Tidaktau
Suatu hari dimana aku kehilangan asa.
Di depan cermin, aku menatap nanar. Pemilik titipan raut muka datar, tipis senyum.
Menjadi sebuah kebiasaan, sehabis ditelepon, saling tatap diri dimulai.
Satu persatu kata yang dilontarkan via ujung telepon kembali membayang.
Tidak frontal, tapi jelas sekali maknanya.
Bibirku mulai bergetar, badan lemas, hati yang keram, mata mulai terasa panas.
Dalam hati, kuberteriak. Keras.
Iya, aku tahu aku jelek!!!. Air mata tak tertahan, menderas seiring teriakan dalam hati.
IYA, aku tahu aku tidak punya apa-apa..
IYA, aku tahu pekerjaanku tak pantas dibanggakan.
Aku gagal. IYA, aku tahu benar!
Tanpa perlu diingatkan, aku sudah tahu. Tahu sekali. Sangat, sungguh sangat tahu.
Selain Tuhan, aku tak punya siapapun untuk mendengar nanarku.
Aku selalu berteguh untuk tidak bercerita dengan manusia, sekalipun teman.
Sebab kutahu, masalah ini tak ada apa-apanya dibanding ujian orang lain.
Aku hanya si pengeluh.
Setiap hari kucoba menata hati.
Pagi yang berat kucoba ringankan dengan helaan nafas panjang.
Bergelut dengan perasaan gagal didada agak menyesakkan, juga menyebalkan.
Aku hanya berharap ditunjukkan jalan.
Untuk sekarang, aku buntu. Hilang arah, juga cahaya.
Cobaan silih berganti. Bahkan beruntun. Hatiku mulai tak rasakan apapun lagi.
Aku hanya tak boleh letih berbuat baik bukan??
Tuhan, kupercaya ini yang terbaik untukku.
Komentar
Posting Komentar