Tikaku, dua belas
Rabu, 13 Februari 2018
Jika kebanyakan orang tengah menantikan pergantian hari menuju valentine day, kau justru tengah menantikan nomer antrimu di meja resepsionis rumah sakit.
.
.
.
Setelah drama per-bombe-an yang berakhir maaf kemarin, keadaan tak serta merta normal.
Hingga hari ini, aku hanya berpamit seadanya.
Meski mereka sudah nampak girang karena kuajak bicara sesekali bercanda.
Namun pikiranku terus bercabang, mengawang banyak hal.
Jika aku terlalu biasa-biasa saja saat datang ke rumahmu, sesungguhnya aku tengah berbohong.
Beberapa hari setelah kau bilang Rumah Sakit, aku jadi loyo sendiri.
Setelah ftv-ftv an, diamku masih berlanjut.
Aku rasa ada sesuatu yang mengganjalku.
Entah inikah yang dinamakan firasat atau apalah.
Terkadang aku baru sadar setelah beberapa waktu melamunkan banyak hal.
Aku tidak suka sakitmu jadi bahan guyonan.
Inginku mengamuk, tapi aku lalu sadar. Bahwa biarpun kuluapkan segala amarah, toh itu takkan merubah apapun.
Kadang aku terlihat diam. Mematung.
Bahkan berkali-kali aku ditegur.
Aku hanya sedih, mereka tak mau tau apa yang jadi masalahnya.
Mereka masih menganggap aku diam karena ulahnya.
Jujur saja, kecamuk dibenakku kemarin bukan serta merta karena mereka.
Ini lebih pada kekhawatiranku yang berlebihan.
Aku takut.
Aku selalu takut jika kau dan juga keluargamu suatu saat akan berubah.
Belum pernah kurasakan hidup tanpa harus gengsi saat ditertawakan.
Belakangan kurasa suaraku juga mirip denganmu.
Terlalu sering menggelegar, haha.
Aku sedikit lagi lepas dari belenggu malu.
Kau tau?
Meski aku terlihat tak peduli dalam segala hal, sebenarnya tak melulu seperti itu.
Aku memang kadang jadi orang pendiam, tapi aku tak pernah berhenti berpikir.
Aku masih selalu rindu nenekku.
Tapi kurasa sekarang kau lebih pantas kuluangkan waktu.
Kepalaku tiba-tiba akan terasa menyakitkan saat kucoba menahannya.
Jika sediri, aku akan menumpahkannya.
Entah lewat air mata, tulisan, atau bisa juga keduanya.
Membayangkan kau sakit seperti mimpi buruk yang ingin kuakhiri.
.
.
.
Sore yang melelahkan setelah bekerja di Rabu ini lalu berubah jadi sore yang menyenangkan.
Sangat lucu rasanya melihat kau, ajji dan ummimu, juga kakakmu terlihat berkumpul.
Di bukaan pagar putih yang berhias bunga keemasan itu.
Seperti biasa, kau selalu mengerjaiku dengan berkata "tidak jadi"
Berkali-kali kau mengerjaiku, tapi berkali-kali juga aku percaya dengan mudahnya.
Tolol beud-_-
Menikmati kacang rebus dan memperebutkannya terlihat menggelikan.
Apalagi kau dan kakakmu yang bertingkah jauuuuh dibawah umur. Hehehe.
Suasana yang selalu kurindukan.
Menjelang malam aku merasa sedikit gugup.
Kuhamparkan sajadah, lalu berdoa.
Berharap semua akan baik-baik saja.
Menumpangi si merah aku jadi banyak diam. Lebih-lebih kakakmu yang benar-benar diam.
Ummi mu juga terdengar lesu.
Kau asik main game, lalu ajjimu seperti biasa coba menghangatkan suasana.
Lobby rumah sakit terlihat ramai.
Kulihat ada berbagai macam raut wajah.
Gembira (mungkin lahiran), Sayu, Sedih, Kehilangan harapan..
Terlebih saat melewati pintu kaca, akhh aku benci bau rumah sakit.
Ini mengingatkanku pada Mygrandm.
You know, She's gone in hospital.
Kau segera mengambil nomer antrian.
Tidak lama, ajji dan kakakmu datang membawa resi atau apakah itu.
Giliranmu tiba dan aku makin jantungan.
Sembari menunggu, kuperhatikan lagi sekeliling.
Suara resepsionis, langkah cepat perawat, Senyum merekah dua orang teman dengan tentengan perlengkapan bayi, Gesekan lantai dengan kursi roda..
Wusshh
Lalu tiba-tiba kau menghilang dari pandangku, juga dari mata ummimu yang duduk disampingku.
Kami lalu bergegas mencari dan menemukanmu duduk berdampingan dengan ajjimu.
Kau nampak sedang menunggu antrian kedua.
Begitu giliranmu datang, aku dan ajjimu membuka foto rontgen yang kujaga.
Aku bergidik sendiri.
Meski tidak kupahami, bintik-bintik nampak di penjuru gambar paru-paru itu.
Mungkin memang begitu, pikirku menenangkan diri.
Lalu ajjimu bilang "ini kelainan" sambil menunjuk kearah dimana aku juga mencurigainya.
Mungkin sebenarnya kami berbakat jadi spesialis pembaca foto hehehe.
Jangan salahkan aku ketika aku mengarah ke titik lucu.
Ini salahmu, karena telah membiasakanku.
Aku juga tak mau terlalu memikirkannya.
"Nona Kartika Pratiwi", asisten dokter berjilbab memanggil.
Ajji, ummi serta kau memasuki ruangan.
Aku dan kakakmu menunggu di luar tapi berseberangan.
Aku diam. Menatap lantai lekat-lekat.
Aku benci lorong rumah sakit.
Pintu terbuka sedikit.
Kulihat ekspresi ajjimu yang tak terlihat seperti biasa.
Aku makin yakin, sesuatu pasti terjadi.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain bergumam dalam hati.
Kalian keluar, dan benar saja.
Infeksi paru-paru.
Ini tak bisa dibilang ringan, tapi jujur saja aku masih ragu.
Gejala yang kau alami selama ini kurasa bukan hanya sekedar itu.
Pemeriksaan lanjutanmu Rabu depan.
Sebelum kau ajak, aku sudah berjanji dengan diriku sendiri. Bahwa aku akan datang kapan pun kau membutuhkan keberadaanku.
Aku tak bisa menceritakannya detail disini.
Aku akan melompat pada bagian sesi curhat yang seumur-umur baru kurasa seserius ini.
Perasaanku campur aduk.
Sedih akan ceritamu, tapi senang karena kurasa kau mulai percaya padaku.
Kembali kupikirkan banyak hal.
Kau seharusnya tak begadang. Ini salah, pikirku.
Namun aku kembali berpikir.
Menceritakan masalahmu akan mengurangi sedikit sesak didadamu.
Jadi aku tetap bersedia jadi telingamu.
Kapan pun kau mau, aku tak akan berpikir dua kali untuk datang.
Entahlah, kau sudah masuk prioritas.
Kuharap ada sedikit lega dari beban yang kau tumpu sekarang.
Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku tak pandai berkata mutiara.
Aku hanya akan terus ada, selama kau masih butuh telinga.
Komentar
Posting Komentar