Maaf,
Mak, Pak, maaf ya. Aku jarang sekali menulis tentang kalian. Bukannya tidak mau, aku hanya bingung akan jadi seperti apa ungkapan terimakasihku pada kalian. Lihat aku sekarang Mak, Pak.. Sekarang aku jauh lebih cerewet bukan? Aku ingat sekali bagaimana rasanya malas bicara, entah karena takut disalip atau memang karena sedang tidak ingin boros nafas. Pernah kudengar cerita, waktu usiaku masih ngompol sana sini. Bibirku memang sedatar itu. Aku tidak sama seperti bayi-bayi lucu sepantaranku. Di sekolah, aku tidak pintar. Tapi juga tidak bego-bego amat. Aku hanya terkenal karena bagian belakang bukuku yang penuh dengan gambar imajinasi. Mak, Pak, tahu tidak? Aku pernah dituduh Ibu guru menjiplak gambar, padahal demi Allah aku menggambarnya sendiri. Aku sedih, tapi juga tidak menangis. Pernah sekali ibu guru memberi pertanyaan tak terduga, aku yang sepanjang pelajaran sibuk menggambar sana sini dengan pedenya mengacungkan jari. Aku hanya tidak tertarik berebut, karena tak ada yang...