Beku
Aku tengah bergelut dengan pikiranku sendiri.
Aku tak mau membohongi diriku, apalagi menyakiti dirimu.
Masih kucerna semua ini. Meski sebenarnya telah berlangsung lama. Bagiku, ini terlalu pelik. Aku diam bukan berarti tidak, begitupun mengiyakan.
Benakku masih bertanya-tanya. Apakah kau jawaban atas doaku? Atau justru ujian keimananku?
Aku tak akan membandingkanmu dengan siapapun. Kau tau? Belum pernah aku dihadapkan dengan situasi yang membuatku kalut, kecualimu.
Sedang kutanya apa mau hati. Bersediakah iya mencair, atau masih ingin berkeras seperti hari ini.
Jujur saja, ingin sekali aku bertanya, Kenapa aku?. Sebab kutau, kau pasti punya opsi lebih dariku. Bahkan jauh.
Sayang, sampai hari ini aku masih terlalu takut. Juga ragu.
Teman bertanya.
Apalagi yang kau tunggu? Apa kurangnya dimatamu?
Aku diam, jelas. Bertahanmu sejauh ini cukup menjadi alasan kau sedang tak main-main. Terlebih sikapku yang naudzubillahiminzalik.
Maafkan aku membuatmu menunggu.
Maafkan semua ketidakjelasanku.
Kau penasaran, aku bingung. Bodoh bukan? Akunya. Hehe.
Tau tidak?
Di mataku, kau pantas memilih yang jauh lebih segalanya dariku.
Tentu saja ini kembali padamu.
Intinya, aku sedang berusaha meruntuhkan dinding yang kubuat sendiri. Sedari lahir, haha.
Kalau pun kau mau sedikit sabar, bisajadi aku orang paling bahagia. Ehehe.
Kok syakit yee bacahnya buuk
BalasHapus