Ahad, 14 Oktober 2018
Sudah dua pekan sejak jerit tangis ketakutan melengking disana sini. Kala gulungan ombak membabi buta porandakan bangunan, manusia, pohon dan apapun yang tersentuh olehnya. Kabar yang merobek hati siapa saja yang mendengarnya.
Ini adalah panggilan hati, tidak bisa dijelaskan dengan apapun.
Saya hanya merasa tak bisa berdiam diri menatap layar televisi bergambar kehancuran sisa gempa dan tsunami.
Terlebih tatapan kosong nan nanar dari korban yang bingung mencari anak, istri dan suami.
Kukira perih hati di depan televisi kemarin akan terobati saat tiba di bandar udara sis al jufri kota Palu.
Salah, salah besar.
Dari jendela bundar hercules saya hampir ternganga, mendapati daratan yang hancur tak berbentuk. Menyisakan pepohonan yang tumbang dan terbungkus lumpur.
Miris, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Sisanya seperti kota mati dan tak berpenghuni.
Begitu keluar dan mengeluarkan logistik dari badan tambun hercules, pemandangan nampak lebih sedih.
Ratusan pengungsi yang hendak tinggalkan kota yang selama ini ditempati nampak berebut, tekadnya bulat.
Balita dalam gendongan menangis, kakaknya yang sedang digenggam hanya menatap bapak-bapak TNI yang berusaha mengatur barisan para korban.
Semua wajah nampak sama. Ingin pergi. Ingin tinggalkan duka dan ketakutan.
Ingin menjauh dari khawatir yang tiap detik menyusup.
Komentar
Posting Komentar