Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

To be continued (baca di akhir).

Ini akan jadi tulisan terakhir untuk season ini. Belum kutau, apa aku akan melanjutkan atau menyudahinya saja. Tadinya aku berpikir memberimu di hari ulang tahun atau apakah.. Lalu aku kembali berpikir, ini jadi hadiah wisudamu saja. Karena aku tak memberimu apa-apa di hari itu. Hehe Terlebih kutau bahwa akhir-akhir ini kita sudah jarang bertemu, dan aku jadi kurang bahan bercerita. Aku tak mau menodai tulisan untukmu lebih banyak lagi, hahaha. Kau pasti menyadarinya juga bukan? Di akhir-akhir konten tikaku, malah banyak menceritakan diriku sendiri. Karenanya, lebih baik kusudahi saja. Siapa tahu, nanti kita kerja di tempat yang sama. Jadi aku bisa menuliskan hal-hal baru tentangmu. Ini mungkin terlihat sederhana, hanya tulisan yang berentet panjang. Entah apa kau betah membacanya atau tidak. Aku tidak tau. Kutulis ini sebagai terima kasihku telah menjadi temanku yang sudah tidak bisa lagi kugambarkan (alay). Tapi Memang. Juga bentuk maafku yang selama ini menutup rapat ban...

Untuk tobi, yang hobbynya cengenges sana sini

Berusia lebih muda hanya setahun lebih beberapa hari dariku, tapi jika dilihat lagi, ia tak begitu jauh beda dari adik yang kuperkenalkan lebih dulu. Si keriwil bolla' Akram. Perangainya lugu. Kesan pertamaku padanya agak lucu, kasian, sangat kasian. Haha. Biar kudeskripsikan sedikit. Tingginya 150-an. Kira-kira 158 lah. Yang jelas aku lebih tinggi darinya. Kulitnya sedikit lebih gelap dari Akram yang memang cerah. Tobi punya tahi lalat di sekitar hidung. Kalau kata dia, "Saya tidak gantengka kak, tapi maniska" Betapa pede adik satu ini. Hahahaha. Aku mah iya iya saja. Apa sudah kuceritakan? Kala aku marah dan mendiami mereka? Ini terjadi dua kali. Pertama kalinya, mereka berdua bungkam. Tidak berani menyapa, mungkin karena mukaku sudah mendingin dan kaku. Lalu berusaha kumulai percakapan, Tobi cukup santai menanggapi. Meski diiringi keluhan karena katanya tidak "kujampangi" kemarin. Lama kelamaan, dia mulai berani. Merecoki, juga meminta sana sini. Sa...

Pisah😊

Riak angin menerpa lembut, terasa sejuk. Matahari sedang bermalasan, awan lebih pekat dari biasanya. Masih teringat benar peristiwa seminggu lalu. Saat gema azan maghrib sudah pada penghujungnya, malam mulai menyapa. Tetiba debaman keras menghentak, menyisakan kehancuran dipenjuru ruang. Untuk suatu alasan, kepanikan tak mendera. Ada tenang yang memeluk lembut. Berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Tak pernah kuduga bahwa peristiwa di ujung hari itu akan jadi biang. Kisah pertemanan yang belum berapa lama rasanya kini telah di ambang kelumpuhan. Kadang-kadang hati bergejolak Apa iya Tuhan akan mengambilnya (lagi)? Bukan kepulangan, ini lebih pada keterpisahan. Lalu aku kembali pendiam, larut dalam luka yang sedari lama kubawa. Mungkin inilah yang terbaik. Lelahku memang sudah di ujung tanduk. Tapi, lagi-lagi kehilangan adalah cara paling menyiksa yang diujikan Tuhan padaku. Aku tak pernah siap, tidak pernah. Egoisku harus kubunuh. Sampai berapa lama lagi aku "...

Tikaku, 18

Kejadian luar biasa menimpaku hari ini. Tika, kupikir kita tidak akan bertemu lagi. Jum'at, 15 September 2019 Seharian aku hanya terbaring lemas. Badanku tidak merasa sakit, tapi karena suatu alasan aku tidak bisa banyak bergerak. Dari semalam perasaanku tak enak, badanku juga terasa lelah. Kupaksa badanku bangkit. Memasak bubur sebagai rayuan untuk lambungku yang ngambek tak mau diasupi. Pelan-pelan kusuapi diriku dengan hati was-was. Jangan sampai muntah, jangan sampai mubazir... Setelah makan, kubaringkan lagi badanku yang mulai oleng. Kutarik selimut merahku menutupi sebagian besar badan. Mata kupejamkan, tapi tak mau terlelap. Suara rekan yang waktu lalu kuantar ke bandara membuat mataku mengerjap. "Kak... sakitka..", kataku parau. Ia langsung memeriksa suhu tubuhku dengan meletakkan tangannya ke pipi dan dahiku. "Panas sekali badanta", katanya. Oleh-oleh khas yang ia bawa kusantap dengan lahap. Lalu berbaring sejenak. Takut oleng. Cukup lama...

Tikaku, lima belas

Hola! March is coming! Februari kemarin aku dibully habis-habisan masalah jodoh bla bla bla. Telingaku panas, bibirku cemberut, tapi justru itu yang mereka tunggu. Kampret! "Nanti saya yang maing gendang!" "Saya cetak undangan!" "Saya sponsor ayam 500 ekor!" Woiii woiii what's wrong with u are!! Kenapa ngasengko njo! Padahal aku masih tertua keempat dan termuda ketiga. Tapi entah kenapa aku jadi sasaran empuk bagi mereka. Mungkin karena ekspresiku yang sebentar-sebentar cemberut, sebentar-sebentar marah, lalu tertawa. Sial! Mereka makin puas. Bahkan salah satunya sibuk menjodoh-jodohkan. Aku merengut, pilihannya terlalu mustahil. Lalu kutangkis semua dengan alasan demi alasan. Ya belum siap lah, belum bisa rajin mandi, bangun pagi, dan bla bla bla Ajaibnya mereka selalu punya stok peluru yang siap mengalahkan balik semua alasan yang kubuat. Biasanya aku hanya menghela nafas, lalu menyerah. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Oiya, aku...

Tikaku, enam belas

"Ayo pi karebosi!", katamu tiba-tiba. "AYOOOOOO", aku girang dengan nada teriak yang melengking. Kalau kau mengenalku dengan baik, pasti telingamu sudah siap sedia disumpali. Hahaha. Kemarin aku datang ke rumahmu, kuakui aku agak kurang berenergi. Malamnya mataku dipaksa begadang oleh bocah-bocah kampret. Sudah 3 malam ini aku sulit tidur, jika azan subuh berkumandang, barulah mata ini berhenti mengelak. Seperti biasa aku tak pernah sungkan mengeluh didepanmu. Rasanya selalu melegakan. Kau pendongeng yang luar biasa. Mulai dari kenyataan sampai mimpi-mimpimu selalu kusambut dengan takjub dan mata berbinar-binar. Disamping itu, kau adalah pendengar terhebat yang pernah kukenal. Mendengar segala rengekan, celoteh, amukan sampai keluhan dan menimpanya dengan kalimat yang selalu memberiku rasa lega. Tidak terdengar menggurui. Tidak juga mengompori. Semacam penerimaan dengan bumbu orasi. Hahaha. Paansi Seperti biasa, rencana jalan-jalan tidak pernah berjalan ...

Tikaku, 17

Hei Maaf, malam ini aku sedang tidak karuan. Hari ini terlalu panjang kulalui. Aku marah, lalu menyesal (lagi). Untuk orang yang kusayangi, belum sepertimu. Tapi belakangan mereka yang jadi penyemangat di hari-hari bosanku. Aku pernah bercerita, kesan awalku pada mereka agak buruk. Terlambat, terlambat lagi dan terlambat terus. Jujur, ini agak menyebalkan. Kita sama-sama tau bahwa kedisiplinan waktu adalah mutlak. Barisan para mantan, eh maksudnya bangku depan selalu jadi wilayah teritorial kita. "Kaka imma, makanka dulu di", suara kekanakan akram meluruhkan semua kata yang sudah kutata. Aku lagi-lagi tak tega. "Oiya makanmo pale dulu", kataku diiringi harapan paling lama 30 menit mereka sudah disini. Lalu jam dengan teraturnya berputar, melintasi garis-garis pemisah menit. Bahkan sudah melewati dua angka. Aku mulai sesak napas a.k.a keringat dingin. "Manami karyawanmu? Jam berapami ini? Menumpuk sekalimi", pengawas bertubuh pendek berkaos mera...

Untuk akram, si bolla yang mungkin tak pernah kuperlihatkan padanya, haha

Selasa, 19 Maret 2019. Tengah malam, kutulis sambil ngechat dengan orangnya. . . Terdengar biasa di telinga orang lain. Tertawa, lalu saling peduli. Entahlah, dimataku hal ini cukup luar biasa. Si keriwil bermata besar tapi dengan badan yang mungil. Orang bilang dia anak nakal, bandel, juga tak beretika. Entah bagaimana cara pandang orang itu. Karena yang kutau, dia hanya adik kecil yang sedikit salah bergaul. Kesan pertamamu padanya mungkin sama seperti kebanyakan orang lain menilainya. Perokok berat, peminum, mantan anak tawuran, gurunya diajak bolos dan celakanya mau -_- Tapi, jika kau bisa melihatnya dari sisi lain, dia akan terlihat seperti anak yang sopan. Kalau kau bersedia sekali lagi memerhatikan, dia boleh dikata penyayang. Apalagi untuk urusan teman. Aku bangga mengatakannya, karena belakangan dia jadi salah satu teman tergila. Raut mukanya selalu nampak ceria. Sekalinya kudapati marah, merindinglah bulu roma. Dari sana aku bertekad, aku takkan pernah cari gara...