Tikaku empat
Aku menulis ini untuk jaga-jaga.
Untukmu, dan keluargamu yang kusayang.
Hei!
Sekarang kau sudah tahu bukan?
Bahwa sekarang aku tak lebih dari anak cengeng yang kesepian.
Kalau belum, sini kuberitahu.
Karena tulisan kemarin memang bukan untukmu, tapi untuk orang yang sudah pergi.
Maaf yah, jika akhir-akhir ini aku kurang menyenangkan.
Mataku bisa tiba-tiba bengkak, menghitam dikantungnya.
Aku tak yakin jika kau tak curiga.
Kau hanya terlalu "sudahlah" untuk itu. Aku tau.
Mungkin juga kau tidak menyadarinya, karena yang kau tau sepekan ini aku memang sibuk. Ya! Mungkin ini lebih tepat.
Sebab kau adalah makhluk Tuhan paling toleran yang pernah kukenal.
Sampai masalah hati pun iya juga.
Hari ini kau bercerita.
Kau bermimpi, dengan orang yang pernah dua kali kutemui. Meski samar, sangat samar.
Jujur aku tak suka.
Kau tau kan? Aku tak suka kau tersiksa.
Tapi disatu sisi aku juga paham.
Bahwa masalah hati memang tak mudah dipecahkan. Aku pun mengalami, meski maaf sekali tak bisa kucerita.
Itu sama saja merobek luka yang mulai kering.
Aku selalu suka mendengarmu bercerita dengan semangatmu yang memburu.
Apalagi dasarku memang pendengar, sekali kucoba bercerita, pasti ada acara gagap dan gaje.
Aku sadar, kau pasti menyadarinya juga.
Kau hanya tak mau membuatku kecewa dengan memotongnya, dan aku berterimakasih untuk itu.
Tak banyak yang mau dengarkanku.
Mungkin itu juga yang membimbingku jadi pendengar yang cukup baik.
Ditengah pembicaraan kita yang heboh luar biasa, Ummi mu datang.
Memberi pilihan.
Kalau tak mau menginap, aku harus pulang.
Kita diam, dengan tatapan yang sejujurnya ingin terbahak.
Langkahku cepat, beralasan shalatnya nanti di rumah saja.
"Shalat memang, nanti di rumah kau pasti mau tidur saja" kata Ummi mu.
Aku mematung, lekas merebut mukenamu. Lalu kugelar sajadah.
Kau tau?
Sejujurnya aku senang.
Sangat menyenangkan rasanya ketika kau diperlakukan dengan baik. Sangat baik.
Apalagi semalam aku buang-buang air mata.
Bercermin pun aku seolah tak kenal.
Mataku merah, bengkak, rambut tak karuan.
Aku tengah dilema.
Apa iya aku harus tinggalkan ini semua?
Apa benar aku harus pergi lebih jauh lagi?
Haruskah kukubur impian lamaku?
Baik, sekarang aku benar-benar akan bercerita.
Kau tau?
Semalam mamaku menelepon.
Menanyakan kabar juga pekerjaan.
Kau sudah tau bukan? Bahwa aku tak kuat bekerja disana?
Aku sakit.
Demam, otot dan sendiku nyeri, kepalaku kadang tak karuan, apalagi maag yang menyiksa lambung dan menembus punggung.
Belum lagi jika makanan yang baru kutelan keluar tanpa permisi.
Kau pernah bayangkan?
Tinggal sendiri, di tempat yang antah berantah. Sepi.
Jauh dari orang tua, keluarga, juga rumah.
Lalu kau sakit, tanpa ada tempat mengadu.
Mengadu pun kau hanya dapat jawaban yang itu-itu saja.
Aku hanya bisa menangis.
Melihat makanan yang sudah hancur berantakan melalui mulut dan hidung.
Kau boleh mengeluh, Abimu terlalu sering menghubungimu.
Tapi kau harus ingat.
Ada aku yang ingin menelepon pun harus lewat tetangga.
Berhari-hari bahkan minggu tak ditanyakan kabar sudah terlalu biasa untukku.
Aku kadang berandai.
Jika aku sakit, parah. Lalu tak ada yang mengetahui.
Kalau seminggu baru dihubungi, bisa jadi aku sudah tak bernyawa lagi.
Ini hanya andaian, tapi mungkin sekali terjadi.
Aku hanya ingin bilang.
Kau harus bersyukur dengan keluarga yang dianugerahkan padamu.
Banyak anak-anak kesepian yang menginginkan itu. Termasuk mungkin aku.
Sekarang aku merasa tak lebih dari beban yang punya banyak hutang. Dan bingung bagaimana membayarnya.
Jika aku bersikeras tak ingin tinggalkan kota yang pertemukan kita, tak akan ada yang berubah.
Aku akan tetap jadi beban untuk semua orang.
Aku hanya ingin mereka yang kusayang bahagia. Meski tak kuharap mereka juga pikirkan kebahagiaan versiku.
Karena bagiku bahagia bukan tentang materi, tapi hati.
Namun jika keadaannya terus seperti ini, tampaknya aku memang sudah dipaksa waktu untuk beranjak.
Tinggalkan zona yang sudah begitu nyamannya.
Denganmu, juga keluargamu yang tak bisa kuungkapkan dengan bahasa.
~
Komentar
Posting Komentar