Kedua Aku

Baru saja, baru beberapa menit lagi kulihat sesi tanya jawab di kanal youtube.
Tamunya Marshanda, aktris yang didiagnosa depresi di umur 17 dan bipolar di 21.
Aku diam, memerhatikan.
Kucoba tidak menyamakan dengan apa yang kerap kurasa.

Menjadi seorang pemendam, aku banyak mengubur asa.

Aku tidak pernah bisa ceritakan apapun yang kiranya bisa menularkan rasa khawatir, sedih, atau yang berbau duka.
Lebih kupilih dibenci, daripada orang yang kusayang jatuh pada khawatir.

Sisi gelapku selalu bertanya.

Untuk apa hidup?
Ini tidak ada gunanya.
Tidak berguna sama sekali.
Yang kulakukan hanya salah, salah, salah.
Bisakah Tuhan mengambilku sekarang?

Aku tidak mau bunuh diri.
Itu bukan penyelesaian.
Aku takut. Takut sekali.

Lalu ada "Aku" lain yang berkata
Apa yang kau pikir?
Tidakkah kau pikir bagaimana susahnya kau dilahirkan? Dibesarkan?
Apa kau tega? Orang disekitarmu sedih karena kau mati?

~Aku hanya merasa gagal, tidak lebih.
Kurasa lebih baik pergi saja daripada terus menerus mengecewakan.

Begitu terus, sampai kepalaku muak akan pertengkaran antar "Aku" itu.

Aku belum pernah ke ahli mental.
Sejauh yang kukira, mungkin memang ada sedikit kerusakan disana.
Tentu aku tak bisa berdiagnosa sendiri.
Biarlah,

Satu yang selalu kuingat
Manusia diberi masalah, rasa sakit, ada maksudnya.
Tidak ada manusia yang hidup dengan predikat sempurna dan baik-baik saja.

Banyak di luar sana yang masalahnya jauh lebih besar. Mungkin aku hanya kurang bersabar.

Kukira diam paling mudah.
Tapi kadang-kadang diam juga bisa menyesakkan.
Kucoba tertawa, hatiku sedikit menghangat. Lalu dingin kembali.

Aku masih Aku.
😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger