Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Untuk Mamaa, yang kisahnya tak banyak kutulis

Aku tidak menulis banyak untukmu. Padahal kau punya buanyak jasa untukku. Mulai dari masa cabe sampai kau memutuskan untuk hijrah, dengan teman-teman ukhtimu yang aku tak bisa berbaur. Kecuali tanteku, Uchi. Hehe Aku ingat betul, dulu kau tinggal di asrama. Lantai 3. Sebelah kiri ada toilet umum yang tak seorang pun berani masuk sendirian. Kau tinggal bersama seorang teman dari fakultas sebelah, dia pendiam. Dan itu menguntungkan. Hahaha. Aku bisa semena-mena menguasai kamar asramamu, karena dia juga jarang pulang. Jika ada jeda kuliah, biasanya kita dengan mudahnya berjalan kaki menuju asrama. Singgah di kantin lantai satu, lalu membeli beberapa lauk. Tahu dan tempe bumbu adalah favoritku sepanjang masa. Aku tak pernah tergiur membeli ikan yang matanya melotot dan mau keluar. Ih jijik. Kita menaiki tangga asrama tanpa alas kaki, karena memang dilarang. Hehe. Kau membuka pintu, dan aku seenak kacang menghancurkan seprei dan bantal yang tadinya rapi bak disetrika. Aku merasa, b...

Tikaku, Sembilan

Heiii. Sudah cukup lama kita tak bertemu (Langsung). Lewat tulisan sih tidak. Hahaha. Aku mau membagi cerita malam ini. Barusan, aku menyelesaikan bacaan baru. Judulnya Mimpi sejuta dolar. Ditulis Alberthiene Endah, seorang jurnalis. Tapi isinya semacam autobiografi Merry Riana, seorang miliarder yang berawal dari mahasiswa kurang gizi, sepertiku. Aku tau, kau tak akan tertarik membacanya. Tapi entah mengapa aku tengah bersemangat menceritakannya untukmu. Karena biasanya kau suka itu. Total 362 halaman isinya. Cukup padat dengan font khas skripsi. Times New Rowman 12 pt. Aku mengenalinya dengan baik. Hehe. Aku agak malu mengakui, tapi aku sempat meneteskan air mata. Saat kubaca perjuangannya berjalan kaki dan menahan lapar. Sungguh, akupun mengalaminya. Dia mengaku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tetapi, untuk ukuranku dia masih jauh lebih beruntung dariku. Ayahnya Insinyur teknik. Meski akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha dengan bisnis kecil-kecilan. Bisa j...

Tikaku delapan

Leganya aku hari ini. Akhirnya dosaku padamu hari itu bisa kubayar sedikit hari ini. Jujur, aku sangat merasa bersalah padamu. Tapi apa daya, terkadang aku memang begitu. Dan terimakasih karena masih selalu bersedia menerimaku kembali. Seperti tidak terjadi apa-apa. Membuatku merasa jadi teman paling bahagia . Kau pasti mengataiku alay, aku tak peduli. Bwek. . . . Aku masih bermalas-malas pagi ini. Lelahku semalam membuat tubuhku minta waktu rehat ekstra. Kuraba sekitarku. Maklum, kamar tempatku gelap. Juga pengap. Kau tau itu. Kita tak akan bisa temukan apapun tanpa bantuan lampu. Lama kuraba sekitar, akhirnya kudapati si putih bercasing naruto. Betapa kagetnya aku mendapati pukul 09.30 dengan gagah berani terpampang nyata di layarnya. Aku menguatkan diri menuju dapur. Perutku sudah terlalu keroncongan. Betapa sedihnya aku mendapati air di galon sudah wassalam, yang artinya aku harus membuka pintu.. Memanaskan motor, membuka pagar, lalu pergi membeli segalon air. Se...

Untuk Arman, yang tiba-tiba berubah (lagi)

To arman Heh, apa maksudmu abaikan chatku hari itu?. Apa iya kau mau menghindar (Lagi)? Perkenalan kita cukup lucu, pikirku. Bagaimana tidak, caramu berkenalan sungguh out of the box. Beda dari ratusan orang yang pernah kukenal. Jika Res to the point meminta kontak Whatsapp kala itu. Kau malah mengajakku beradu debat masalah buku, buku poligami tepatnya. Ya! Poligami. Aku ingat betul. "Nah, ini buku bagus!" Kau menunjuk-nunjuk sambil berkata dengan gas dipacu. Aku lantas menoleh dan otomatis melotot. Bagaimana tidak? Kau berdiri pas di sampingku. "Ih, jellekki itu! Ganti!" Sanggahku. Padahal aku tidak tau kau, dan sebenarnya tak mau tau. Tapi kau cukup lihai menarik fokusku dari buku haji yang sekarang kutentengi. "Baguski ini, bagus" katamu. Berulang-ulang. Sambil memasang senyum paling mengejek yang pernah ada. Berulang-ulang pula kukatakan jangan, jelek, ganti. Tapi kau malah lebih bersemangat mencari buku lain dengan judul serupa. Aku mulai j...