Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Tikaku, tigabelas

Ini sudah hari kamis. Kalau kuperhatikan, tulisanku akhir-akhir ini lumayan padat. Aku sedang mood, juga punya waktu. . . "Kau tak usah datang, pulang dari rs saya mau ke pengajian", begitu kira-kira isi pesanmu. Aku layu sendiri, hari Rabu adalah hari yang kunanti. Bahkan sudah kutandai di kalenderku, hehep Kuabaikan pengingat di kalender. Lalu kubuka semua sosial media yang kupunya. Ya, kuakui itu sebagai pelarian. Aku melangkah lemas menuruni anak tangga. Si tengil masih sibuk dengan setrikaannya. Kuambil posisi duduk paling nyaman. Bersandar di tumpukan keranjang, membuka sendal, duduk tanpa alas. Yup, aku siap menjelajah! Di dunia maya -_- . . Mereka banyak ngoceh seperti biasa. Kurespon seadanya, betul-betul sekenanya. Haha iyyo Iyokah? Bah saya juga Brr respon yang menyebalkan. "Galaui kapang kak imma", Yusran nyeletuk. "Puah, galau kenapaka iya? Apa galau-galau", sanggahku cepat. Lalu kulanjutkan diamku. Aku tetap diam dan asik di...

Kegecegewaga

Kali ini aku hanya ingin mengeluh. Toh motivasiku menulis memang hanya untuk salurkan keluhku. . . . Malam ini aku terasa menyedihkan. Lebih dari biasanya. Aku menangis, untuk sebab yang bahkan tak kutau pasti. Aku dikatai aneh. Untuk seseorang yang kuanggap sahabat, jujur saja bukan jawaban itu yang kuharap. Aku memang salah, Kenapa masih bergantung juga pada harapan. Ini bukan sesuatu yang baru. Entahlah, mungkin suasana hatiku memang sedang buruk-buruknya. Aku bingung harus memihakkan khawatirku pada siapa. Untuk Keluargaku yang menanti teleponku, untuk sahabatku yang berjuang melawan sakitnya, untuk ponakanku yang sedang di infus, ataukah rasa bersalah pada rekan kerja yang belakangan kuanggap adik ini. Mataku tak mau tidur, tubuhku mulai lelah. Aku berdiam, tapi jawaban yang kucari belum kutemukan. Satu-satunya jalan yang kukira benar, kini seolah hampa dan buntu tak bercahaya. Aku tidak berhasil meyakinkan, karena memang aku tak ahli dalam hal itu. Apa iya? Nasi...

Tikaku, dua belas

Rabu, 13 Februari 2018 Jika kebanyakan orang tengah menantikan pergantian hari menuju valentine day, kau justru tengah menantikan nomer antrimu di meja resepsionis rumah sakit. . . . Setelah drama per-bombe-an yang berakhir maaf kemarin, keadaan tak serta merta normal. Hingga hari ini, aku hanya berpamit seadanya. Meski mereka sudah nampak girang karena kuajak bicara sesekali bercanda. Namun pikiranku terus bercabang, mengawang banyak hal. Jika aku terlalu biasa-biasa saja saat datang ke rumahmu, sesungguhnya aku tengah berbohong. Beberapa hari setelah kau bilang Rumah Sakit, aku jadi loyo sendiri. Setelah ftv-ftv an, diamku masih berlanjut. Aku rasa ada sesuatu yang mengganjalku. Entah inikah yang dinamakan firasat atau apalah. Terkadang aku baru sadar setelah beberapa waktu melamunkan banyak hal. Aku tidak suka sakitmu jadi bahan guyonan. Inginku mengamuk, tapi aku lalu sadar. Bahwa biarpun kuluapkan segala amarah, toh itu takkan merubah apapun. Kadang aku terlihat d...

Akram & Yusran

Kali ini aku menulis untuk rekan kerja, terdengar membosankan, tapi percayalah ini kurang tepat disebut teman kerja. Mereka lebih kuanggap adik yang lugu dan bisajadi kampret. Yang pertama, Yusran alias Tobi. Tobirama Senju (hehe) Orang yang hari pertamanya kucuekin. Bersama Akram di atas motor, menunggu sesuatu yang kutebak pasti si bos. Sama seperti perlakuanku pada orang baru biasanya, aku tidak memedulikan mereka. Keberadannya kuabaikan, apalagi pagi itu kerjaan cukup banyak. Sekalinya coba kulihat (kali aja mau nanya) eh, malah buang muka. Okefix, gue gak peduli lagi. Entah lelah menunggu atau apa. Tobi memberanikan diri menyapa. Dengan "sangat terlalu" sopan bertanya keberadaan si bos itu. Aku menjawab seadanya dengan muka datar "Belum datang-_-", dalam hati gua bilang, siapa suruh lu buang muka. Dari ekor mata kulihat temannya ikut memerhatikan, tapi lalu pura-pura kembali ke hp di tangannya. Aku mengabaikan, betul-betul mengabaikannya dalam wakt...