Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

A wish

Sekarang aku 22 tahun, hampir 23. Banyak ujian yang kulalui. Ada yang kecil, juga besar. Tidak mudah, bahkan nyaris menyerah. Jika tak ingat Tuhan, andai tak ada sanak keluarga dan teman. Hal bodoh mungkin telah kulakukan. Sering aku dicap tak normal. Saking seringnya, itu jadi agak biasa ditelinga. Bahkan beberapa mengira aku takkan normal dalam waktu dekat. Haha, aku senyum. Tapi jujur sedikit takut. Memang, masa pubertas kulalui tak semengesankan kawan lain. Boleh jadi akulah satu-satunya si hambar pada masa itu. Sibukku hanya tertuju pada pertanyaan, akan jadi apa aku? Bisakah aku seperti harapan orang terdekatku? Hidup kuhabiskan dengan memikirkan orang lain. Yang kusayang, tentu. Kerap kudengar pengalaman hebat dari sisi tergelap kawanku. Satu sisi aku kagum, bagaimana mereka seberani itu. Dalam hati kudoakan, semoga jalan baik segera ditemukannya. Namun, disisi lain aku bersyukur. Untung aku tak memilih pintu yang sama. Jika iya, belum tentu aku bisa survive denga...

Tak habis

Maaf teman, kutau maksudmu baik sekali. Namun bagi mahluk sepertiku, hal demikian belum mampu kucernai. Sore tadi mendung, agak gerimis. Kucoba tidak pedulikan apa yang kau lakukan. Kutarik nafas dalam berulang, kaki kulangkahkan menjauh. Kemana saja, asal tak masuk frame video call mu. Daripada malu, aku lebih pada risih. Ketenanganku rasanya diganggu, bahkan terancam. Ya, aku agak pelik masalah ini. Kucoba mengakali, tapi akhirnya aku kalah lagi. Kunci, hp dan dompet kukantongi. Tak butuh waktu lama, langkahku panjang membelakangi. Samar kudengar teman memanggil-manggil. Kubalik badan sedikit, lalu pergi. Tidak kulirik kedua kali. Aku kesal sekali tadi. Padahal jika dipikir ini tak begitu pantas dikesali. Akh, kekanak-kanakan sekali aku ini. Dalam perjalanan, pikiranku tak habis habis. Kusesali, tapi masih tak ada niat kembali. Aku hanya tak suka dibuat risih. Maaf untuk kau yang bahkan tak tau apa-apa. Karenaku, tukar candamu jadi berakhir. Jika ini membuatmu berpikir...

Beku

Aku tengah bergelut dengan pikiranku sendiri. Aku tak mau membohongi diriku, apalagi menyakiti dirimu. Masih kucerna semua ini. Meski sebenarnya telah berlangsung lama. Bagiku, ini terlalu pelik. Aku diam bukan berarti tidak, begitupun mengiyakan. Benakku masih bertanya-tanya. Apakah kau jawaban atas doaku? Atau justru ujian keimananku? Aku tak akan membandingkanmu dengan siapapun. Kau tau? Belum pernah aku dihadapkan dengan situasi yang membuatku kalut, kecualimu. Sedang kutanya apa mau hati. Bersediakah iya mencair, atau masih ingin berkeras seperti hari ini. Jujur saja, ingin sekali aku bertanya, Kenapa aku?. Sebab kutau, kau pasti punya opsi lebih dariku. Bahkan jauh. Sayang, sampai hari ini aku masih terlalu takut. Juga ragu. Teman bertanya. Apalagi yang kau tunggu? Apa kurangnya dimatamu? Aku diam, jelas. Bertahanmu sejauh ini cukup menjadi alasan kau sedang tak main-main. Terlebih sikapku yang naudzubillahiminzalik. Maafkan aku membuatmu menunggu. Maafkan semua ketid...