Sebelah sayap yang dipatah

Merasa tak berharga dan tak laik hidup di usia kepala nol dulunya kukira biasa.
Hingga aku besar, lalu kutau bahaya sakit yang biasa orang sebut depresi.

Terlahir ambisius menjadikan aku pemikir yang cukup keras. Egoku kadang tak kuasa dikendalikan. Aku yang ambisius di dalam tapi diam di luar meyakinkan banyak kenalan untuk segera melangkah mundur.

Dulu, waktu rok selututku masih merah berlipat, setiap pagi penuh semangat kuayun kaki beralas sepatu taliku. Kadang naik vespa biru tetangga, namun lebih sering melangkah sendiri. Tentu dengan payung mini yang tiap hari ku dibekali.

Di sekolah, kesan menonjol jauh dari sosokku. Aku hanya dikenal karena selalu menyisakan beberapa lembar kertas dibagian belakang buku untuk coretan imajinasi. Saat teman sekelas mendengar seksama, aku menggambar.
Ingat sekali saat aku digampar buku tulis karena dikira tak memerhatikan.
Aku diam, menunduk. Sungguh mentalku sedikit digerus kala itu.

Ibu Guru, maaf. Aku memang tampak acuh, namun sungguh! Telingaku masih merekam ilmu mu dengan seksama.

Sejujurnya banyak mata pelajaran yang tidak kusukai. PENJASKES adalah kelemahanku yang paling kentara. Aku tak suka pemanasan, sangat bosan. Apalagi harus beradu ketangkasan fisik di tengah teman lain yang setahun dua tahun lebih tua dariku. Tolong ya, satu tahun rentang umur di SD itu kelihatan sangat kentara. Lebih-lebih masalah tinggi badan, aku kalah duluan.

Karena masuk sekolah setahun lebih awal, kerap kali aku dikucilkan. Sasaran penindasan terapik memang aku yang paling kerdil.

Sering sekali aku menangis sendiri di kamar bersekat triplekku, kututup kelambu agar aku dikira tidur.
Hujan deras membantuku lega, karenanya aku bisa sesekali lampiaskan sesak.

Kukutuk diriku atas segalanya. Jiwa introvert memandu untuk tidak bercerita pada siapa pun. Hanya lewat buku saku diary kutulis sumpah serapah, doa, juga putus asa. Aku tak bisa bayangkan betapa menyenangkan ditanya ada cerita seru apa hari ini?

Memendam semua sakit kupastikan tidaklah mudah. Perasaan tidak berguna masih setia disana. Kalau tak kucoba menyukai hal-hal konyol, jika tak ada nenek yang semangatiku. entahlah, Mungkin suicide sudah kulakukan dari umurku yang bahkan belum cukup dua angka.

Teman, aku mau bilang. Kelak, jika kalian lahirkan anak, tolong ajari mereka kesantunan. Jangan ada imma imma lain yang mentalnya sedikit rusak bekas perpeloncoan. Ajaklah mereka berbagi ceritanya di sekolah, lalu bimbinglah. Tolong jangan berpikir sekolah tempat suci. Tuntunlah, bukan melepasnya bebas begitu saja. Sungguh, akulah bukti nyata.
Doa terbaik mengiringi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger