Untuk akram, si bolla yang mungkin tak pernah kuperlihatkan padanya, haha

Selasa, 19 Maret 2019.
Tengah malam, kutulis sambil ngechat dengan orangnya.

.
.

Terdengar biasa di telinga orang lain.
Tertawa, lalu saling peduli. Entahlah, dimataku hal ini cukup luar biasa.

Si keriwil bermata besar tapi dengan badan yang mungil.
Orang bilang dia anak nakal, bandel, juga tak beretika.
Entah bagaimana cara pandang orang itu. Karena yang kutau, dia hanya adik kecil yang sedikit salah bergaul.

Kesan pertamamu padanya mungkin sama seperti kebanyakan orang lain menilainya.
Perokok berat, peminum, mantan anak tawuran, gurunya diajak bolos dan celakanya mau -_-

Tapi, jika kau bisa melihatnya dari sisi lain, dia akan terlihat seperti anak yang sopan.
Kalau kau bersedia sekali lagi memerhatikan, dia boleh dikata penyayang. Apalagi untuk urusan teman.
Aku bangga mengatakannya, karena belakangan dia jadi salah satu teman tergila.

Raut mukanya selalu nampak ceria. Sekalinya kudapati marah, merindinglah bulu roma. Dari sana aku bertekad, aku takkan pernah cari gara-gara. Hahaha.

Tiap hari yang dikeluhkan hanya satu.
Katanya dia tak pernah benar dimataku, selalu salah. Akram salah, imma benar (kau tak bisa bayangkan bagaimana puasku menang), Lalu aku kembali terpingkal.

Sekalinya mengadu sakit, aku lagi-lagi hanya bisa tertawa. Entahlah, segala mimik mukanya jadi nampak menggelikan.
Maafkan aku yang tidak peka ya. Haha.

Garis senyumnya tidak pernah lekang, padahal belum tentu dia tak ada masalah.
Di hari saat aku diambang kematian, kudapati raut wajahnya yang berbeda.
Sungguh berbeda dari biasanya.
Ada khawatir berbalut sendu mata dan bibirnya yang nampak pucat, akh aku tak akan lupa.

Waktu lalu dia berpamit, melalui bantuan aplikasi. Pantas seharian jadi pendiam, kupikir sedang butuh waktu berdamai dengan diri. Ternyata ada maksud yang tak bisa ia ucapkan lewat bibir.
Jujur aku sedih, juga terharu.

Belum pernah dalam hidupku ada orang yang sampai pucat mencari keberadaanku. Mungkin ini momennya, tapi aku betul-betul menghargai.
Selama ini, baru satu orang yang dengan polosnya takut diabaikan selepas pamit. Karena biasanya, akulah orang paling penakut itu.

Tapi... (biar kuganti dia dengan kau, akram)

Lalu tiba-tiba kau berubah.
Diam. Bungkam.

Bisa kubaca dari tatapanmu bahwa kau tengah menanggung beban. Tidak kutau pasti, ini hanya intuisi dari orang yang menganggapmu adik.
Maafkan aku yang tidak pernah tau cara menghadapinya. Kau tau kan? Aku memang tidak peka.

Aku merasa gagal dalam segala hal.
Setelah kalah dari usahaku mengembalikan ceriamu, malam ini malah kudapati kau keluar dari grup yang kubuat.

Kau lancang, menjatuhkan air mataku begitu saja.

Mungkin kau mesti tau, aku tak sekuat yang kau pikir.
Kau mungkin tak pernah membayangkan bagaimana khawatirku saat kau dipanggil bos tak berperasaan yang menyebalkan.
Senyumku malam itu sungguh telah kubangun dengan susah payah.

Belakangan ini pikiran burukku selalu menghantu, aku terlalu takut untuk hal yang mungkin tak kau peduli.
Tidak siang, tidak malam.

Harusnya aku tau hari ini akan datang juga. Entah sudah dari kapan aku mulai bersiap. Toh nyatanya aku belum siap juga. Aku mulai cengeng, lagi-lagi.

Aku hanya merasa sedih saat kau terasa pergi, jauh.
Kemarin aku bahkan serasa tidak mengenalmu lagi. Tidak bisa kutemukan senyum, lebih-lebih tawamu.
Kurasa kau mulai asing. Bahkan sebelum waktu mengikisnya.

Meski begitu, janjiku untuk tidak melupakanmu sudah kutanam dalam benak.

Tentu saja aku tak akan lupa, tidak akan. Percayalah!

Kalau kau mendapatiku bodoh mengabaikanmu esok hari, tampar saja aku. Lalu perlihatkan tulisan ini.

Pintaku hanya satu, kalaupun kau menamparku, raut mukamu jangan dibuat marah ya. Kakakmu takut. Hehe.

Adik kecil nakal tapi berhati besar, Enggol, Jel, Akram

Mungkin kau tengah bertikai dengan dirimu, aku tak peduli.

Yang kutau, kau adikku. Dan akan selalu seperti itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger