusun langkah kecil Kamu bahkan tidak punya cukup waktu masa remaja Demi penuhi ekspektasi, kamu jadi pandai mengelak sana sini. Apa yang temanmu katakan tentang pubertas, kamu lewatkan. Kamu terlalu cinta keluargamu. Kamu takut kesepian. Tapi lihat, seumur hidupmu banyak sekali jurang sepi yang kamu lalui. Kamu dididik jadi kuat. Kamu dididik untuk tidak menangis. Kamu diajari bagaimana diam lebih baik. Kamu dibujuk untuk mengurung diri. Lalu kamu tumbuh jadi manusia yang tak bisa ekspresikan diri. Saat malu, kamu diam. Saat marah, kamu diam. Saat ingin peluk, kamu diam. Bahagia pun, kamu tetap diam. Banyak tanya dikepalamu, tapi kamu terlatih untuk diam. Kadang-kadang, ingin sekali kamu memberontak. Menuruti hal yang tak kamu sukai jujur memuakkan. Kamu sedang coba sedikit membahagiakan diri. Tapi orang yang kau cintai, kecewa....

(luka)

Caraku meyayangi justru membuatnya berpikir tak dihargai. Lalu pergi, tanpa aba-aba, juga permisi. Bahkan sebelum (luka) ini mengering. Secepat itu kabar menyapa. Kabar bahagia yang datang, namun yang kurasa justru kehancuran. Ya, Ia telah temukan tambatan. Dikeheningan, aku hanya bisa terdiam. Memaku sejenak pada lukis takdir yang tak pernah direncana. Kutegarkan hati mengucap doa dan selamat. Karena disetiap pertemuan, akan ada pisah di penghujungnya. Aku hanya tidak menyangka. Bahwa segalanya harus berhenti, bahkan sebelum aku mengawalinya. Tuhan adalah sebaik perencana. Entah sampai kapan hati meluka. Semoga secepatnya. Kutau waktu tak pandai membuat lupa. Harap-harap, ada bahagia yang tengah lebarkan peluknya. Aku tidak sendiri. Luka ini saja yang membutakan hati. Semoga lekas pulih.

Baru

Tuhan, tolong izinkan aku hancur malam ini. Dada rasanya sesak, berbaringpun aku tersengal. Sekeliling hanya kutatap nanar. Menerawang masa depan yang tak jelas. Aku tidak membenci. Menghapusmu dari daftar kontak semata hanya untuk mencegah lukaku kembali tumbuh. Aku hanya berupaya melindungi hati dari pedih yang pernah datang bertubi. Berharap dengan ini, waktu akan memberi izin merela. Kuikhlaskan segalanya, hanya hati belum damai sepenuhnya. Sebercanda itu kisah ini. Sampai si hati yang nyaris mati kini luluh namun lantak. Merasakan sensasi dikhianati lalu ditinggal begitu saja. Dibohongi, kemudian semua berpura tak terjadi apa-apa. Biarkan aku di sudut hening menghancur sendirian :) Aku bukan saja terluka. Aku banyak kehilangan hal. Kini, arah tujuan pun tak nampak. Rasa bersalah, sisa rasa sakit, juga kehilangan, berbaur. Menusuk. Menghambat oksigen, sampai sesak itu terdengar. Kuharap tak menembus dinding kosan. Oh iya, Kalian boleh menghubungiku kapan saja. Barangkali jika butuh...

Selamat (tinggal) 2

Lucu sekali bukan? Tempo hari, engkau yang meyakinkan. Agar setelah ini jangan ada benci, tak perlu ada caci. Agar semua ini tidak jadi sebab putusnya silaturahmi. Tapi, lihatlah hari ini? Aku bahkan harus tertampar kesekian kali. Hanya karena alasan tak enak hati, mungkin. Tidak kupasang diriku sebagai orang paling disakiti. Sebagai seorang manusia, Aku hanya ingin dimanusiakan, tidak lebih. Pun jika ini terbaik menurutmu, tak apa. Terhitung hari ini, kau telah menempuh jalan baru. Biar aku belok ke jalan yang masih abu-abu. Sekali lagi, Selamat (tinggal)

Selamat (Tinggal)

Untukmu, yang pernah mengintip Untukmu, yang pernah dinanti Untukmu, yang sudah pergi Terjawablah semua doa. Sejak hari dimana tanyamu mengagetkanku, Hari dimana aku sejenak mematung Tak hambar seperti biasa. Sungguh niat yang baik, pikirku kala itu. Namun, disisi lain Aku masih imma yang pemalu. Masih imma yang gemar keluyuran. Bahkan saat kuterima pesan pendekmu, Aku masih bertukar pesan panjang lebar dengan teman yang baru kukenal. Akrab sekali, tak habis-habis ceritaku. Bahkan kami saling tukar candaan yang terlalu akrab untuk orang yang baru berkenalan dua bulan. Pesan mengalir begitu saja. Ia bahkan tak segan menyuruhku jadi tukang galon hanya karena aku dengan terlalu santai mengangkat galon yang terisi penuh. Tak sampai situ, terlalu banyak hal yang bisa jadi bahan candaan.  Entah, lama-lama ini kurasa terlalu jauh. Kerap aku cekikikan bahkan di depan teman kamar kosan. Tak jarang ia menggodaku. Mungkin ia heran, si datar lagi ngobrol bareng siapa sampai segitunya ahaha. La...

Hari Jadi

Kutulis ini di akhir Juli Untukmu, yang membuka lebar mataku. Melangkahkan kakiku, dan bersedia jadi telingaku. Bahkan saat tidak kuucap lewat bibir, kurasa mataku sedang mencerita denganmu. Berat, memang benar katamu. Aku sedang tidak baik-baik saja. 2020 hampir terlalu berat kulalui. Jatuh, tersungkur, hilang arah. Rasanya mau hilang, atau tak usah lahir saja. Seringkali raga ini tak bisa kukendali. Hati, juga pikiran kesal sekali. Aku egois! Tapi, lagi-lagi, aku tak bisa kendalikan diri. Ada kalanya aku benar-benar ingin menyendiri. Dipeluk hening, menikmati sunyi, diselimuti gelap. Nikmat sekali, sampai aku lupa bahwa ada khawatir yang tidak kugubris. Engkau terlihat selalu berusaha menyenangkan semua orang. Semua, sampai lupa bagaimana kerasnya ruh dan ragamu bekerja. Untuk beberapa orang, kau akan terlihat sebagai sosok yang periang luar biasa. Sesekali kuperhatikan ada satu dua orang yang risih, mungkin terganggu. Ahaha. Namun bagiku, kau hanya manusia biasa yan...

Rintik di Enam Juni

Rabu sendu. Matahari di tengah pandemi masih cerah, pagi yang biasa. Kantung mata belum normal bekas sembab semalam. Entah apa yang membuatku terus berpikir, overthinking. Siapa sangka, pagi ini akan jadi salah satu hari paling kelabu. Aku bukan siapa-siapa, hanya teman dari seorang anak yang ceria. Hanya orang asing yang main nyelonong masuk rumah, buka pintu, Assalamualaikum keras-keras, lalu menyalami pemilik raut muka ceria khas keluarga. Suasana keluarga yang selama ini hanya difantasiku, tampak nyata. Ibu yang baik hati, tempat cerita dua anak laki-laki dan satu orang perempuan. Kadang ngedumel saat nasi yang dimasak tak habis. Cekikikan bercerita apa saja, akrab sekali. Anak pertama, kakak untuk dua orang adiknya. Sepintas, kace satu pendiam sekali. Sependiam itu sampai suatu hari ia joget menirukan kami yang sedang menguleni adonan donat. Kami liat-liatan, speechless, lalu terbahak lama sekali. Jika ada komando dari Ummi, sesibuk apapun ia, tidak ada kata tunda. Man...

Pernah

Hampir semua orang pernah. Pernah percaya, lalu kecewa. Pernah coba membuka hati, namun dikhianati. Pernah tulus, tapi tetiba pupus. Dan pada akhirnya, pintu itu tertutup kembali. Nanti, suatu hari. Sebagian akan kembali dengan bermain-main, sebagian lagi mengunci diri. Hakikatnya sama, kecewa. Niat menjaga hati, tapi malah disakiti.

An answer

Tanyaku telah terjawab. Malam ini, di hari jadiku yang ke 23 tahun. Bukan remaja lagi, harusnya baik usia dan jiwa, aku telah dewasa. Mengusahakan bukan jawaban atas soal perasaan. Ini lebih pada bagaimana kau dimatanya, lebih-lebih dihatinya. Tidak melulu tentang sempurna, apalagi sekadar rupa. Ini mengenai bisikan yang tak bisa diakali. Tidak membenci dan mencintai adalah dua hal yang jauh arti. Sudah cukup usaha, kau juga aku kini berada di jalan yang sama namun beda arah. Temukan bahagiamu, nyamanmu, dan kelak akan kutemui hati yang mampu mengistimewakan lebih dari ini. Maaf telah mengusik batinmu, kucoba merelakanmu perlahan. Sembari kau melupakan sisa tentangku yang memang tidak banyak.

7 juli 2020

Untuk semua kawan lamaku yang belum melupa, Lebih-lebih yang masih bertahan dan tak meninggalkan, Juga kawan baruku yang terasa seperti keluarga, Kalian istimewa, sungguh. Tidak peduli kata orang, dimataku, kalian hebat. Bisa bertahan denganku yang emosian, muka datar, kelakuan sedikit brutal, ahaha. Untuk diam yang sulit kalian paham, maafkan. Aku manusia, kadang lelah, kadang hancur. Terimakasih untuk semangat dalam segala bentuk. Benar, hidupku jadi kian mewarna. 😁

1 juli

Aku bukan tak peka. Sebaliknya, aku terlalu perasa. Perasa yang membawa kecewa. Lalu, Pada akhirnya, hampir ku mati rasa.

Luv

You have to show ure fight. Ahaha. I know, u know, every body knew. I'm not a kind human. Wkwk. An introvert, mood swinger, have a mental sick. A big reason that why many peoples cant stay. With me, with all my sicks. I try to solve my problems. With all my hopes, I pray. God, let me find my better way. Give me more patient to become a better and stronger imma. Luv

A wish

Sekarang aku 22 tahun, hampir 23. Banyak ujian yang kulalui. Ada yang kecil, juga besar. Tidak mudah, bahkan nyaris menyerah. Jika tak ingat Tuhan, andai tak ada sanak keluarga dan teman. Hal bodoh mungkin telah kulakukan. Sering aku dicap tak normal. Saking seringnya, itu jadi agak biasa ditelinga. Bahkan beberapa mengira aku takkan normal dalam waktu dekat. Haha, aku senyum. Tapi jujur sedikit takut. Memang, masa pubertas kulalui tak semengesankan kawan lain. Boleh jadi akulah satu-satunya si hambar pada masa itu. Sibukku hanya tertuju pada pertanyaan, akan jadi apa aku? Bisakah aku seperti harapan orang terdekatku? Hidup kuhabiskan dengan memikirkan orang lain. Yang kusayang, tentu. Kerap kudengar pengalaman hebat dari sisi tergelap kawanku. Satu sisi aku kagum, bagaimana mereka seberani itu. Dalam hati kudoakan, semoga jalan baik segera ditemukannya. Namun, disisi lain aku bersyukur. Untung aku tak memilih pintu yang sama. Jika iya, belum tentu aku bisa survive denga...

Tak habis

Maaf teman, kutau maksudmu baik sekali. Namun bagi mahluk sepertiku, hal demikian belum mampu kucernai. Sore tadi mendung, agak gerimis. Kucoba tidak pedulikan apa yang kau lakukan. Kutarik nafas dalam berulang, kaki kulangkahkan menjauh. Kemana saja, asal tak masuk frame video call mu. Daripada malu, aku lebih pada risih. Ketenanganku rasanya diganggu, bahkan terancam. Ya, aku agak pelik masalah ini. Kucoba mengakali, tapi akhirnya aku kalah lagi. Kunci, hp dan dompet kukantongi. Tak butuh waktu lama, langkahku panjang membelakangi. Samar kudengar teman memanggil-manggil. Kubalik badan sedikit, lalu pergi. Tidak kulirik kedua kali. Aku kesal sekali tadi. Padahal jika dipikir ini tak begitu pantas dikesali. Akh, kekanak-kanakan sekali aku ini. Dalam perjalanan, pikiranku tak habis habis. Kusesali, tapi masih tak ada niat kembali. Aku hanya tak suka dibuat risih. Maaf untuk kau yang bahkan tak tau apa-apa. Karenaku, tukar candamu jadi berakhir. Jika ini membuatmu berpikir...

Beku

Aku tengah bergelut dengan pikiranku sendiri. Aku tak mau membohongi diriku, apalagi menyakiti dirimu. Masih kucerna semua ini. Meski sebenarnya telah berlangsung lama. Bagiku, ini terlalu pelik. Aku diam bukan berarti tidak, begitupun mengiyakan. Benakku masih bertanya-tanya. Apakah kau jawaban atas doaku? Atau justru ujian keimananku? Aku tak akan membandingkanmu dengan siapapun. Kau tau? Belum pernah aku dihadapkan dengan situasi yang membuatku kalut, kecualimu. Sedang kutanya apa mau hati. Bersediakah iya mencair, atau masih ingin berkeras seperti hari ini. Jujur saja, ingin sekali aku bertanya, Kenapa aku?. Sebab kutau, kau pasti punya opsi lebih dariku. Bahkan jauh. Sayang, sampai hari ini aku masih terlalu takut. Juga ragu. Teman bertanya. Apalagi yang kau tunggu? Apa kurangnya dimatamu? Aku diam, jelas. Bertahanmu sejauh ini cukup menjadi alasan kau sedang tak main-main. Terlebih sikapku yang naudzubillahiminzalik. Maafkan aku membuatmu menunggu. Maafkan semua ketid...

Mu

Sekitar 2015 lalu, aku bertemu kenalan baru. Tidak akrab, hanya tau nama. Saat aku dan teman tertawa, ia ikut senyum. Tipis sekali tapi, aku kadang-kadang melihatnya dari ujung lihatku. Sejauh yang kuingat, kerap ia memakai kaos putih. Jujur, aku tak begitu peduli. kau tau bukan? Aku dijuluki si dingin hati. Hampir di setiap akhir pekan kami bersua, tidak ada pembicaraan. Aku bahkan tak ingat sama sekali obrolan kami, yang kutau pasti, tak ada yang menarik. Posturnya cukup tinggi, entah berapa senti dariku. Sepertinya tak terlalu jauh. Sekali mataku tertumbuk, aku langsung tertunduk. Haha, sekilas kulihat matanya yang jauh besar dari mata minimalis milikku. Setahun berlalu, tidak ada yang spesial. Sama sekali. Lalu tiba hari, kudengar ia akan merampungkan pendidikannya. Saat kakak sepupu menceritakan dengan hebohnya, aku iya iya saja. Takut disangka tak sopan hahaha. Padahal dikepalaku saat itu hanya "apa hubungannya denganku?" Wkwkwk aku sebodoamat itu hahaha. Entah ...

Tidaktau

Suatu hari dimana aku kehilangan asa. Di depan cermin, aku menatap nanar. Pemilik titipan raut muka datar, tipis senyum. Menjadi sebuah kebiasaan, sehabis ditelepon, saling tatap diri dimulai. Satu persatu kata yang dilontarkan via ujung telepon kembali membayang. Tidak frontal, tapi jelas sekali maknanya. Bibirku mulai bergetar, badan lemas, hati yang keram, mata mulai terasa panas. Dalam hati, kuberteriak. Keras. Iya, aku tahu aku jelek!!!. Air mata tak tertahan, menderas seiring teriakan dalam hati. IYA, aku tahu aku tidak punya apa-apa.. IYA, aku tahu pekerjaanku tak pantas dibanggakan. Aku gagal. IYA, aku tahu benar! Tanpa perlu diingatkan, aku sudah tahu. Tahu sekali. Sangat, sungguh sangat tahu. Selain Tuhan, aku tak punya siapapun untuk mendengar nanarku. Aku selalu berteguh untuk tidak bercerita dengan manusia, sekalipun teman. Sebab kutahu, masalah ini tak ada apa-apanya dibanding ujian orang lain. Aku hanya si pengeluh. Setiap hari kucoba menata hati. Pagi y...

Terbaik tuk pelupa

Tuhan, maaf aku pelupa. Lupa jika Teman-temanku banyak Lupa jika Keluargaku sayang Lupa bahwa nikmat-Mu tidak terkira. Maaf, Tuhan. Kadang aku membenci diriku, yang juga ciptaan-Mu. Aku bingung, dengan aku yang lain. Tiap hari kuberdoa, kadang sepenuh atau setengah hati. "Allah, tunjukkan yang tebaik" "Ya Allah, masalahku besar, tapi kuyakin Engkau Mahabesar. Maka lapangkanlah dadaku, beri sabar yang tak berujung." Sering kumerasa jatuh, menyerah, tidak punya semangat hidup. Apa yang orang sebut hati, bagiku seperti tidak berasa. Hampa. Hambar. Ya Tuhan, doaku masih sama seperti ribuan doa yang lalu. Tuntunlah aku, kuatkan batinku, juga ragaku yang kadang rapuh. Kutunggu terbaikMu.

Its ok

It's okay :') Saat memilih jadi tertutup, saat itulah aku harus siap memutar otak mengcover semua pedih. Malam ini, ibu (mama) bercerita via hp. Tentang rindu, juga pekerjaan (untukku) yang diharapkannya. Kukira aku telah berusaha, aku hanya merasa tak perlu bercerita masalah yang bisajadi menyedihkan atau memalukan. Kata perkatanya kudengar. Nadanya halus, aku datar. Lebih banyak diam. Hanya air mata yang menyeberang dagu, lalu ke lantai. Untung saja teman kosanku sedang keluar. 12 menit lamanya, kutahan sesenggukanku dengan tarikan nafas panjang. Kulap ingus dengan kain jilbab yang barusaja kulepas. Air mata kubiarkan berjatuhan. Tuhan, apa iya hidupku memang ditakdirkan seperti ini? Jika iya terimakasih. Engkau telah memilihku jadi hamba yang Engkau percaya untuk melalui ini. Aku mohon sabar, sabar, sabar, dariMu. Jelas sekali arti kata ibu. Aku merasa gagal akan semua usahaku selama ini. Semua jerih payah, letih, sakit, aku kalah. Tuhan, tidak bisakah aku ...