Untuk Arman, yang tiba-tiba berubah (lagi)

To arman

Heh, apa maksudmu abaikan chatku hari itu?. Apa iya kau mau menghindar (Lagi)?

Perkenalan kita cukup lucu, pikirku.
Bagaimana tidak, caramu berkenalan sungguh out of the box. Beda dari ratusan orang yang pernah kukenal.

Jika Res to the point meminta kontak Whatsapp kala itu.
Kau malah mengajakku beradu debat masalah buku, buku poligami tepatnya.
Ya! Poligami. Aku ingat betul.

"Nah, ini buku bagus!" Kau menunjuk-nunjuk sambil berkata dengan gas dipacu. Aku lantas menoleh dan otomatis melotot. Bagaimana tidak? Kau berdiri pas di sampingku.

"Ih, jellekki itu! Ganti!" Sanggahku. Padahal aku tidak tau kau, dan sebenarnya tak mau tau. Tapi kau cukup lihai menarik fokusku dari buku haji yang sekarang kutentengi.

"Baguski ini, bagus" katamu. Berulang-ulang. Sambil memasang senyum paling mengejek yang pernah ada.

Berulang-ulang pula kukatakan jangan, jelek, ganti. Tapi kau malah lebih bersemangat mencari buku lain dengan judul serupa. Aku mulai jengkel, tapi kau tak ada tanda-tanda akan menyerah. Sampai bel tanda istirahat pun, kau masih bersemangat memaksaku melihat aneka warna buku yang bertema senada itu.

Semenjak hari itu, kau jadi biang keladi baru. Tiap hari merecokiku dengan apa saja yang bisa jadi bahan recokan.
Celakanya aku tak bisa menyangkal, bahwa itu cukup menyenangkan. Kampret!

Aku duduk di bangku paling depan. Selalu. Bersama orang yang kini kuanggap Mamaa.
Sambil menunggunya, aku hanya memainkan hp kecil samsungku. Bermain game, atau mengobrak-abrik sosial media yang kupunya.
Karena selalu datang sangat awal, biasanya belum seorangpun yang ada di kelas. Dan aku tak peduli.

Aku tidak pernah peduli siapa saja yang masuk atau keluar dari ruang kelas. Tidak penting dan samasekali bukan urusanku.
Kecuali kau, yang selalu menyapa. Atau jika sedang berani pasti datang menghampiri. Lalu memulai cerita lagi. Apasaja, termasuk poligami -_-

Lalu kita semakin sering bicara karena kau tau aku suka naruto. Dan kau begitu congkak karena sudah menontonnya hingga episode akhir.
Kau merundungiku dengan berbagai pertanyaan..
Siapa yang membunuh guru jiraiya
Siapa nama lengkap tsunade
Kapan hyuga neiji mati
Dan banyak sebagainya..

Aku hanya bisa menggeleng lantas cemberut. Karena sebagian besarnya aku tak tahu. Lalu kau tertawa senang, puas, merasa menang. Aku hanya bisa melihatmu dengan tatapan iri dan dengki.

Kau tau kenapa aku tak bisa jawab? Karena hari itu aku tak punya netbook ataupun laptop.
Aku menyukai naruto dari tayangan televisi yang scene nya banyak terpotong sensor. Menyebalkan.

Kau juga penyuka anime, sepertiku.
Laptopmu selalu jadi bahan serangan flashdisk ku dan si Tika. Atau kalau kau sedang malas, maka flashdisk ku yang kau bawa pulang.
Menyuguhkanku dengan aneka judul yang tidak kumengerti. Lalu aku menyerahkan padamu yang mana saja pilihanmu. Asal seru. Itu saja.

Kau memang agak langka. Kita sama-sama masuk ke komunitas yang sama, juga di bidang serupa.
Kau tau? Beberapa temanku sempat naksir padamu, hihi.
Aku bingung. Mereka naksir dari segi mananya?. Hahaha.

Seorang teman kelas juga pernah menudingku. Hanya karena kita pernah pulang bersama (padahal kau menurunkanku di pinggir jalan).
Katanya dia cemburu, dan dengan bangga aku bilang. Si Arman itu sudah punya pacar, aku diantar hanya setengah jalan. Tapi dia tak mau tau, dan aku tak mau peduli. Seperti biasa.

Kau memang bisa diandalkan (sekali-kali).

Hari itu, kita pergi dengan ranselmu di depan. Maaf, aku memang terlalu lebar jika harus disandingkan dengan ransel besarmu. Semua yang terjadi biasa saja. Bercerita, teriak-teriak melawan angin.
Bahkan sampai pulang pun, kau masih normal. Menanyaiku kenapa tak makan lantas kujawab ada adikku di rumah.

Menjelang pulang, wajah tidak enakmu mulai muncul. Katamu kau tak bisa mengantarku, biar seorang teman lain yang antarkanku. Aku iya saja. Itu normal sekali. Karena kau memang tinggal jauh dari tempat tinggalku waktu itu.
Lalu aku pulang, tidur. Dan pagi lagi.

Pagi yang datar. Setelah bersiap, aku lalu berjalan kaki menuju kampus. Menaiki puluhan anak tangga, karena sesuai jadwal ruangan kelas pagi itu di lantai 3.
Aku duduk di kursi depan (lagi). Bermain hp seperti biasa, menunggu Mamaa datang.

Satu yang janggal pagi itu adalah kau. Kau datang, kalau tidak salah ketiga setelah aku dan teman lain.
Tak seperti biasa kau berlalu begitu saja, tanpa tegur dan juga sapa. Bahkan melirik pun tidak.

Aku menoleh sebentar, kulihat kau menghadap jendela. Lalu menunduk lantas memainkan game kesukaan.
Aku memicing sedikit. Tapi biarlah. Mungkin kau sedang tidak mood hari ini.

Berhari-hari kemudian kau masih sama aneh. Tiba-tiba pendiam. Melebihiku. Dan itu sangat amat aneh. Pikirku.

Lalu suatu hari kudapati kau bercanda bersama Mamaa dan Tika. Seperti biasa aku turut nimbrung saja. Kurang beruntung sekali, ternyata kau sama sekali tak menghiraukan keberadaanku.
Aku kehilangan sesuatu.

Kau tidak bisa bayangkan. Bagaimana perasaanku setiap pagi kau datang tapi seolah tak melihatku. Atau jika kau lebih dulu datang, kau pura-pura tak melihatku.
Aku hanya bisa menghela nafas. Berharap kau segera baikan dan berubah.

Aku tak pernah berani menanyaimu apa salahku. Kau tau kan? Aku manusia pasif paling tidak enakan di dunia.
Aku hanya berbagi cerita dengan Mamaa dan Tika. Itupun berhari-hari kemudian. Lalu mereka tampak prihatin. Kularang mereka menanyaimu.
Aku hanya yakin, kau pasti akan berubah suatu saat nanti.

Seminggu dua minggu berlalu, aku mulai terbiasa tanpa recokanmu.
Lalu keajaiban terjadi. Di depan ruang kelas, aku, Tika, Mamaa, Kau dan seorang teman berdiri membicarakan sesuatu.
Aku juga sudah lupa tentang apakah itu.

Aku tak bicara apapun. Aku hanya tak bisa lepas dari dua orang teman yang kuanggap saudara itu. Aku diam. Apalagi menyadari kehadiranmu yang masih tak peduli denganku.

"Kalau kau iya imma?" Aku melotot. Suara cemprengmu untuk pertama kali setelah waktu yang cukup lama kudengar, dan itu ditujukan untukku. Sesaat aku mematung, sedikit tidak percaya.

"Hah? Iyo" hanya itu yang kuingat. Otakku kaget, apalagi jantung. Ada hidayah apa kau hari ini.

Hari demi hari berlalu. Kau kembali. Kau seperti arman yang kukenal dulu. Hanya saja, jarak denganmu agak kujaga.
Aku takut kau menghindar lagi.

Lama waktu berlalu..
Dan yang kutakutkan akhirnya terjadi (lagi).
Jujur, aku kecewa (sekali).

Jika kau tak datang di hari pentingku, mungkin bisa kuterima. Tapi kali ini, kau tak datang di hari penting sahabatku, yang juga sahabatmu. Bahkan tiga kali. Dan aku jujur sangat kecewa. Sedikit jengkel juga.

Kau tau kan? Aku sisa berdua tanpa Mamaa. Kita yang tadinya berlima hari ini sisa bertiga. Dengan Rid disampingku. Menunggu di depan ruang ujian, berharap kau juga datang.

Masih teringat jelas kala kita berlima dengan hebohnya berpose di depan kamera. Membuat sang fotografer terpingkal dengan tingkah kita semua.

Lalu beberapa hari kemudian kau tiba-tiba berubah (lagi).

Dan kami tak tahu menahu alasannya.

Kau bahkan tak mau membalas rentetan chatku.

Aku menerka, kenapa kau tak datang?.
Karena aku tau, kau tak akan begini tanpa alasan kuat.
Bisa kau bayangkan bagaimana sedihku melihat kakakku sedih, karena kau tak ada.

Kau hanya mengirim pesan singkat. Apa ujianmu lancar hari ini?. Lepas dibalas, lalu kau hanya membaca saja.
Ini lebih menjengkelkan dari apapun.
Aku mau memarahimu, tapi kau juga menghidariku.

Entah sampai kapan lagi kau akan begini.
Apa masih ada peluang kau kembali atau tidak. Aku tak tahu.

Kurasa ada semacam penghalang dan entah apa.
Kuharap, kau memikirkan kembali apa yang menjadi penghalang itu.
Kau temanku, juga sahabat temanku.
Dan hal ini tentu membuat sedih. Aku yakin. Siapapun yang mengalami.
Apalagi kami yang begitu sukar diajak berakrab.

Terimakasih karena telah menjadi teman yang baik. Tapi kuharap kau meminta maaf atas ketidakhadiranmu hari itu.
Aku hanya tak mau ada bombe diantara kita semua. Itu saja.

Kami selalu bangga padamu.
Karena bagaimana pun, kami tau bahwa ada hati yang kau jaga. Kami tak masalah.

Aku hanya merasa ada yang salah ketika kau tiba-tiba menghilang. Tanpa alasan. Lebih tepatnya tanpa ada penjelasan.

- muka dingin otomatis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger