Mu

Sekitar 2015 lalu, aku bertemu kenalan baru. Tidak akrab, hanya tau nama. Saat aku dan teman tertawa, ia ikut senyum. Tipis sekali tapi, aku kadang-kadang melihatnya dari ujung lihatku.

Sejauh yang kuingat, kerap ia memakai kaos putih. Jujur, aku tak begitu peduli. kau tau bukan? Aku dijuluki si dingin hati.

Hampir di setiap akhir pekan kami bersua, tidak ada pembicaraan. Aku bahkan tak ingat sama sekali obrolan kami, yang kutau pasti, tak ada yang menarik.

Posturnya cukup tinggi, entah berapa senti dariku. Sepertinya tak terlalu jauh.
Sekali mataku tertumbuk, aku langsung tertunduk. Haha, sekilas kulihat matanya yang jauh besar dari mata minimalis milikku.

Setahun berlalu, tidak ada yang spesial. Sama sekali. Lalu tiba hari, kudengar ia akan merampungkan pendidikannya.

Saat kakak sepupu menceritakan dengan hebohnya, aku iya iya saja. Takut disangka tak sopan hahaha.

Padahal dikepalaku saat itu hanya "apa hubungannya denganku?" Wkwkwk aku sebodoamat itu hahaha.

Entah setan apa yang merasukinya kala itu. ia menghampiriku, bertanya nama facebook.
Astaga Tuhan, orang ini kenapa? Kenal saja tidak.
Tapi karena menghindari pembicaraan panjang, kusebutlah nama fb ku yang agak alay itu. Ehehehe. Ia berterimakasih, lalu pergi.

Aku dalam hati, "apaansi?". Kulanjutkan game 2048 ku. Pro sekali aku waktu itu. Wahaha.

Lagi lagi waktu berjalan, tiba hari menjelang wisudanya. Kudengar ia dan sepupuku saling sikut hanya untuk mengajakku datang ke acara itu.

"Ajakmi, cepat!", dalam logat makassar dan nada yang agak tinggi sepupuku memaksa.

"Malu-maluka, nda tau apa mau kubilang", katanya setengah berbisik tapi kudengar jelas. Untuk saat seperti ini, telingaku bagus sekali, hahaha.

Aku main hp saja, tertawa jika lucu, diam kalau garing.

Entah berapa menit mereka saling dorong. Ia akhirnya kalah, lalu berjalan mendekat.

Aku dalam hati "apaan ni?", kucoba tetap santai wkwkwk.

"Datangki' hari ..... nah", tidak kuingat jelas apa kalimatnya. Yang kuingat hanya kakunya. Lucu juga ini orang hahaha.

"Oiye, insha Allah nah", disitu aku benar munafik. Dalam hatiku teriak, "YA OGAHLAH WOYYY... ngajak gua cerita aja kagak pernahhh". Tuh kan, ngegas.

Eh tapi karena tak ada yang mengantarku pulang ke kosan, ia ditunjuk eh disuruh membawaku pulang. Aku ditanya bersedia atau tidak.

Dikarenakan bokek, aku iya iya saja. Sayang kalau gajiku hari ini untuk ongkos bentor. Mwehehe.

Pelan sekali ia membawa motor, tidak kusangka, ia cukup banyak bicara kali ini.

Sialnya, aku lebih banyak hah heh hah heh, telingaku tersumpal angin.
Hanya satu pertanyaan yang kujawab jelas, semester berapaki? "ENAAM!", dengan sangat ngegas.

Aku sampai di kosan, kuucap terimakasih lalu melengos masuk. Seperti biasa.

Sekian hari berlalu, sesampai di tempat sepupuku, ia mengingatkan acara itu.
Mampus! Aku betul-betul lupa soal itu.

Kepalaku sibuk mengatur strategi ngeles.

5 menit, 10 menit.
Aku benar-benar tidak datang dengan sejuta alasan pada sepupuku.

Aku menang, ahaha.

Waktu berlalu lama lagi.
Tidak kapok-kapok, ia meminta sepupuku menerima invite an nya di fb. Oalah, aku benar-benar sudah lupa hal itu. Sudah berbulan-bulan sekali.

Dengan pasrah dan santai kubuka fb, mencari namanya diantara ratusan nama yang tidak kukenali. Lalu ku pilih Agree.

Kupikir akan terjadi interaksi, ternyata tidak sama sekali. Ku like beberapa foto yang diuploadnya. Sialan sekali, tak satupun fotoku yang di like balik.

"Udah ah, bodoamat", seperti biasa aku tidak begitu peduli.

Berbulan-bulan, bahkan mungkin tahunan aku tidak pernah bertemu lagi. Jika si sepupu tidak membahasnya, pasti sudah kulupa jauh-jauh hari.

Sepupu via wa
"Imma, kukasi no ta ..... de nah, namintai"

"Hah? Mau na apa kak?", balasku. Bego sekali, yakali no wa buat cemilan.

"Mau bede berteman wa"

"Oiyekak", sungguh sangat pasrah.

Logikanya ya, normalnya, tentu setelah minta kontak di chat dong? Atau apa gitu?

Eh tapi berhari-hari, minggu, bulan, tidak ada tanda-tanda perpesanan. Ahsudahlah, paling koleksi kontak doang. Pikirku.

Lah tapi tapi(maaf banyak tapinya), di waktu aku sudah hampir pikun dengan acara minta nomer orang lewat orang lain itu, sebuah chat pribadi dengan foto profil tidak asing nangkring di paling atas room chatku.

Assalamu'alaikum, katanya.

Kebetulan onlen, langsung kujawab.

Wa'alaikumsalam, iye.

Anjirlah, sok sopan sekali aku ini. Ahahaha.

Ditauja?, polos sekali.

"Iyalah, itu dp ta e", mulai ngegas.

"Kukira dilupama", apa apaan coba ini mahluk. Pas ditungguin, kagada. Pas dilupain, eh nongol.

Berniat balas dendam, kubiarkan chatnya. Kubalas di esok hari.

Begitu terus, kami chat an berhari-hari. Tapi isinya bisa dihitung pakai jari.
Ia membalas sejam dua jam, lalu aku sehari setelahnya. Bagus bagus.

Kupikir akan mundur, tapi ternyata tidak fergusso...

Dikarenakan chat di hp ku menumpuk, namanya tenggelam. Jauh sekali.
Baru kulihat seminggu kemudian. Sudah basi pasti, jadi kuabaikan.

Entah sebulan, dua bulan kemudian ia mulai lagi. Ngechat.

Tarik napas dalam dalam, tahan sejenak, dan....

"NI ANAK MAUNYA APASI?"
Huh, puas. Dalam hati tapi.

"Mauka ke bone ini?", katanya via chat.

Lah Terus? Korelasinya denganku? Lu mau kemana kek, bodoamat woeee BODOAMATTT

"Oh, mauki kemana?", biar disangka santai. Padahal gaspolnya bukan main.

"Kerumahta to?"

Tunggu, tunggu

Wait wait. Apalagi ni? Apalagi?
Mau ni anak apa HAH?
Jiwa ngegasku menggeliat.

Tarik napass, buang, tarik napass, buang.

"Oh, samaki kak fitri?"
Mantap, aku sok cool sekali.

"Iye, samaka" katanya.

Yaudah, bodoamat.

Aku berganti pakaian menuju acara saudara. Perempuan sekali penampilanku hari ini. Jujur aku jijik, sedikit tidak nyaman.
Tapi untuk mama yang hanya punya anak satu laki dan satu perempuan, yasudah. Okelah.

Belum juga aku berganti pakaian lepas acara tadi, mobil putih milik sepupuku sudah mampir di parkiran depan rumahku.
Waduh mampus, gimana caranya kabur ini? Wkwkwk

Untung ada si bocil, ponakanku sang hiperaktif. Dia lari mirip teletubbies yang rindu sekali. Kusambut pelukannya, hebohnya bukan main.

Seharian kutemani si bocil, makannya lahap sekali saat kusuapi.
Sampai di pesta ia harus kupangku dan kupeluk keras-keras. Sekali lepas, bahaya. Bisa tidak terkendali jejingkrakan.

Walau memakai wedges, cara jalanku masih sama. Langkah super panjang, tambah kecepatan luar kendali. Apalagi si bocil yang kupegangi.

Dia diam-diam sekali, kuanggap saja dia tak disini. Huft.

Dari tadi cuma bisa bilang iye doang.
Yaelah, ini kenapa dah?

Pulang ke rumah betisku mau pecah.
Heran aku, kuat sekali para perempuan menyiksa betis dengan heels.

Hampir tengah malam, bapak menyalakan api. Katanya untuk membakar jagung yang baru diambil tadi.
Yes! Makan enak asikk!

Semula tak terjadi apa-apa. Aku yang dasteran menyuapi si bocil.
Eh, tapi ni ya tapi..
Mama, bapak, sama emak bapak si bocil kompak ke ruang tamu.
Tinggallah aku, bocil, sama ini anak.

Aku cuek, main becandaan sama bocil.

"Dimanaki tinggal?", lah bisa ngomong lu tong?

"Pallantikang", judes sekali aku.

Pembicaraan agak jalan, sampai emakku masuk dan dia balik diem bae.
Kuyakin emak sempat nguping. Yaudasih. Pertanyaan juga standar bener.

Aduh, ada yang terlewat ceunah.

Sebelum acara bakar jagung dan tiba-tiba dia ngomong, kami segerombolan sempat ke acara lain.

Disana aku disuruh menggendong sepupu junior yang sempoyongan karena ngantuk. Eh, tau gak? Si bocil kesurupan mau digendong juga.

Bingung dong.

"Tidak bisaka gendong duaki. Disanapi nah, dekaji rumahna ade", aku berusaha ngebujuk. Tapi nihil. Ditawari mamanya digendong dia tapi gamau sama sekali.

Akhirnya, setelah beberapa meter. Sepupu junior kuserah terima sama emaknya. Bocil kugendong. Senengnya bukan main.
Padahal tidak lama, dia minta turun sendiri.

Dasar, bisa jealous juga si bocil.

Singkat cerita kita pulang, mereka masih cerita panjang lebar kali tinggi dah pokoknya.

Maag ku kambuh, lalu kutinggal baring.
Karena tak ada tanda-tanda pamit, aku tidur duluan.

Berjam-jam kemudian, mereka pulang. Sebenarnya aku masih sedikit sadar, tapi badan sudah tidak bisa diajak bangun.
Yasudahlah, anggap saja aku tidur.

Apa gunanya wa? Kan bisa minta maaf ketiduran wkwkwk.

Ya Allah, jariku keriting ngetik mulu.
Panjang bener dah.

To be continued aja deh. Cape.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baru

stronger