Postingan

:)

kenapa? kamu melihatku juga dengan pikiran yang sama ya? keras kepala egois pemarah banyak diam kadang oversharing itu benar. seperti yang dikatakan banyak orang. ya, semua itu benar. tapi, apa pernah terlintas dipikiranmu, bagaimana aku bisa jadi seperti itu? atau, pernahkah ada yang bertanya. adakah hal yang kukorbankan sehingga energi untuk hidupku justru nyaris terkuras habis? hampir tidak ada yang menyadari, mungkin. berapa banyak kebutuhanku yang tak kupenuhi demi hal penting lainnya yang mestinya bukan kewajibanku. tentang berapa lama kukumpulkan sedikit demi sedikit rupiah untuk melepas rasa inginku pada sesuatu. walau pada akhirnya harus kurelakan pada hal yang lagi-lagi sebetulnya bukan tanggunganku. lalu, berapa banyak kesalahan yang kusimpan dalam diam dan berusaha sabar saat coba menyampaikan hal yang selalu diabaikan. tapi, justru aku yang salah karena tidak bisa menyampaikannya dengan baik lagi. aku sudah kepalang muak, tapi tetap aku penjahatnya. berkali-kali aku dikira...

hi!

Belakangan aku sadar, ternyata di dunia ini lagi-lagi harus kulalui seorang diri. Saat teman-teman merasa kesulitan, beberapa dari mereka akan meminta pertolongan dariku. Tentu aku tak ragu membantu sebisaku. Sayangnya, saat aku yang butuh, berkali-kali hanya bisa menarik nafas panjang lalu berusaha selesaikannya sendirian (lagi). Terlihat begitu kuat ya? Sampai-sampai dikira tidak perlu pertolongan? Hmm nasibb nasibb Padahal, tidak mengeluh bukan berarti tidak butuh. Aku memang selalu bisa melaluinya, tapi bukan berarti jalanku tak ada badainya. Kutemui kesulitan meminta pertolongan, jadi saat aku memintanya, sudah pasti aku dalam masalah yang besar. Namun, yaa dibanding didengarkan, aku jauh lebih sering diabaikan. Seperti biasa, aku selalu dianggap akan baik-baik saja. Semakin lama, kurasa tubuhku semakin rapuh saja. Bisajadi, akan berakhir segera. Tak apa, aku tetap bangga jika tak perlu mengakhirinya sendiri.

-7

Tersisa tujuh hari, sebelum aku benar-benar akan melangkah jauh.  Meninggalkan tempat paling nyaman yang pernah kutemui. Walau berakhir tidak baik, tempat itu akan tetap ada sebagai tanda bahwa hati ini pernah tulus, raga ini pernah bahagia, hati ini pernah percaya akan cinta dan ketulusan. Sebelum akhirnya sirna dan berganti trauma yang tak pernah kuduga akan datang dari orang yang pernah paling kupercaya. Sudah hampir tiga bulan lamanya. Tiap malam kepikiran, bertanya-tanya dalam kepala salahnya dimana. Bergelut dengan akal bolehkah kuberi kesempatan sekali lagi? Akhirnya, malam yang kunanti kembali. Tidurku mulai nyenyak setelah tiga bulan. Melihatmu sekali lagi walau hanya dalam gambar sudah tak menyulut amarah. Mengingatmu pergi dengan pilihanmu pun, aku sudah tak masalah. Pergulatan akal dan hati yang sungguh tidak bisa dibilang mudah. Bisa kah kau pikir? Bagaimana kerasnya aku menahan diri untuk mencarimu saat aku benar-benar rindu kala itu. Bahkan jadi jauh lebih berat saat...

Perjalanan Mengikhlaskan

Aku tau ini tidak akan pernah mudah. Melupakan, mengikhlaskan, orang yang tadinya paling kubutuhkan setiap harinya. Memastikanku baik-baik saja tiap hari. Memastikannya sampai ditujuan dengan selamat. Memastikan aku yang sering sekali lupa makan. Memastikannya tidak masuk angin karena tau betapa mudahnya ia sakit karenanya. Tidak pernah kukira, bahwa akhirnya bisa sekacau ini. Aku yang terbiasa tak pernah melewatkan hari tanpamu, secara tiba-tiba berubah. Siapa sangka, yang terjadi bukan seperti pikirku yang mengira kamu diam karena sedang tertekan dengan keadaan. Nyatanya, saat aku tiap malam menangis bertanya-tanya dikepala, kamu sedang berbagi tawa dengan perempuan lain yang sampai hari ini tak pernah kau jelaskan siapa dia. Disaat aku khawatir dan mencoba memberanikan diri tanyakan kabarmu pada orang terdekatmu, kamu sudah berani bertukar akun sosmed. Bahkan saat kutemukan akunnya, ternyata temanmu yang akrab denganku juga followersnya. Lagi-lagi, harus kuterima bahwa sepertinya du...

let u

Aku ingin meminta maaf atas doa-doa buruk yang kuucap. Pada sujudku dimalam hari yang sesenggukan hadapi kenyataan bahwa berubahmu selama ini bukan tanpa alasan. Untuk segala sumpah serapah pada beberapa teman dan sahabatku, mengutuk perlakuanmu padaku. Karena kenyataannya, aku tidak pernah benar-benar bisa membenci orang yang kusayangi bahkan dititik terendah dan kondisi paling buruknya. Nyatanya, aku tak pernah setega itu berharap hancurmu. Aku sadar, pergimu dengannya pasti juga karenaku. Apa iya aku seburuk itu? Lama sekali kenangan diawal kita bertemu, saat kau begitu gigih padaku yang sejujurnya saat itu sedang krisis percaya pada laki-laki terdahulu, bagaimana kamu yang sabar tenangkan aku yang kerap dilanda bom perasaan ingin mati. hehe. Semuanya berputar dikepala, tentang wajah khawatirmu saat menjemputku waktu tabrakan dengan orang mabuk, lalu raut wajahmu berubah marah ingin mencari orang itu tapi aku bilang tidak perlu, seketika wajahmu tenang kembali. Saat pulang, kau mena...

its done, lets reply all memories

Siapa sangka, kini, berakhir. Senyum manis yang selalu kunanti. mata berbinar yang menenangkan. Nada lembut yang selalu menyadarkan akan rasa sabar. Peluk hangat selepas hari yang melelahkan. Seberat apapun cobaan, lebur seketika dengan gelak tawa. Juga air mata yang tak malu mengalir deras dalam dekap. Makan sederhana saat susah, lalu berbagi jajan kala ada. Telusuri jalan panjang, berbagi cerita bahagia, juga betapa berat keadaan. Berat rasanya kuceritakan, namun kisah ini patut kuabadikan. Tentu saja dalam bingkai kalimat, karena sekarang aku bukanlah pemilik senyum itu. Anak laki-laki pertama yang menyadarkan aku bahwa perasaan tulus itu ada. Nyata. Mungkin tak akan kutuliskan sekarang juga, lagi pula air mataku masih tak terkendali saat kuingat bagaimana saat bersamanya aku tak merasa sendirian. Bahwa tak apa sesekali menjadi lemah. Tentang dia yang melihatku sebagai seorang anak perempuan. Aku janji, akan kutulis satu persatu 465 hari bersama orang yang kupercaya pernah menyayang...

p

nanti, suatu hari, kalau kau temukan aku sudah tak bisa tersenyum dan menangis lagi. saat itu pasti aku sudah terlampau lelah setelah mencoba berbagai cara temukan alasan bagaimana agar tetap bernafas. saat itu tiba, tak sedikit pun niatku meninggalkan kalian. aku hanya tidak merasa mampu lagi menanggung perasaan kehilangan, sakit dan kehampaan. sekarang, aku sudah tidak berani berharap apa-apa. kujalani hari-hari sebisaku. mencoba terlihat tak apa-apa tiap waktu. berusaha tidak menuntut bahkan pada orang yang saat ini kusayang. sebenarnya, waktu aku kau lihat baik-baik saja dan tidak mempermasalahkan hal yang biasa membuatku kesal, aku sedang dalam keadaan tidak baik saja. pikiran ingin hilang dari semesta ini mulai meracau lagi. bersamanya, harusnya aku tidak kesepian lagi. kebanyakan teman bahkan menyalahkanku ketika bercerita sedikit kekesalanku. hmm, sebenarnya aku paham. tapi, apa ada tersisa satu orang yang mengkhawatirkan perasaanku? manusia yang terlihat semangat bekerja dan m...