Untuk Mamaa, yang kisahnya tak banyak kutulis
Aku tidak menulis banyak untukmu.
Padahal kau punya buanyak jasa untukku.
Mulai dari masa cabe sampai kau memutuskan untuk hijrah, dengan teman-teman ukhtimu yang aku tak bisa berbaur. Kecuali tanteku, Uchi. Hehe
Aku ingat betul, dulu kau tinggal di asrama. Lantai 3. Sebelah kiri ada toilet umum yang tak seorang pun berani masuk sendirian. Kau tinggal bersama seorang teman dari fakultas sebelah, dia pendiam. Dan itu menguntungkan. Hahaha.
Aku bisa semena-mena menguasai kamar asramamu, karena dia juga jarang pulang.
Jika ada jeda kuliah, biasanya kita dengan mudahnya berjalan kaki menuju asrama. Singgah di kantin lantai satu, lalu membeli beberapa lauk.
Tahu dan tempe bumbu adalah favoritku sepanjang masa. Aku tak pernah tergiur membeli ikan yang matanya melotot dan mau keluar. Ih jijik.
Kita menaiki tangga asrama tanpa alas kaki, karena memang dilarang. Hehe.
Kau membuka pintu, dan aku seenak kacang menghancurkan seprei dan bantal yang tadinya rapi bak disetrika.
Aku merasa, bahwa kau dan aku bagai air dan api. Tentu saja aku apinya. Hahaha.
Pembawaanmu memang sudah seperti itu dari zaman bahula. Ya! Kita sempat sekelas jaman putih biru. Namun aku tak mengenalmu dengan baik seperti sekarang. Yang kutau hanyalah tulisanmu bagus dan kau selalu jadi asisten guru menulis di papan tulis.
Dulu, aku sama sekali tak tertarik berteman denganmu. Apalagi temanmu yang lain.
Aku benar-benar tidak tertarik untuk saling "lambung" hanya karena peringkat tertinggi.
Ya! Aku memang belajar, berharap nilai baik. Tapi itu bukan untuk kesenanganku. Itu hanya bentuk baktiku kepada ibu dan bapakku karena sudah rela menyekolahkanku.
Dari dulu, Kehidupanku memang bukan di bangku dan meja.
Aku tak pernah betah duduk lama-lama memelototi papan.
Tapi jika urusan tenda dan lapangan, seminggu tak mandi pun tidak jadi soal. Hahaha.
Sungguh berbeda denganmu yang selalu tampak bersih dan rapi.
Aku lebih suka berpakaian sekenanya.
Kalau bukan karena ibuku yang ceramah tiap hari, sepatuku tak akan kucuci. Hehe.
Sekali lagi, aku tak mengenalmu dulu.
Bahkan keluargamu yang ternyata di tanah rantau pun aku tak tau.
Tuhan, Allah swt. Memang Mahabaik.
Dengan segala keputusasaan yang ada waktu dinyatakan tak lulus tes SBMPTN di kampus lain, aku sejujurnya tak berharap lulus di kampus yang tadinya kupikir "mengerikan"
Pikiranku yang tadinya liberal tak pernah menyangka, bahwa akan datang hari dimana aku harus mengenakan rok dan baju yang super sopan. Dengan kos kaki yang tak boleh dilupa (meski sampai sekarang aku masih suka nakal menanggalkannya, hehew).
Yang paling mengagetkan untukku adalah ketika melihat kartu rencana studi yang mewajibkanku belajar hal-hal yang tak pernah kusentuh sebelumnya.
Ilmu Aqidah
Ilmu Alquran
Ilmu Hadis
Ilmu Dakwah
Ilmu Fikih
.
Alamak. Mampuslah aku
Tulang punggungku terasa melemah begitu saja.
Namun apa yang terjadi?
Sekalinya aku coba belajar dan menghayati.
Aku sadar, bahwa Tuhan tengah membimbingku keluar dari zona yang kuimpikan.
Jeans, baju kaos oblong dengan kemeja, rambut ikat ke belakang..
Alangkah celakanya aku jika saja aku tak diluluskan di kampus yang penuh orang-orang hebat sebagai pengajarnya.
Bonusnya adalah ketika aku digembleng untuk tak terlalu pemalu. Meski harus kuakui, organisasiku lah yang punya kontribusi paling besar dalam membesarkan hatiku berbicara dihadapan orang banyak.
Aku bersyukur pada Tuhan, bahwa kita diperkenankan untuk berteman, yang seterusnya menjadi keluarga baru yang menyenangkan.
Aku selalu ingat dan bergidik sendiri.
Ketika kita dengan stamina yang sangat luar biasa berjalan kaki dengan santainya mengelilingi fakultas, gedung CBT, atm, toko royal, penjual jilbab on the street..
Jaraknya kalau dihitung-hitung bisa 2-3 km. Kuat sekali kita yah. Hahaha.
Kalau sekarang mah, naik ke lantai dua saja sudah sesak napas. Lantai tiga lutut sudah bergetar. Inikah yang namanya pengaruh umur?? Omegat.
Kita berjalan dan berjalan, sampai lupa hari mulai gelap.
Astagaa disitu aku benar-benar sadar betapa beruntungnya aku berteman denganmu.
Aku jadi tak kesepian. Aku bebas bercerewet apa saja, kau selalu menghadiahiku dengan jilbab yang senada denganmu. Dan aku selalu memakainya hingga kini.
Aku menyukainya.
Tak terhitung barang pemberian darimu. Mulai dari gantungan, jilbab, pakaian...
Aku menyimpannya dengan baik.
Kaos biruku saja yang sudah direbut adikku si curut secara diam-diam.
Aku mau kesal, tapi dia tampak sangat menyukainya. Jadi aku biarkan saja.
Toh, dia adikku kok. Mwehehe. Peace..
Heii mamaa
Apa kau tau??
Betapa kesepiannya aku di masa-masa awal kuliah.
Menunggumu tiba adalah hal paling menyedihkan untukku.
Aku suka menamatkan game ku berkali-kali. Atau mengenakan earphone ku yang sekarang sudah raib.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggumu di kursi paling depan. Meski aku tak menyukainya, aku tetap disana karena kau ada dengan matamu yang bertambah dua.
Aku kesepian, sampai aku mengenal arman yang kemudian mendiamiku tanpa kutau alasannya. Menyebalkan! Untung ada Tika, si petasan.
Kalau kuhitung-hitung dari kecil, mungkin pertemanan kita dengan Tika-lah yang berlangsung paling awet.
Tidak ada masalah yang muluk-muluk.
Sekali-kali nampak kulihat kau kesal dan tak berselera bermain denganku.
Biasanya aku dengan hati yang patah harus kembali ke kamar kos dan memaksa mata untuk tidur. Berharap esok hari kau akan kembali seperti semula.
Seperti yang kuduga, kau tak bisa marah lama-lama. Lucunya akupun demikian.
Tak terhitung berapakali aku badmood tak karuan tapi hilang begitu saja setelah 15 menitan. Lalu kita kembali menertawakan apa saja yang bisa ditertawai. Sekalipun itu tak lucu, kalau sudah bertiga rasanya teman yang menggeser duduknya pun juga punya nilai lucu. kita memang sedikit aneh HAHAHA
Tak sedikit yang meragukan pertemanan kita. Sekalinya aku duduk di barisan belakang, aku pasti diberondongi pertanyaan apa kita bertengkar lah, marahan lah. Apalah...
Seperti biasa, kujawab dengan ketus dan seperlunya.
Nanti saja mereka lihat, ketika kita kumpul bertiga sekali-kali berlima lalu guling-guling menahan ketawa.
Sesekali kulihat mereka melihat-lihat dan lanjut berbisik. Dan kita dengan bodo amatnya mengabaikan siapapun yang juga merasakan hal yang sama. KITA ANEH! Hahaha
Naluri buruh rankingmu di bangku SMP samasekali tak kulihat dimasa kuliah.
Bahkan aku yang pemalas bernilai tidak jauh berbeda. Terlebih saat kita dengan berat hati meninggalkan Tika dengan kesibukan organisasi kita masing-masing.
Kau di Lembaga Dakwahmu, dan aku sibuk membentuk otot di Taekwondo-ku.
Aku tak pernah membiarkanmu ikut menonton pertandinganku.
Aku malu jika harus terkena di wajah dan kau melihatnya. Nanti kau tidak tega. Hahaha.
Memasuki semester berat lambat laun mengikis kebersamaan kita.
Aku sedang asik-asiknya menikmati duniaku di PKM sana. Kurasa kau juga demikian.
Bedanya, aku memilih keluar saat idealismeku sudah diambang batas.
Aku benci politik, dan jika itu harus ada. Maka aku lebih memilih pergi.
Sedih rasanya kehilangan "rumah"
Aku benar-benar kehilangan semua itu begitu saja. Aku mau mengutuk semua oknum itu, tapi aku berpikir kembali.
Mungkin ini cara Tuhan menyampaikan doa keluargaku agar lekas menyelesaikan kuliahku. Dan itu benar terjadi.
Scene paling menyesakkan adalah kita mengenakan toga bersama, sementara Tika belum bisa.
Aku tak pernah begitu antusias saat acara demi acara dihelat.
Semua terasa hambar saja. Tidak ada yang istimewa.
Sangat menyedihkan mengingat kita juga Ridwan dan Arman harus lebih dulu beranjak dari status mahasiswa.
Aku sedih, saat Tika tidak datang di hari yudisiumku. Lebih sedih lagi saat kutau bahwa dia sedang sakit. Aku semakin mau nangis.
Mau bilang aku cengeng maa? Kan anak bungsu memang begituu. Mwehehe.
Dia kakak yang kampret.
Sok sok menghilang. Telponku tak diangkat, sms ku tak dibalas (padahal terkirim). Apa dia tidak mengasihani adiknya yang krisis pulsa ini? Pikirku.
Maka kita memaksa datang tanpa bilang-bilang. HAHAHA. Kita dengan bingungnya mau bawa tentengan apa.
Kita tak mau beli makanan sehat, karena kita tau, dia tidak akan mau meliriknya, apalagi memakannya.
Maka jadilah cheetos dan reenbe plus buavita dan susu yang jadi oleh-oleh.
Penegasan bahwa kita aneh semakin meyakinkan.
Orang sakit.. dibawain kerupuk. Hahaha.
.
.
.
Aku mau bertanya.
Kenapa disaat kita semakin akrab justru jarak malah memisahkan?
Rasanya begitu menyenangkan saat kita berlima dengan somplaknya di studio foto. Aku sibuk merecoki kucing gendut dan memaksanya berfoto.
Kalian menertawaiku.
Bukannya memasang pose imut, si kucing malah klemar-klemar mau jauh-jauh dariku.
Mungkin dia kaget.
"Ada apa ini?? Kenapa anak TK raksasa disini?? Tolongg tolongg"
Kucing yang malang. Hahaha
Aku semakin kagum.
Saat melihat hasil foto dan menyadari bahwa pakaian kita senada. Biru, hitam, abu-abu.
Warna favoritku dan tampaknya kita semua.
Dengan posisi jongkok yang membuat fotografernya balik badan saking tidak tahannya melihat sekumpulan anak 20 tahunan yang tingkahnya seperti anak TK. Aku ketawa, kita semua nampak bahagia.
Tidak terasa.
Hari dimana kau akan pergi datang juga.
Jujur, aku tak siap.
Melepasmu di bandara seperti dengan sengaja membiarkan satu bagian pentingku pergi.
Kau tau?
Sepanjang jalan pulang aku dan Tika yang biasanya heboh seperti diikuti awan hitam.
Kita diam, hanya berbicara seperlunya.
Aku rasa dia juga sedang sedih. Sepertiku.
.
.
Sampai sekarang,
Jika aku, anak bungsumu paling imut ini melewati lorong menuju kosanmu selalu ada rasa ingin berhenti melepas penat.
Baru kemudian mulai sadar, kau sudah jauh di pulau seberang.
Saat aku terkunci pintu (akibat numpang) aku harus tidur di depan pintu karena kantuk yang tak mampu lagi kutahan.
Berandai-andai, jika mamaa ada aku pasti tidur di kosnya.
Paling menyedihkan adalah ketika Tika ujian dan kau tak ada.
Arman hilang lagi mamaa. Dan alasannya tidak kumengerti. Aku mau memarahi, tapi dia juga menghindar dariku.
Hanya Ridwan, si cantik yang membuatku selalu merasa gagal yang setia duduk menunggu bersamaku sampai Tika mengenakan selempang tanda berhasilnya.
Aku terharu, kurasa menangis tak perlu.
Kami berfoto dan kembali berandai bahwa andaikan kau disini. Membawa selempangmu dan kita berfoto dengan formasi lengkap. Ahh senangnya jika itu nyata.
Tapi meskipun begitu, meski kau jauh, rasanya sosokmu masih selalu ada.
Dikala senang, apalagi susah.
Kau selalu rela diberondongi banyak hal.
Selalu seperti itu.
Terimakasih telah menjadi teman, telinga, pendongeng, dan pastinya mamaa di tengah-tengah jiwa labil kami. Hehe.
Ailapyu
Wilapyuu
Komentar
Posting Komentar