Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Untuk Mamaa, yang kisahnya tak banyak kutulis

Aku tidak menulis banyak untukmu. Padahal kau punya buanyak jasa untukku. Mulai dari masa cabe sampai kau memutuskan untuk hijrah, dengan teman-teman ukhtimu yang aku tak bisa berbaur. Kecuali tanteku, Uchi. Hehe Aku ingat betul, dulu kau tinggal di asrama. Lantai 3. Sebelah kiri ada toilet umum yang tak seorang pun berani masuk sendirian. Kau tinggal bersama seorang teman dari fakultas sebelah, dia pendiam. Dan itu menguntungkan. Hahaha. Aku bisa semena-mena menguasai kamar asramamu, karena dia juga jarang pulang. Jika ada jeda kuliah, biasanya kita dengan mudahnya berjalan kaki menuju asrama. Singgah di kantin lantai satu, lalu membeli beberapa lauk. Tahu dan tempe bumbu adalah favoritku sepanjang masa. Aku tak pernah tergiur membeli ikan yang matanya melotot dan mau keluar. Ih jijik. Kita menaiki tangga asrama tanpa alas kaki, karena memang dilarang. Hehe. Kau membuka pintu, dan aku seenak kacang menghancurkan seprei dan bantal yang tadinya rapi bak disetrika. Aku merasa, b...

Tikaku, Sembilan

Heiii. Sudah cukup lama kita tak bertemu (Langsung). Lewat tulisan sih tidak. Hahaha. Aku mau membagi cerita malam ini. Barusan, aku menyelesaikan bacaan baru. Judulnya Mimpi sejuta dolar. Ditulis Alberthiene Endah, seorang jurnalis. Tapi isinya semacam autobiografi Merry Riana, seorang miliarder yang berawal dari mahasiswa kurang gizi, sepertiku. Aku tau, kau tak akan tertarik membacanya. Tapi entah mengapa aku tengah bersemangat menceritakannya untukmu. Karena biasanya kau suka itu. Total 362 halaman isinya. Cukup padat dengan font khas skripsi. Times New Rowman 12 pt. Aku mengenalinya dengan baik. Hehe. Aku agak malu mengakui, tapi aku sempat meneteskan air mata. Saat kubaca perjuangannya berjalan kaki dan menahan lapar. Sungguh, akupun mengalaminya. Dia mengaku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tetapi, untuk ukuranku dia masih jauh lebih beruntung dariku. Ayahnya Insinyur teknik. Meski akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha dengan bisnis kecil-kecilan. Bisa j...

Tikaku delapan

Leganya aku hari ini. Akhirnya dosaku padamu hari itu bisa kubayar sedikit hari ini. Jujur, aku sangat merasa bersalah padamu. Tapi apa daya, terkadang aku memang begitu. Dan terimakasih karena masih selalu bersedia menerimaku kembali. Seperti tidak terjadi apa-apa. Membuatku merasa jadi teman paling bahagia . Kau pasti mengataiku alay, aku tak peduli. Bwek. . . . Aku masih bermalas-malas pagi ini. Lelahku semalam membuat tubuhku minta waktu rehat ekstra. Kuraba sekitarku. Maklum, kamar tempatku gelap. Juga pengap. Kau tau itu. Kita tak akan bisa temukan apapun tanpa bantuan lampu. Lama kuraba sekitar, akhirnya kudapati si putih bercasing naruto. Betapa kagetnya aku mendapati pukul 09.30 dengan gagah berani terpampang nyata di layarnya. Aku menguatkan diri menuju dapur. Perutku sudah terlalu keroncongan. Betapa sedihnya aku mendapati air di galon sudah wassalam, yang artinya aku harus membuka pintu.. Memanaskan motor, membuka pagar, lalu pergi membeli segalon air. Se...

Untuk Arman, yang tiba-tiba berubah (lagi)

To arman Heh, apa maksudmu abaikan chatku hari itu?. Apa iya kau mau menghindar (Lagi)? Perkenalan kita cukup lucu, pikirku. Bagaimana tidak, caramu berkenalan sungguh out of the box. Beda dari ratusan orang yang pernah kukenal. Jika Res to the point meminta kontak Whatsapp kala itu. Kau malah mengajakku beradu debat masalah buku, buku poligami tepatnya. Ya! Poligami. Aku ingat betul. "Nah, ini buku bagus!" Kau menunjuk-nunjuk sambil berkata dengan gas dipacu. Aku lantas menoleh dan otomatis melotot. Bagaimana tidak? Kau berdiri pas di sampingku. "Ih, jellekki itu! Ganti!" Sanggahku. Padahal aku tidak tau kau, dan sebenarnya tak mau tau. Tapi kau cukup lihai menarik fokusku dari buku haji yang sekarang kutentengi. "Baguski ini, bagus" katamu. Berulang-ulang. Sambil memasang senyum paling mengejek yang pernah ada. Berulang-ulang pula kukatakan jangan, jelek, ganti. Tapi kau malah lebih bersemangat mencari buku lain dengan judul serupa. Aku mulai j...

Tikaku empat

Aku menulis ini untuk jaga-jaga. Untukmu, dan keluargamu yang kusayang. Hei! Sekarang kau sudah tahu bukan? Bahwa sekarang aku tak lebih dari anak cengeng yang kesepian. Kalau belum, sini kuberitahu. Karena tulisan kemarin memang bukan untukmu, tapi untuk orang yang sudah pergi. Maaf yah, jika akhir-akhir ini aku kurang menyenangkan. Mataku bisa tiba-tiba bengkak, menghitam dikantungnya. Aku tak yakin jika kau tak curiga. Kau hanya terlalu "sudahlah" untuk itu. Aku tau. Mungkin juga kau tidak menyadarinya, karena yang kau tau sepekan ini aku memang sibuk. Ya! Mungkin ini lebih tepat. Sebab kau adalah makhluk Tuhan paling toleran yang pernah kukenal. Sampai masalah hati pun iya juga. Hari ini kau bercerita. Kau bermimpi, dengan orang yang pernah dua kali kutemui. Meski samar, sangat samar. Jujur aku tak suka. Kau tau kan? Aku tak suka kau tersiksa. Tapi disatu sisi aku juga paham. Bahwa masalah hati memang tak mudah dipecahkan. Aku pun mengalami, meski maaf ...

Untuk dia yang menghilang

Aku rindu. Memang tengah merindu. Setelah pergimu, aku baru sadar. Bahwa kuatku memang karenamu. Engkau tega, meninggalkanku tanpa ada harapan untuk kembali. Dan aku hanya bisa menangis. Kau tau? Sekarang aku tak lagi jadi perempuan setangguh dulu. Kini aku tak lebih dari seekor burung yang kehilangan sebelah sayapnya. Atau banteng tanpa tanduknya. Badanku sekarang tak sekebal dulu. Aku bingung, badanku merapuh. Terkadang semuanya terasa menyakitkan. Salahnya aku ketika mencoba cari peduli. Dan semua nampak lebih hambar dan gelap. Maafkan aku. Sekarang aku lebih sering buang-buang air mata. Bukan karena menonton sesuatu. Aku menangis lebih karena sadar bahwa aku tak punya tempat mengadu. Padahal aku sendiri manusia biasa. Aku capek, juga lelah. Dahiku terasa panas, juga tanganku. Kakiku kadang-kadang dingin. Kepalaku sering tak terkendali. Apalagi perut yang sekarang sudah menembus punggung. Bernafas pun kadang terasa sakit. Saat aku kecil, akupun sering merasakan ...

Tikaku tiga

Sekarang kita ditinggal mamaa. Jauh. Di seberang pulau. Mungkin besok atau lusa, jika Tuhan mengizinkan. Waktu akan pertemukan kita kembali. Seperti dulu, empat tahun lalu saat kita benar tak saling tau. Kau anggap aku perempuan sinis seperti kebanyakan orang menilaiku. Dan aku bahkan tak mau tau namamu yang duduk dibelakang bangkuku. Ya, aku memang seperti itu. Hari itu, kau berdalih meminjam buku. Dengan orang yang hari ini kita sebut mamaa dengan kacamata kotaknya. Kau beberapakali kuingat tersenyum dan sesekali bingung. Untuk pertama kali, kau lihat senyumku-itupun kalau tidak GR. Hehe. Kau mungkin baru tau, kalau mamaa yang kita kenal sekarang memang teman satu SMP ku. Tapi asal kau tau, kenalku dulu dengan kenal kita sekarang sangat jauh berbeda. Dulu mamaa berteman dengan perkumpulan buruh ranking, sementara aku adalah buruh organisasi yang namanya beruntung masuk deretan kelas unggulan. Yang kuingat darinya hanya tukang nulis di papan tulis-karena tulisannya memang ra...

Untitled

Ketika kita sibuk memoles rumah dengan warna cat baru.. Saudara kita justru tengah mengais-ngais di puing reruntuhan rumah mereka. Ketika kita merasa kacau menunggu lampu lalu lintas yang tak kunjung hijau di jalan pulang.. Saudara kita justru coba sibukkan diri melupakan maghrib yang tak ingin mereka ingati. Saat kita kesal karena anak-anak begitu melelahkan hari ini.. Saudara kita justru tak mau putus harapan menjemput anak-anaknya yang sudah tertimbun puing dan lumpur. Jika hari ini kita mengeluh karena Ibu hanya sediakan lauk tempe dan tahu.. Bagaimana saudara kita yang ingin beras pun harus berebut.. . . . Tuhan Ada.. Tuhan sayang.. Tuhan sedang rindu saudara kita yang di Sigi, Donggala, dan Palu. Semoga mereka diberi sabar dan ketabahan yang berlapis. Mengikhlaskan kepergian sanak keluarga yang hampir tak terhitung. Semoga Tuhan mengampuni segala khilaf yang diperbuat di masa hidup. Pertanyaan hari ini adalah, Siapkah kita membantu? Siapkah kita meringankan beb...
Ahad, 14 Oktober 2018 Sudah dua pekan sejak jerit tangis ketakutan melengking disana sini. Kala gulungan ombak membabi buta porandakan bangunan, manusia, pohon dan apapun yang tersentuh olehnya. Kabar yang merobek hati siapa saja yang mendengarnya. Ini adalah panggilan hati, tidak bisa dijelaskan dengan apapun. Saya hanya merasa tak bisa berdiam diri menatap layar televisi bergambar kehancuran sisa gempa dan tsunami. Terlebih tatapan kosong nan nanar dari korban yang bingung mencari anak, istri dan suami. Kukira perih hati di depan televisi kemarin akan terobati saat tiba di bandar udara sis al jufri kota Palu. Salah, salah besar. Dari jendela bundar hercules saya hampir ternganga, mendapati daratan yang hancur tak berbentuk. Menyisakan pepohonan yang tumbang dan terbungkus lumpur. Miris, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Sisanya seperti kota mati dan tak berpenghuni. Begitu keluar dan mengeluarkan logistik dari badan tambun hercules, pemandangan nampak lebih s...

Pembaktian

Kami bahkan belum saling kenal. Baru satu atau dua yang namanya sering terdengar. Salah satunya namaku, tepatnya kembaran namaku. Dan itu membuat risih sekali. Berjalan di terik langit kota Palu yang capai empat puluh derajat. Tentu kami kelemar sana sini. Mengeluh kepanasan, namun membungkusnya dengan canda. Sekali lagi, kami tak kenal. Wajahpun masih samar-samar. Seperti yang biasa kulakukan. Ketika mereka coba mencanda dan tak masuk diakalku, cuekan adalah hadiahnya. Kalau beruntung, mereka akan terima tatapan penuh cintaku yang kuyakin tak akan ada yang mau. Menyusuri rumah terpal warga yang didindingi seprei seadanya. Bayi, anak, orang tua dan lansia bersama. Saling menguatkan di sisa trauma bekas bencana sepekan kemarin. Beberapa kami temukan tak fit. Tentu dengan keluhan sakit demam atau diare. Kalau kau melihat kondisinya langsung, kau tak akan heran. Sebab tenda dengan angin yang bebas kesana kemari sudah jadi tersangka utama. Satu anak yang terluka di kepala ditin...

Catatan seorang relawan

Ahad, 08/10/2018 Sudah hari ke 8 pasca gempa hebat ditambah tsunami dahsyat melanda kota Palu dan sekitarnya. Jika televisi menayangkan kondusifnya kota Palu, hal demikian nampak tak serasi dengan yang kupandangi hari ini. Seorang Ibu yang tak sempat kutanyakan namanya tengah berdiri, menatap kosong ke arah puing-puing yang disinyalir milik keluarganya. Meski sudah tergeser amat jauh (sekitar 300 meter), keyakinannya tetap teguh. Beliau mulai bercerita, kala rumah dan isinya terombang ambing gerakan buas tanah yang tadinya baik-baik saja. "Tidak ada tanda apa-apa. Tanah langsung berguncang hebat, bergeser, terbelah, berputar, lalu ambruk tak karuan" katanya. Matanya mulai berair kala menceritakan kedua anaknya yang sedang lucu-lucunya. "Ini anak saya, masih lucu-lucunya", Ujarnya sembari memperlihatkan gambar kenangan anaknya yang terlihat bahagia. Satunya terlihat gembul, yang lainnya nampak manis dengan senyumnya yang merekah. "Saya rasa mau gila sudah...

Calon Relawan

Ini bukan saatnya saling menyalahkan. Penjarahan dimana-mana. Kalau bukan karena kelaparan maka karena apalah? Bandar udara kota Palu kini penuh sesak. Dijejali warga dari penjuru Indonesia. Bahkan dunia. Mengeluh, meraung, ingin segera meninggalkan tanah yang kini luluh lantak tersapu ombak dan terguncang amukan bumi. Hercules yang hanya beberapa mulai lelah dan kebingungan. Sementara para relawan yang rela pertaruhkan nyawa, tinggalkan sanak saudara, korbankan urusan pribadinya, justru tertahan karena amuk warga yang terus ingin disegerakan. Lalu kembali berdesak meminta pulang. Masih dengan berebut kursi di selang waktu yang tak seberapa. Ketahuilah, kami tak datang untuk berfoto lantas dibagikan di dunia maya. Ini hanya panggilan hati yang merasa perih mendapati gambar di layar persegi yang nampak porak poranda. Kami hanya tidak bisa diam saja melihat materi yang tidak menyanggupi. Kami datang, melebarkan pelukan. Membiarkan yang ketakutan mendapat sedikit kehangatan, lalu...

Tikaku, dua

Pagi yang menyenangkan. Matahari cerah. Awan biru. Semangat baru. Setelah pulang kampung dalam waktu yang susah kuhitung (hampir sebulan), akhirnya perjalanan 150 km -an ini kembali juga. Cukup tepar karena panas, tapi setelah tidur semalaman badan lemas sudah kembali segar. Bahkan lebih segar dari hari sebelumnya. Yes! Hari ini aku ke kampus. Dengan dalih mengurus beberapa persyaratan untuk selembar kertas bebas pustaka. Salah satu syarat pengambilan ijazah. Tapi kau tahu? Sebenarnya yang membuat pagi ini menyenangkan bukan karena cuacanya sedang cerah, apalagi karena antusias mengurus surat-suratan itu. Ini lebih karena seorang teman yang menunggu di kampus. Saking semangatnya aku lupa bertanya lokasi. P P Kau dimana? Saya sudah di depan fakultas. Kataku via chat whatsapp Eh. Ngapain disitu? Gue lagi di perpus lantai 2, balasmu di menit yang sama. Oh hahaha. Okedeh. Wait me. Awas kemana-mana. Ketikku dengan semangat. Piuh... gerbang masuk perpustakaan yang sudah selevel b...

Yang berarti

Tidak banyak. Cukup bertiga. Sesekali berlima. Bukan soal ke'paling pintar'an, bukan juga ke'sangat cantik-an, apalagi masalah ke-uang-an. Tidak ada cerita satu golongan darah. Selera musik, gaya berpakaian. Bahkah jika dilihat kasat mata, ada banyak ketidakmungkinan-setidaknya menurut teman sekelas. Kalem, ceria, badas? Eh? Tidak sama. Benar-benar berbeda. Hobby? Hanya sama-sama penyuka anime. Lainnya ada banyak acara ketiduran atau ngeles nyumpal telinga. Tidak perlu berlelah untuk tampak berbeda. Jadi yang malu-maluin saja cukup. Tidak perlu capek-capek merasa 'diperbudaki' Karena semua atas dasar jalinan batin dan telepati. Apaan? Heh? Tapi iyasih. Beberapa kali, bahkan sering. Pakaian berwarna senada-biarpun bentukannya beda. Hampir tiap hari. Dan selalu jadi ajang tertawaan di pagi hari. Memuji diri atas telepati yang katanya sudah menjadi. Lalu berselfie. Yah, itulah. Meski tiga mahluk ini punya kehidupan, teman, kegiatan, yang berbeda di lu...

Dear, yang dulu buluk

Dear, teman kecil Aku harus terima kenyataan, Bahwa teman main semasa kecil kini sudah lupa cara bermain. Harus terima kenyataan, Bahwa teman kabur ke sungai sekarang ingatannya sudah mulai kabur. Ada kemakluman, Kita memang masih tinggal di kota yang sama. Menimba ilmu. Namun beberapa ada yang di kepala pulau sana. Merantau. Menjajaki tanah penuh harapan. Suatu waktu kita melepas rindu dengan kampung. Tentu rumah kalian yang letaknya hampir mengelilingi rumahku. Hanya jalan aspal dan pohon mangga yang jadi sekatnya. Sesekali kita bertatapan, lalu berpura tak saling lihat. Terkadang aku berkukuh, tapi dengan tegas kau membatu. Inginku berbagi kisah lama yang penuh lugu. Dimana kau yang lelaki dengan bangga pamer adu lompatan di dinding bedungan Lalu kami yang setengah perempuan rela hati bertepuk tangan memuji Padahal sesekali kulihat belebuk juga, haha Sekalinya hari libur, Alasan andalan yang telah dirapatkan matang-matang sehari sebelumnya yakni 'Mencuci di s...

Kekesalan Klasik

Ya, Seperti katamu, aku memang pemilih. Ya, Seperti yang kau lihat, aku memang suka menilai. Dan Ya, Aku memang tak suka yang asal. Asal kau butuh, aku ada. Asal aku butuh, kau ada. Sebenarnya, tidak sesederhana itu. Setidaknya melalui jalan pikirku. Kadang-kadang, aku suka ragu. Jikalau bertemu kamu, dan kau dengan seenak kacang mengelupasi aib temanmu-mantan, tepatnya. Beberapa waktu aku akan tampak sangat ragu. Kala engkau dengan nada tinggi menelisik apa-apa yang telah engkau beri. Sekali, dua kali. Mungkin itu dapat dimengerti. Tapi, namun, dan sepertinya Ada ketidakcocokan. Ketidakselarasan. Yang bukan masalah fisik, Lebih dari itu, kadang kurasa ada kenaifan. Aku muak dengan cerita kau yang tersakiti, atau kau yang menyakiti, atau kau adalah pesakitan yang dihianati. Dan rasa raguku semakin mengganggu. Ada pembenaran. Bersalahnya seseorang biasanya diikuti kata maaf, lalu penyesalan. Namun. Sukanya, mungkin kebiasaanmu yg tak ingin nampak salah cukup m...