Tikaku tiga
Sekarang kita ditinggal mamaa. Jauh. Di seberang pulau.
Mungkin besok atau lusa, jika Tuhan mengizinkan. Waktu akan pertemukan kita kembali.
Seperti dulu, empat tahun lalu saat kita benar tak saling tau.
Kau anggap aku perempuan sinis seperti kebanyakan orang menilaiku. Dan aku bahkan tak mau tau namamu yang duduk dibelakang bangkuku.
Ya, aku memang seperti itu.
Hari itu, kau berdalih meminjam buku. Dengan orang yang hari ini kita sebut mamaa dengan kacamata kotaknya.
Kau beberapakali kuingat tersenyum dan sesekali bingung.
Untuk pertama kali, kau lihat senyumku-itupun kalau tidak GR. Hehe.
Kau mungkin baru tau, kalau mamaa yang kita kenal sekarang memang teman satu SMP ku.
Tapi asal kau tau, kenalku dulu dengan kenal kita sekarang sangat jauh berbeda.
Dulu mamaa berteman dengan perkumpulan buruh ranking, sementara aku adalah buruh organisasi yang namanya beruntung masuk deretan kelas unggulan. Yang kuingat darinya hanya tukang nulis di papan tulis-karena tulisannya memang rapih. Harus diakui.
.
.
.
Sekarang memang kita sudah tak sepaket lagi.
Apa kau tau betapa jengkelnya aku saat ditanya "dimana temanmu yang satu?"
Iya, aku jengkel. Karena sedih mungkin.
.
.
.
Tak banyak yang tau bahwa kita tak selalu baik-baik saja.
Semua tak lepas dari soal bahwa bukan hanya aku kawanmu, juga bukan hanya kalian temanku.
Kesibukan dengan kecintaan kita masing-masing pernah memberi sekat. Meski tak pernah sekeruh masalah orang diluar sana.
Aku tau, kau sedih.
Kau pasti tidak selalu suka dengarkan pengalamanku yang bebas berekspresi.
Sementara kau hanya bisa mengurung diri. Lebih tepatnya dikurung di kandang sendiri.
Inginku ajak kau bernakal-nakal, tapi sekali kulihat kau tampak kurang sehat, terkubur sudah khayalan itu.
Aku sebenarnya hanya ingin kau membuka mata. Melihat dunia.
Bahwa bumi tak hanya sebatas pagar rumah dan pagar kampus. Hehe.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kau memang tidak cocok dengan duniaku.
Mamaa pun punya dunianya.
Dunia yang kita berdua enggan memasukinya.
Terlalu dewasa. Terlalu baik-baik saja. Terlalu dan terlalu. Hahaha.
Sekali kita mengekor, tidak akan ada lagi agenda besok.
Teman-teman bingung
Kita pun sama bingung
Bagaimana bisa tiga karakter dan watak yang sangat jauh berbeda terkumpul dengan apiknya
Bahkan kita tak biarkan sembarang orang larut dalam pembicaraan rahasia kita. 😁
Kita pernah dengar, hidup itu harus saling melengkapi.
Dan mungkin inilah nyatanya.
Kau yang cerewet, Aku yang cuek, Dan Mamaa yang memang ke-mama-an.
Harapan suatu saat akan berbagi kenangan selalu ada.
Sekali lagi, jika Tuhan mengizinkan.
Titip kenangan yah. Kalau tassakko'ka berarti kalian yang ceritaka.
Mwehehehe.
Ohiya.
Kalian harus tau.
Meski kalian hanya menganggapku sebatas teman, lebih dari itu, sebenarnya kalian sudah kuanggap keluarga. Seperti yang sering kita bicarakan. Dan bikin orang pusing dengan silsilahnya😁
Sudah, takut mewek. Banyak orang.
Bye😝
Komentar
Posting Komentar