A wish
Sekarang aku 22 tahun, hampir 23. Banyak ujian yang kulalui. Ada yang kecil, juga besar. Tidak mudah, bahkan nyaris menyerah. Jika tak ingat Tuhan, andai tak ada sanak keluarga dan teman. Hal bodoh mungkin telah kulakukan. Sering aku dicap tak normal. Saking seringnya, itu jadi agak biasa ditelinga. Bahkan beberapa mengira aku takkan normal dalam waktu dekat. Haha, aku senyum. Tapi jujur sedikit takut. Memang, masa pubertas kulalui tak semengesankan kawan lain. Boleh jadi akulah satu-satunya si hambar pada masa itu. Sibukku hanya tertuju pada pertanyaan, akan jadi apa aku? Bisakah aku seperti harapan orang terdekatku? Hidup kuhabiskan dengan memikirkan orang lain. Yang kusayang, tentu. Kerap kudengar pengalaman hebat dari sisi tergelap kawanku. Satu sisi aku kagum, bagaimana mereka seberani itu. Dalam hati kudoakan, semoga jalan baik segera ditemukannya. Namun, disisi lain aku bersyukur. Untung aku tak memilih pintu yang sama. Jika iya, belum tentu aku bisa survive denga...