Tikaku empat
Aku menulis ini untuk jaga-jaga. Untukmu, dan keluargamu yang kusayang. Hei! Sekarang kau sudah tahu bukan? Bahwa sekarang aku tak lebih dari anak cengeng yang kesepian. Kalau belum, sini kuberitahu. Karena tulisan kemarin memang bukan untukmu, tapi untuk orang yang sudah pergi. Maaf yah, jika akhir-akhir ini aku kurang menyenangkan. Mataku bisa tiba-tiba bengkak, menghitam dikantungnya. Aku tak yakin jika kau tak curiga. Kau hanya terlalu "sudahlah" untuk itu. Aku tau. Mungkin juga kau tidak menyadarinya, karena yang kau tau sepekan ini aku memang sibuk. Ya! Mungkin ini lebih tepat. Sebab kau adalah makhluk Tuhan paling toleran yang pernah kukenal. Sampai masalah hati pun iya juga. Hari ini kau bercerita. Kau bermimpi, dengan orang yang pernah dua kali kutemui. Meski samar, sangat samar. Jujur aku tak suka. Kau tau kan? Aku tak suka kau tersiksa. Tapi disatu sisi aku juga paham. Bahwa masalah hati memang tak mudah dipecahkan. Aku pun mengalami, meski maaf ...