Selamat (Tinggal)
Untukmu, yang pernah mengintip
Untukmu, yang pernah dinanti
Untukmu, yang sudah pergi
Terjawablah semua doa.
Sejak hari dimana tanyamu mengagetkanku,
Hari dimana aku sejenak mematung
Tak hambar seperti biasa.
Sungguh niat yang baik, pikirku kala itu.
Namun, disisi lain
Aku masih imma yang pemalu.
Masih imma yang gemar keluyuran.
Bahkan saat kuterima pesan pendekmu,
Aku masih bertukar pesan panjang lebar dengan teman yang baru kukenal.
Akrab sekali, tak habis-habis ceritaku.
Bahkan kami saling tukar candaan yang terlalu akrab untuk orang yang baru berkenalan dua bulan.
Pesan mengalir begitu saja.
Ia bahkan tak segan menyuruhku jadi tukang galon hanya karena aku dengan terlalu santai mengangkat galon yang terisi penuh.
Tak sampai situ, terlalu banyak hal yang bisa jadi bahan candaan.
Entah, lama-lama ini kurasa terlalu jauh.
Kerap aku cekikikan bahkan di depan teman kamar kosan.
Tak jarang ia menggodaku.
Mungkin ia heran, si datar lagi ngobrol bareng siapa sampai segitunya ahaha.
Lalu, aku salah.
Kutinggalkan ia begitu saja.
Tanpa penjelasan.
Jahat sekali aku ini :(
Pikiranku saat itu terlalu kekanakan.
Karena janjimu, aku berpikir untuk batasi diriku, pergaulanku.
Ucapanmu membawaku pada doa-doa.
Lalu, kusisihkan ia yang selama ini membuatku ceria.
Tuhan, naifnya aku :(
Sempat ia mengeluh
Katanya, aku agak berubah.
Tak bisa kusebut alasannya,
Lebih kupilih menghindar.
Astaga, pengecut sekali diri ini :(
Lalu bulan berganti, ia yang tadinya terus membuatku cekikikan lambat laun juga hilang.
Ya, kami hanya jadi sebatas penonton story ahaha.
Di setiap doa, kuminta Allah pilihkan yang terbaik untukku.
Kenapa?
Aku pernah membaca ini
"Mintalah pada Allah, apapun itu. Karena Allah melihat apa yang tak kau lihat. Sebagaimana Allah mendengar apa yang dirahasiakan manusia"
Wah, baiqlah. Pilihan Allah ternyata cukup membuat jantungku kalap.
Siapa yang menyangka?
Janji yang selama ini kupegang malam itu terbuang begitu saja.
Memang, beberapa waktu belakang kami renggang. Bahkan lebih jauh dari biasanya.
Ternyata, selama ini.
Selama penantianku atas jawaban doa dan harapan yang ia beri.
Hal yang kukhawatirkan terjadi.
Ia temukan kenyamanan yang lain.
Ia temukan hati yang menyambut.
Bahkan, janji yang telah ia beri padaku juga ia bagi pada orang lain.
Lalu pilihannya? Tentu saja bukan aku.
Bonusnya, wanita itu kerabat dekat teman yang amat dekat denganku.
Bagus, mangtab, double kill!!
Temanku berpura tak tau apa-apa.
Ah, sudalah. Tolong berhenti mengelak dari mata orang penilik sepertiku.
Mulutmu bisa berbohong, tapi matamu tidak akan.
Huh.
Malam itu rasanya aku dibohongi semua orang.
Aku dikibuli bahkan oleh orang yang kuanggap saudara sendiri.
Bodohnya aku ini.
Tak ada yang bisa kulakukan selain menatap nanar ubin, lalu jatuhlah buih semua sakit yang datang bertubi.
Egois sekali ya, anda.
Setelah semua drama ini, ternyata rencana dengan wanita tadi tak jadi.
Lalu kau ingin kembali?
Tolong ya, choose me or leave me.
And a second time ago, you leave me.
And thats it!
Kemudian,
Hari ini ia memasang story.
Undangan.
Woah!
Dengan wanita yang beda lagi.
Aku harus bertepuk tangan.
Kau adalah orang sangat mudah berpindah hati.
Semoga bahagia mengiringi.
Biar ikhlas memudahkan jalanku, pun jalanmu.
Aku hanya sedikit kecewa
Bagaimana orang bisa berpura-pura sebegini lucu?
Kini, dihadapanku, semua orang bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.
Tapi sebagai orang yang kerap memerhatikan, sungguh aku terpaku pada kecewa disetiap raut dan gerik.
Tak apa, imma.
You deserve to be happy
Just be patiently.
Selamat (tinggal).
Segera, bayangmu pun akan hilang.
Terimakasih untuk skenario hidup di tahun covid.
Semua pelajaran hidup ini, akan kujadikan cerita untuk anak-anakku nanti.
Bahwa, sebagaimanapun usaha dan doamu, jika ia bukan takdir. Sudahlah, relakan saja.
Yang melewatkanmu bukan takdirmu sebagaimana
Takdirmu tak akan pernah melewatkanmu
Komentar
Posting Komentar