Teman duduk

Teruntuk teman dudukku di putih abu-abu, selamat.. kau tengah melangkah ke jenjang yang baru.

Sempat kukirim janji lewat pesan.
Apa daya, badan tetiba merapuh. Berdiri pun hampir jatuh.
Tekadku kalah. Maafkan aku.

Em, boleh aku berterimakasih?
Ya. Anggap saja boleh.

Ekhem. Oke

Terima kasih untuk penerimaanmu kala aku jatuh dulu.
Di tengah kebingungan, aku mengenalmu.
Bersedia menjadi teman satu bangku di barisan paling buntung.

Aku terpuruk, untuk orang yg kuanggap teman tetiba mengucilkanku.
Lalu kau ada, menyemangati di hari-hari gelapku.

Sadar atau tidak, kau banyak membantu kembalikan asa yang sempat hilang.
Aku bangkit, lalu mulai mengenal teman lain yang dulu tak kupeduli.
Kubuka hati yang tadinya dingin.
Walau satu, aku tetap tak banyak ketawa ketiwi.

Tak ada yang bisa bayangkan bagaimana aku kehilangan semangat pagi.
Apalagi organisasi.
Ahsudahlah, toh sudah jadi masa lalu.

Hikmahnya aku jadi bisa sedikit membaur,
Aku mengenal teman-teman barisan belakang yang ternyata cukup lucu.
Kita tak punya banyak kenangan.
Walau begitu, kau tetap punya ruang sendiri di lembar abu-abuku.

Selamat atas akadmu, walimahmu..
Semoga kelak kita bisa bersua diacara yang berbeda.
Mungkin akikah? Hehe.

Terima kasih telah menjadi "Telinga" sekaligus penyemangat yang baik.
Maafkan ketidakhadiranku,
Doaku tetap mengiringimu.

Salam, teman dudukmu :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger