Tak habis

Maaf teman, kutau maksudmu baik sekali. Namun bagi mahluk sepertiku, hal demikian belum mampu kucernai.

Sore tadi mendung, agak gerimis.
Kucoba tidak pedulikan apa yang kau lakukan.
Kutarik nafas dalam berulang, kaki kulangkahkan menjauh. Kemana saja, asal tak masuk frame video call mu.

Daripada malu, aku lebih pada risih.
Ketenanganku rasanya diganggu, bahkan terancam. Ya, aku agak pelik masalah ini.
Kucoba mengakali, tapi akhirnya aku kalah lagi.

Kunci, hp dan dompet kukantongi. Tak butuh waktu lama, langkahku panjang membelakangi.
Samar kudengar teman memanggil-manggil.

Kubalik badan sedikit, lalu pergi.
Tidak kulirik kedua kali.

Aku kesal sekali tadi. Padahal jika dipikir ini tak begitu pantas dikesali.
Akh, kekanak-kanakan sekali aku ini.

Dalam perjalanan, pikiranku tak habis habis. Kusesali, tapi masih tak ada niat kembali.

Aku hanya tak suka dibuat risih.

Maaf untuk kau yang bahkan tak tau apa-apa. Karenaku, tukar candamu jadi berakhir. Jika ini membuatmu berpikir lagi, tak apa. Pilihan masih di tanganmu dan belum terlambat tuk disesali.

Aku pulang, tiba di kosan pun aku datar.
Tak terlalu kuhirau basa-basi, aku melengos pergi. Masih dengan sesak sisa tadi.

Seperti biasa, aku bergegas mandi. Lalu kembali, menghadap.

Habis salam terakhir, kuhela nafas berat.

"Aku salah, harus minta maaf"

Kuraih hp yang tersambung listrik, kucari dua kontak. Lalu coba mengetik.

Tidak seperti biasa, aku hanya menulis yang perlu saja kali ini. Lalu kutekan mode pesawat hp.

Setelahnya kutulis ini, sebagai kenangan juga pelajaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger