Untuk Mamaa, yang kisahnya tak banyak kutulis
Aku tidak menulis banyak untukmu. Padahal kau punya buanyak jasa untukku. Mulai dari masa cabe sampai kau memutuskan untuk hijrah, dengan teman-teman ukhtimu yang aku tak bisa berbaur. Kecuali tanteku, Uchi. Hehe Aku ingat betul, dulu kau tinggal di asrama. Lantai 3. Sebelah kiri ada toilet umum yang tak seorang pun berani masuk sendirian. Kau tinggal bersama seorang teman dari fakultas sebelah, dia pendiam. Dan itu menguntungkan. Hahaha. Aku bisa semena-mena menguasai kamar asramamu, karena dia juga jarang pulang. Jika ada jeda kuliah, biasanya kita dengan mudahnya berjalan kaki menuju asrama. Singgah di kantin lantai satu, lalu membeli beberapa lauk. Tahu dan tempe bumbu adalah favoritku sepanjang masa. Aku tak pernah tergiur membeli ikan yang matanya melotot dan mau keluar. Ih jijik. Kita menaiki tangga asrama tanpa alas kaki, karena memang dilarang. Hehe. Kau membuka pintu, dan aku seenak kacang menghancurkan seprei dan bantal yang tadinya rapi bak disetrika. Aku merasa, b...