Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

2019, is end

2019. Tahun berat, hampaku belum berakhir. Sesatku belum berujung. Kucoba sibukkan diri, Setelah drama hidup sepanjang tahun. Acara insomnia berat, maag akut, stres, juga pendepakan. Mentalku terserang, hampir terbunuh. Aku sadar, aku egois. Bukannya tidak peka, aku hanya mencoba tenang. Lunturkan sedikit sesak. Tau tidak? Hari itu, hari dimana sesak diujung tanduk. Sekuat hati kutahan. Sampai rasa menusuk itu benar-benar terasa. Saat itu, Aku sedang melipat pakaian, pakaian orang tentu. Kuputar lagu-lagu agar tak terlalu kaku. Jujur saja, itu hanya usaha membagi ruang dengarku. Kebiasaanku menatap dalam-dalam cukup buruk, karenanya aku terngiang lagi. Tentang aku yang tak punya nenek lagi, lalu patahnya harapanku tentang hal yang seharusnya sudah kusadari. Aku tertipu, untuk angan yang tak akan sampai. Atas janji yang kubuat lalu menusuk diriku sendiri. Apa aku egois lagi? Tuhan, aku tidak punya apa-apa sekarang. Jangankan uang, senyum saja aku susah. Kusalahkan i...

I'm sick, now

Kadang, sewaktu-waktu. Ada rasa menyerah dalam jalani hidup. Berat, lelah, sangat menyakitkan. Sering aku berkomat-kamit sendiri. Gini amat idup ya Allah, mati ajadah. Terdengar seperti candaan, tapi ini benar bukan kalimat yang terlontar begitu saja. Aku diambang sesak. Sungguh berat melawan diri, menerima nasib. Aku benci diriku. Kenapa Aku tidak bisa bersikap sedikit manis? Kenapa Aku susah sekali berlemah lembut? Kenapa? Bibir membeku, hati hancur. Benar-benar kesedihan yang paling disengaja. Kubunuh diriku pelan-pelan dengan siksaan batin. Ingin sekali kukatakan, ayolah. Apa daya mulut sampah ini bilang, sudahlah. Sok tegar sekali anda! Spesies manusia paling bodoh. Mencari alasan, lalu menyerah dan minta mati. Apa kau tak percaya Tuhan? Ya, Aku percaya. Mungkin aku sedang lelah saja. Sulit sekali mengatur nafas. Berat sekali mengukir senyum. Rapuh. Ruh rapuh berkulit segala bentuk acuh, cuek, sombong, angkuh. Kubenci, benci, sungguh benci. Belum kutemu...

Shine

Kudengar dia, Dia yang menjatuhkan Aku dan kawanku terbahak. Tertawa sangat puas. Setelah sekian lama tidak bergeming. Bersuara hanya jika sedang marah atau membentak saja. Anehnya, Aku disini tersenyum. Tidak seperti biasanya. Biasanya aku akan tersinggung dan mengamuk. wah, kurasa mentalku agak membaik. haha. Lucu sekali mengingat manusia yang anggap dirinya laki-laki, beristri, beranak empat pula menunjuk-nunjuk seorang gadis. Hahaha, bocah sekali. Kuberdoa dalam hati, semoga anak-anaknya kelak jadi orang yang berguna, tak seperti... yahsudahlah. Aku disini, di sekat triplek rapuh. Menggigit bibir, menahan perih. Sungguh aku tidak peduli lagi dengan kejadian aneh bin tolol kemarin. Aku hanya memikirkan janji pada Adikku untuk berlibur akhir tahun ini. Tidak tega kuberitahu, bahwa aku kehilangan mata pencaharian. Belum bisa kususun kata-kata bahwa aku sedang diambang keterusiran. Ya Allah, kuatkan aku. Berkeping rasanya saat kuingat wajah orangtua yang kian menua. ...

dear, aku

Dear, Aku. Senyum, itu akan membantumu. Aku, Kutau kau sedang berkabung. Aku, Kutau kau butuh peluk. Kutau benar, kau sedang kalut. Aku, Bersabarlah. Kutau kau kuat, Allah tau kau bisa. Aku, Menangislah. Tidak apa, meski itu sesak. Tak masalah pun jika harus membekap dalam kain atau bantal. Kutau kau tak ingin didengar. Kutau kau sedang tidak baik, tapi berusaha tegar. Aku, Tersedu saja. Jika menggigit bibir membuatmu nyaman, lakukanlah. Nyalakan saja keran air keras-keras. Aku, kutau kau tak pandai bercerita. Tak apa kau tenangkan diri dengan caramu. Kupeluk kau, erat dalam dekapan. Jangan sedih, manusia memang bukan tempat harap, tapi sarang kecewa. Aku, jika dengan mengunci diri membuatmu lebih baik. Tak masalah. Sesak didadamu, rindu dibatinmu. Nikmatilah, kau kuat. kau bisa. Sibuk perbaiki dirimu, Aku. Lihat dirimu, kau nampak tak baik hari ini. Tidakkah kau sayang pada raga yang tak pernah tinggalkanmu. Aku, ini hidupmu. Kau pantas memilih. Jika sekaran...

Fall into ure hand

Aku jatuh, lagi lagi. untuk kesekian kali. Ujian apa lagi ini, Tuhan? Kejutan di pagi yang masih berselimut lelah bekas kerja keras semalam. Belum reda lelah, belum usai kantuk. Aku terhuyung menuruni anak tangga, menyusun semangat. Mengalihkan duka. Tidak kutau pasti apa yang membuatku begitu kalut akhir-akhir ini. Lagu Hurt Christina Aguilera terus terngiang. Aku rindu seseorang. Insomnia jadi sahabat, meski jam sudah tunjukkan angka tiga, mata masih segar saja. Aku tak suka menduga, tapi kuyakin ini pasti ada apa-apa. Doaku selalu, kumohon jagakan keluarga dan teman-temanku. Aku bersedia sakit, tapi tidak dengan orang-orang itu. Betapa raut mukaku dibuat bingung. Untuk kesalahan yang katanya sebesar itu, aku masih tidak paham. Seberapa apapun kucari kejelasan, aku hanya di cap menantang. Telunjuk laknat yang kurang ajar menantang mataku yang dilanda bingung. Sial, dia jauh tua dariku. Aku bisa saja memukul, tapi itu membuatku jadi sederajat, dan aku tak sudi. Kubi...

Shuold I Fight?

Kudekap diriku, erat. Sadar, aku benar tak punya tempat pulang. Aku bukan pemimpi. Mimpiku gugur, bersama api yang dulu benderang. Karena lebih banyak diam, aku suka memerhatikan. Satu yang kutau benar, Manusia cenderung sembunyikan diri di balik geriknya. Sekarang aku merasa bersalah, lagi. Katanya, kalau aku diam. Suasana kerja jadi beku. Teman, asal kau tau. Introvert akut sepertiku bisa kehabisan energi sewaktu-waktu. Tolong sabar, aku sedang pulihkan diri. Mencoba bangkit. Aku memang sering nampak paling mudah ditertawakan, atau menertawakan. Mencoba menjaga perasaan, tak biarkan suasana menegang. Korbankan rasa yang mungkin ada. Meski tak diminta. Aku tak suka orang lain terganggu, apalagi khawatir karenaku. Kadang aku memilih pergi, jika memaksa bertahan, bisa saja aku tumpah, dan aku tak mau. Cukup membuat mereka berpikir aku egois saja, tak apa. Mereka tak perlu tau saat kututup pintu, memutar kuncinya. I'll crying like a kid. Mengadu pada Tuhan. I kno...

Kedua Aku

Baru saja, baru beberapa menit lagi kulihat sesi tanya jawab di kanal youtube. Tamunya Marshanda, aktris yang didiagnosa depresi di umur 17 dan bipolar di 21. Aku diam, memerhatikan. Kucoba tidak menyamakan dengan apa yang kerap kurasa. Menjadi seorang pemendam, aku banyak mengubur asa. Aku tidak pernah bisa ceritakan apapun yang kiranya bisa menularkan rasa khawatir, sedih, atau yang berbau duka. Lebih kupilih dibenci, daripada orang yang kusayang jatuh pada khawatir. Sisi gelapku selalu bertanya. Untuk apa hidup? Ini tidak ada gunanya. Tidak berguna sama sekali. Yang kulakukan hanya salah, salah, salah. Bisakah Tuhan mengambilku sekarang? Aku tidak mau bunuh diri. Itu bukan penyelesaian. Aku takut. Takut sekali. Lalu ada "Aku" lain yang berkata Apa yang kau pikir? Tidakkah kau pikir bagaimana susahnya kau dilahirkan? Dibesarkan? Apa kau tega? Orang disekitarmu sedih karena kau mati? ~Aku hanya merasa gagal, tidak lebih. Kurasa lebih baik pergi saja dari...