Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Ridwan

Untuk Ridwan, Temanku yang selalu membuatku merasa gagal Ridwan. Parasmu kuyakin bukan berasal dari Indonesia tulen. Apalagi Makassar. Meski kau selalu meyakinkan kami bahwa kau adalah orang Makassar asli. Nyatanya kami tak percaya begitu saja. Kulitmu kemerahan, dengan bintik-bintik  yang biasa orang sebut freakless memenuhi wajahmu. Hidungmu juga tidak terlalu mancung seperti bule. Tapi sudah cukup membuat kami yang perempuan tulen kerap merasa gagal disampingmu. Daripada gagah, kau cenderung cantik. Kebanyakan orang yang melihatmu pasti berkata demikian. Aku sudah terbiasa. Ridwan. Dulunya kau bergabung di salah satu geng yang sok menguasai kelas. Hahaha. Mungkin tak resmi. Tapi kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Aku mendapat info, kau menyukai salah satunya. Hayoloooohh. Tapi takdir berkata lain. Cukup tragis, dia lebih memilih sahabatmu yang badannya lebih atletis. Suatu hari di lobby fakultas kau menanyaiku. Tentang seseorang dari kelas sebelah...

Teman duduk

Teruntuk teman dudukku di putih abu-abu, selamat.. kau tengah melangkah ke jenjang yang baru. Sempat kukirim janji lewat pesan. Apa daya, badan tetiba merapuh. Berdiri pun hampir jatuh. Tekadku kalah. Maafkan aku. Em, boleh aku berterimakasih? Ya. Anggap saja boleh. Ekhem. Oke Terima kasih untuk penerimaanmu kala aku jatuh dulu. Di tengah kebingungan, aku mengenalmu. Bersedia menjadi teman satu bangku di barisan paling buntung. Aku terpuruk, untuk orang yg kuanggap teman tetiba mengucilkanku. Lalu kau ada, menyemangati di hari-hari gelapku. Sadar atau tidak, kau banyak membantu kembalikan asa yang sempat hilang. Aku bangkit, lalu mulai mengenal teman lain yang dulu tak kupeduli. Kubuka hati yang tadinya dingin. Walau satu, aku tetap tak banyak ketawa ketiwi. Tak ada yang bisa bayangkan bagaimana aku kehilangan semangat pagi. Apalagi organisasi. Ahsudahlah, toh sudah jadi masa lalu. Hikmahnya aku jadi bisa sedikit membaur, Aku mengenal teman-teman barisan belakang ya...