Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Tikaku, dua

Pagi yang menyenangkan. Matahari cerah. Awan biru. Semangat baru. Setelah pulang kampung dalam waktu yang susah kuhitung (hampir sebulan), akhirnya perjalanan 150 km -an ini kembali juga. Cukup tepar karena panas, tapi setelah tidur semalaman badan lemas sudah kembali segar. Bahkan lebih segar dari hari sebelumnya. Yes! Hari ini aku ke kampus. Dengan dalih mengurus beberapa persyaratan untuk selembar kertas bebas pustaka. Salah satu syarat pengambilan ijazah. Tapi kau tahu? Sebenarnya yang membuat pagi ini menyenangkan bukan karena cuacanya sedang cerah, apalagi karena antusias mengurus surat-suratan itu. Ini lebih karena seorang teman yang menunggu di kampus. Saking semangatnya aku lupa bertanya lokasi. P P Kau dimana? Saya sudah di depan fakultas. Kataku via chat whatsapp Eh. Ngapain disitu? Gue lagi di perpus lantai 2, balasmu di menit yang sama. Oh hahaha. Okedeh. Wait me. Awas kemana-mana. Ketikku dengan semangat. Piuh... gerbang masuk perpustakaan yang sudah selevel b...

Yang berarti

Tidak banyak. Cukup bertiga. Sesekali berlima. Bukan soal ke'paling pintar'an, bukan juga ke'sangat cantik-an, apalagi masalah ke-uang-an. Tidak ada cerita satu golongan darah. Selera musik, gaya berpakaian. Bahkah jika dilihat kasat mata, ada banyak ketidakmungkinan-setidaknya menurut teman sekelas. Kalem, ceria, badas? Eh? Tidak sama. Benar-benar berbeda. Hobby? Hanya sama-sama penyuka anime. Lainnya ada banyak acara ketiduran atau ngeles nyumpal telinga. Tidak perlu berlelah untuk tampak berbeda. Jadi yang malu-maluin saja cukup. Tidak perlu capek-capek merasa 'diperbudaki' Karena semua atas dasar jalinan batin dan telepati. Apaan? Heh? Tapi iyasih. Beberapa kali, bahkan sering. Pakaian berwarna senada-biarpun bentukannya beda. Hampir tiap hari. Dan selalu jadi ajang tertawaan di pagi hari. Memuji diri atas telepati yang katanya sudah menjadi. Lalu berselfie. Yah, itulah. Meski tiga mahluk ini punya kehidupan, teman, kegiatan, yang berbeda di lu...

Dear, yang dulu buluk

Dear, teman kecil Aku harus terima kenyataan, Bahwa teman main semasa kecil kini sudah lupa cara bermain. Harus terima kenyataan, Bahwa teman kabur ke sungai sekarang ingatannya sudah mulai kabur. Ada kemakluman, Kita memang masih tinggal di kota yang sama. Menimba ilmu. Namun beberapa ada yang di kepala pulau sana. Merantau. Menjajaki tanah penuh harapan. Suatu waktu kita melepas rindu dengan kampung. Tentu rumah kalian yang letaknya hampir mengelilingi rumahku. Hanya jalan aspal dan pohon mangga yang jadi sekatnya. Sesekali kita bertatapan, lalu berpura tak saling lihat. Terkadang aku berkukuh, tapi dengan tegas kau membatu. Inginku berbagi kisah lama yang penuh lugu. Dimana kau yang lelaki dengan bangga pamer adu lompatan di dinding bedungan Lalu kami yang setengah perempuan rela hati bertepuk tangan memuji Padahal sesekali kulihat belebuk juga, haha Sekalinya hari libur, Alasan andalan yang telah dirapatkan matang-matang sehari sebelumnya yakni 'Mencuci di s...

Kekesalan Klasik

Ya, Seperti katamu, aku memang pemilih. Ya, Seperti yang kau lihat, aku memang suka menilai. Dan Ya, Aku memang tak suka yang asal. Asal kau butuh, aku ada. Asal aku butuh, kau ada. Sebenarnya, tidak sesederhana itu. Setidaknya melalui jalan pikirku. Kadang-kadang, aku suka ragu. Jikalau bertemu kamu, dan kau dengan seenak kacang mengelupasi aib temanmu-mantan, tepatnya. Beberapa waktu aku akan tampak sangat ragu. Kala engkau dengan nada tinggi menelisik apa-apa yang telah engkau beri. Sekali, dua kali. Mungkin itu dapat dimengerti. Tapi, namun, dan sepertinya Ada ketidakcocokan. Ketidakselarasan. Yang bukan masalah fisik, Lebih dari itu, kadang kurasa ada kenaifan. Aku muak dengan cerita kau yang tersakiti, atau kau yang menyakiti, atau kau adalah pesakitan yang dihianati. Dan rasa raguku semakin mengganggu. Ada pembenaran. Bersalahnya seseorang biasanya diikuti kata maaf, lalu penyesalan. Namun. Sukanya, mungkin kebiasaanmu yg tak ingin nampak salah cukup m...