Untuk dia yang menghilang
Aku rindu. Memang tengah merindu.
Setelah pergimu, aku baru sadar. Bahwa kuatku memang karenamu.
Engkau tega, meninggalkanku tanpa ada harapan untuk kembali. Dan aku hanya bisa menangis.
Kau tau?
Sekarang aku tak lagi jadi perempuan setangguh dulu.
Kini aku tak lebih dari seekor burung yang kehilangan sebelah sayapnya.
Atau banteng tanpa tanduknya.
Badanku sekarang tak sekebal dulu.
Aku bingung, badanku merapuh.
Terkadang semuanya terasa menyakitkan.
Salahnya aku ketika mencoba cari peduli. Dan semua nampak lebih hambar dan gelap.
Maafkan aku.
Sekarang aku lebih sering buang-buang air mata.
Bukan karena menonton sesuatu.
Aku menangis lebih karena sadar bahwa aku tak punya tempat mengadu. Padahal aku sendiri manusia biasa.
Aku capek, juga lelah.
Dahiku terasa panas, juga tanganku.
Kakiku kadang-kadang dingin.
Kepalaku sering tak terkendali.
Apalagi perut yang sekarang sudah menembus punggung.
Bernafas pun kadang terasa sakit.
Saat aku kecil, akupun sering merasakan hal yang sama. Bahkan lebih.
Tak terhitung berapa kali darah mengucur dari hidungku.
Tak bisa kuhitung berapa kali tubuhku mulai melemas.
Tapi aku kuat, karena kau ada.
Sekarang muntahpun aku menangis.
Lalu kupaksa pil pahit merasuk di kerongkonganku.
Yang dulu samasekali tak mau kulirik. Bahkan pernah kubuang.
Karena aku yakin, obat bukan hanya pil itu. Tapi kasihlah yang sebenarnya menyembuhkanku.
Komentar
Posting Komentar