Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Sepi, sempurna, dan gagal

Kesenanganku pada anime cukup fanatik. Tontonan ninja kecil yang pantang menyerah sekalipun dikucilkan sungguh memantik harapan jiwa kesepian sepertiku. Saat teman sepantaran sudah mantap menata hidup sesuai kesukaannya, bahkan beberapa telah maju ke singgasana pelaminan. Disini aku masih terkatung, membuntu. Tentang Jati diri yang tak kunjung kutemui. Dorongan yang tidak dirasa. Meski nampak sesekali bersemangat, tertawa lebar-lebar, sejujurnya jauh di dalam sana ada rasa hampa. Jika digambarkan, gadis berambut panjang itu tengah memeluk lutut, pakaiannya bagus, namun basah. Ia terisak, rambutnya jatuh hingga menyentuh kakinya yang tak beralas. Sosok itu sedang di balik daun pintu, mengurung dirinya dari dunia luar yang menyeramkan. Semua nampak kosong, hampa, hanya ada tempat tidur dan sebuah kursi. Jendelanya terbuka, tirai tipis yang membatas tertiup sapuan angin. Namun tetap saja, gadis itu masih memeluk diri. Angin tak dihiraunya. Aku jelas bukan orang periang. Penilaia...

Sebelah sayap yang dipatah

Merasa tak berharga dan tak laik hidup di usia kepala nol dulunya kukira biasa. Hingga aku besar, lalu kutau bahaya sakit yang biasa orang sebut depresi. Terlahir ambisius menjadikan aku pemikir yang cukup keras. Egoku kadang tak kuasa dikendalikan. Aku yang ambisius di dalam tapi diam di luar meyakinkan banyak kenalan untuk segera melangkah mundur. Dulu, waktu rok selututku masih merah berlipat, setiap pagi penuh semangat kuayun kaki beralas sepatu taliku. Kadang naik vespa biru tetangga, namun lebih sering melangkah sendiri. Tentu dengan payung mini yang tiap hari ku dibekali. Di sekolah, kesan menonjol jauh dari sosokku. Aku hanya dikenal karena selalu menyisakan beberapa lembar kertas dibagian belakang buku untuk coretan imajinasi. Saat teman sekelas mendengar seksama, aku menggambar. Ingat sekali saat aku digampar buku tulis karena dikira tak memerhatikan. Aku diam, menunduk. Sungguh mentalku sedikit digerus kala itu. Ibu Guru, maaf. Aku memang tampak acuh, namun sungguh! T...

Rule

Teman, teman dekat, sahabat Dulu, 8 tahun lalu, aku kerap menunduk. Menjadi seorang pemalu sungguh ujian yg agak menyiksa. Apalagi dibekali Tuhan dengan raut wajah dingin, salah sangka sering sekali terjadi. Jutek Sombong Pongah Penuh menyumpali telingaku. Aku hanya tidak paham. Bagaimana mungkin seseorang melemparkan senyum pada orang yang tak begitu dikenalnya. Lumrahkah memberi kontak whatsapp begitu saja setelah bertukar nama. Itu benar-benar tak masuk diakal. Setidaknya diakalku. Memiliki teman se-geng di putih abu seolah jadi berkah untukku. Berorganisasi bersama, bahkan mengatur posisi bangku pun sama-sama. Lalu aku mulai bingung kala dikata egois, tanpa embel-embel lagi Aku didiamkan, dibuang, dikucilkan. Untuk seseorang yang sukar berkenalan, aku kecewa. Percayaku pada teman sudah makin meluruh. Aku tak pernah bersemangat lagi, diamku makin menjadi. Tiga tahun berselang, kududuki sebuah kampus. Tidak pernah kuduga bagaimana kampus yang awalnya kupikir menyera...