Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Untitled

Ketika kita sibuk memoles rumah dengan warna cat baru.. Saudara kita justru tengah mengais-ngais di puing reruntuhan rumah mereka. Ketika kita merasa kacau menunggu lampu lalu lintas yang tak kunjung hijau di jalan pulang.. Saudara kita justru coba sibukkan diri melupakan maghrib yang tak ingin mereka ingati. Saat kita kesal karena anak-anak begitu melelahkan hari ini.. Saudara kita justru tak mau putus harapan menjemput anak-anaknya yang sudah tertimbun puing dan lumpur. Jika hari ini kita mengeluh karena Ibu hanya sediakan lauk tempe dan tahu.. Bagaimana saudara kita yang ingin beras pun harus berebut.. . . . Tuhan Ada.. Tuhan sayang.. Tuhan sedang rindu saudara kita yang di Sigi, Donggala, dan Palu. Semoga mereka diberi sabar dan ketabahan yang berlapis. Mengikhlaskan kepergian sanak keluarga yang hampir tak terhitung. Semoga Tuhan mengampuni segala khilaf yang diperbuat di masa hidup. Pertanyaan hari ini adalah, Siapkah kita membantu? Siapkah kita meringankan beb...
Ahad, 14 Oktober 2018 Sudah dua pekan sejak jerit tangis ketakutan melengking disana sini. Kala gulungan ombak membabi buta porandakan bangunan, manusia, pohon dan apapun yang tersentuh olehnya. Kabar yang merobek hati siapa saja yang mendengarnya. Ini adalah panggilan hati, tidak bisa dijelaskan dengan apapun. Saya hanya merasa tak bisa berdiam diri menatap layar televisi bergambar kehancuran sisa gempa dan tsunami. Terlebih tatapan kosong nan nanar dari korban yang bingung mencari anak, istri dan suami. Kukira perih hati di depan televisi kemarin akan terobati saat tiba di bandar udara sis al jufri kota Palu. Salah, salah besar. Dari jendela bundar hercules saya hampir ternganga, mendapati daratan yang hancur tak berbentuk. Menyisakan pepohonan yang tumbang dan terbungkus lumpur. Miris, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Sisanya seperti kota mati dan tak berpenghuni. Begitu keluar dan mengeluarkan logistik dari badan tambun hercules, pemandangan nampak lebih s...

Pembaktian

Kami bahkan belum saling kenal. Baru satu atau dua yang namanya sering terdengar. Salah satunya namaku, tepatnya kembaran namaku. Dan itu membuat risih sekali. Berjalan di terik langit kota Palu yang capai empat puluh derajat. Tentu kami kelemar sana sini. Mengeluh kepanasan, namun membungkusnya dengan canda. Sekali lagi, kami tak kenal. Wajahpun masih samar-samar. Seperti yang biasa kulakukan. Ketika mereka coba mencanda dan tak masuk diakalku, cuekan adalah hadiahnya. Kalau beruntung, mereka akan terima tatapan penuh cintaku yang kuyakin tak akan ada yang mau. Menyusuri rumah terpal warga yang didindingi seprei seadanya. Bayi, anak, orang tua dan lansia bersama. Saling menguatkan di sisa trauma bekas bencana sepekan kemarin. Beberapa kami temukan tak fit. Tentu dengan keluhan sakit demam atau diare. Kalau kau melihat kondisinya langsung, kau tak akan heran. Sebab tenda dengan angin yang bebas kesana kemari sudah jadi tersangka utama. Satu anak yang terluka di kepala ditin...

Catatan seorang relawan

Ahad, 08/10/2018 Sudah hari ke 8 pasca gempa hebat ditambah tsunami dahsyat melanda kota Palu dan sekitarnya. Jika televisi menayangkan kondusifnya kota Palu, hal demikian nampak tak serasi dengan yang kupandangi hari ini. Seorang Ibu yang tak sempat kutanyakan namanya tengah berdiri, menatap kosong ke arah puing-puing yang disinyalir milik keluarganya. Meski sudah tergeser amat jauh (sekitar 300 meter), keyakinannya tetap teguh. Beliau mulai bercerita, kala rumah dan isinya terombang ambing gerakan buas tanah yang tadinya baik-baik saja. "Tidak ada tanda apa-apa. Tanah langsung berguncang hebat, bergeser, terbelah, berputar, lalu ambruk tak karuan" katanya. Matanya mulai berair kala menceritakan kedua anaknya yang sedang lucu-lucunya. "Ini anak saya, masih lucu-lucunya", Ujarnya sembari memperlihatkan gambar kenangan anaknya yang terlihat bahagia. Satunya terlihat gembul, yang lainnya nampak manis dengan senyumnya yang merekah. "Saya rasa mau gila sudah...

Calon Relawan

Ini bukan saatnya saling menyalahkan. Penjarahan dimana-mana. Kalau bukan karena kelaparan maka karena apalah? Bandar udara kota Palu kini penuh sesak. Dijejali warga dari penjuru Indonesia. Bahkan dunia. Mengeluh, meraung, ingin segera meninggalkan tanah yang kini luluh lantak tersapu ombak dan terguncang amukan bumi. Hercules yang hanya beberapa mulai lelah dan kebingungan. Sementara para relawan yang rela pertaruhkan nyawa, tinggalkan sanak saudara, korbankan urusan pribadinya, justru tertahan karena amuk warga yang terus ingin disegerakan. Lalu kembali berdesak meminta pulang. Masih dengan berebut kursi di selang waktu yang tak seberapa. Ketahuilah, kami tak datang untuk berfoto lantas dibagikan di dunia maya. Ini hanya panggilan hati yang merasa perih mendapati gambar di layar persegi yang nampak porak poranda. Kami hanya tidak bisa diam saja melihat materi yang tidak menyanggupi. Kami datang, melebarkan pelukan. Membiarkan yang ketakutan mendapat sedikit kehangatan, lalu...