(luka)
Caraku meyayangi justru membuatnya berpikir tak dihargai. Lalu pergi, tanpa aba-aba, juga permisi. Bahkan sebelum (luka) ini mengering. Secepat itu kabar menyapa. Kabar bahagia yang datang, namun yang kurasa justru kehancuran. Ya, Ia telah temukan tambatan. Dikeheningan, aku hanya bisa terdiam. Memaku sejenak pada lukis takdir yang tak pernah direncana. Kutegarkan hati mengucap doa dan selamat. Karena disetiap pertemuan, akan ada pisah di penghujungnya. Aku hanya tidak menyangka. Bahwa segalanya harus berhenti, bahkan sebelum aku mengawalinya. Tuhan adalah sebaik perencana. Entah sampai kapan hati meluka. Semoga secepatnya. Kutau waktu tak pandai membuat lupa. Harap-harap, ada bahagia yang tengah lebarkan peluknya. Aku tidak sendiri. Luka ini saja yang membutakan hati. Semoga lekas pulih.