Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Tikaku empat

Aku menulis ini untuk jaga-jaga. Untukmu, dan keluargamu yang kusayang. Hei! Sekarang kau sudah tahu bukan? Bahwa sekarang aku tak lebih dari anak cengeng yang kesepian. Kalau belum, sini kuberitahu. Karena tulisan kemarin memang bukan untukmu, tapi untuk orang yang sudah pergi. Maaf yah, jika akhir-akhir ini aku kurang menyenangkan. Mataku bisa tiba-tiba bengkak, menghitam dikantungnya. Aku tak yakin jika kau tak curiga. Kau hanya terlalu "sudahlah" untuk itu. Aku tau. Mungkin juga kau tidak menyadarinya, karena yang kau tau sepekan ini aku memang sibuk. Ya! Mungkin ini lebih tepat. Sebab kau adalah makhluk Tuhan paling toleran yang pernah kukenal. Sampai masalah hati pun iya juga. Hari ini kau bercerita. Kau bermimpi, dengan orang yang pernah dua kali kutemui. Meski samar, sangat samar. Jujur aku tak suka. Kau tau kan? Aku tak suka kau tersiksa. Tapi disatu sisi aku juga paham. Bahwa masalah hati memang tak mudah dipecahkan. Aku pun mengalami, meski maaf ...

Untuk dia yang menghilang

Aku rindu. Memang tengah merindu. Setelah pergimu, aku baru sadar. Bahwa kuatku memang karenamu. Engkau tega, meninggalkanku tanpa ada harapan untuk kembali. Dan aku hanya bisa menangis. Kau tau? Sekarang aku tak lagi jadi perempuan setangguh dulu. Kini aku tak lebih dari seekor burung yang kehilangan sebelah sayapnya. Atau banteng tanpa tanduknya. Badanku sekarang tak sekebal dulu. Aku bingung, badanku merapuh. Terkadang semuanya terasa menyakitkan. Salahnya aku ketika mencoba cari peduli. Dan semua nampak lebih hambar dan gelap. Maafkan aku. Sekarang aku lebih sering buang-buang air mata. Bukan karena menonton sesuatu. Aku menangis lebih karena sadar bahwa aku tak punya tempat mengadu. Padahal aku sendiri manusia biasa. Aku capek, juga lelah. Dahiku terasa panas, juga tanganku. Kakiku kadang-kadang dingin. Kepalaku sering tak terkendali. Apalagi perut yang sekarang sudah menembus punggung. Bernafas pun kadang terasa sakit. Saat aku kecil, akupun sering merasakan ...

Tikaku tiga

Sekarang kita ditinggal mamaa. Jauh. Di seberang pulau. Mungkin besok atau lusa, jika Tuhan mengizinkan. Waktu akan pertemukan kita kembali. Seperti dulu, empat tahun lalu saat kita benar tak saling tau. Kau anggap aku perempuan sinis seperti kebanyakan orang menilaiku. Dan aku bahkan tak mau tau namamu yang duduk dibelakang bangkuku. Ya, aku memang seperti itu. Hari itu, kau berdalih meminjam buku. Dengan orang yang hari ini kita sebut mamaa dengan kacamata kotaknya. Kau beberapakali kuingat tersenyum dan sesekali bingung. Untuk pertama kali, kau lihat senyumku-itupun kalau tidak GR. Hehe. Kau mungkin baru tau, kalau mamaa yang kita kenal sekarang memang teman satu SMP ku. Tapi asal kau tau, kenalku dulu dengan kenal kita sekarang sangat jauh berbeda. Dulu mamaa berteman dengan perkumpulan buruh ranking, sementara aku adalah buruh organisasi yang namanya beruntung masuk deretan kelas unggulan. Yang kuingat darinya hanya tukang nulis di papan tulis-karena tulisannya memang ra...