Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

gabut

Kamu terlampau berlebihan. Bagimu istimewa, banginya hal lumrah. Kerap kau anggap luar biasa, padahal itu tak lebih dari rasa tidak tega, mungkin kasihan. Bangun, hei. Hahaha

random

Kupikir, titik terendah itu hanya datang sekali. Tadinya, diotakku hanya ada plan A sampai Z yang sudah terbaris rapih. Sampai akhirnya, waktu menjawab Jatuh dititik yang kupikir rendah nyatanya belum cukup dalam. Saat merasakan sakit yang terlampau bertubi kupikir akan segera mati, hahaha. Nyatanya, aku masih disini. Jantungku masih berdegup, hidungku masih kembang kempis wkwkwk. Apakah mudah? O tentu tidak fergusoo. Kadang, harus kugigit bibir atau tangan untuk alihkan sesak. Tidak baik, tapi itu membantu. Harusnya aku sudah tau, akan ada banyak hal yang tidak sesuai dengan anganku. Bodohnya, harap itu tetap ada. Kecil memang, tapi masih disana. Menyedihkan rasanya diumur yang harusnya mulai mapan, justru terkatung. Walau demikian, aku harus tetap bersyukur. Badanku masih cukup sehat untuk diajak banting tulang, wkwkwk. Aku banyak kehilangan banyak hal. Tidak untuk diratapi, namun bisajadi bahan ajar diri. Salah satu paling kuhindari tapi terjadi... Pertikaian dengan teman, walau akh...

a dream

Bisakah kutemukan tempat yang kumau? Malam hari, bisa kulihat bintang-bintang Anginnya sejuk, bulan setengah terang. Menyeruput es kopi, tertegun pada awan dan langit. Bisakah kudiberi 3 hari? Pada subuh yang tenang, bisa kulihat langit yang merah muda. Sejuk, ayam mulai bersahutan. Berdiri dan mendongak, nikmati pagi yang berembun halus. Adakah waktu aku bisa menyendiri? Siang hari mungkin bisa makan nasi goreng dan tahu rebus. Sambil menonton anime yang sudah tertinggal jauh. Kumimpikan diriku duduk dihamparan rumput. Mematung pada awan dan matahari yang sudah diujung ufuk. Burung-burung menyanyi, sungai dikejauhan terdengar mengalun murni. Lalu berjalan, pulang. Kembali menikmati malam yang sunyi. Ditemani eskopi. Kucingku yang lapar menangis dikeset, aku terlalu lama diatas bukit. Kupeluk mereka satu persatu, meminta maaf dan berterimakasih. Aku hanya belum bisa membayangkan. Adakah kehidupan yang lebih indah dari ini?