Catatan seorang relawan
Ahad, 08/10/2018
Sudah hari ke 8 pasca gempa hebat ditambah tsunami dahsyat melanda kota Palu dan sekitarnya. Jika televisi menayangkan kondusifnya kota Palu, hal demikian nampak tak serasi dengan yang kupandangi hari ini.
Seorang Ibu yang tak sempat kutanyakan namanya tengah berdiri, menatap kosong ke arah puing-puing yang disinyalir milik keluarganya. Meski sudah tergeser amat jauh (sekitar 300 meter), keyakinannya tetap teguh.
Beliau mulai bercerita, kala rumah dan isinya terombang ambing gerakan buas tanah yang tadinya baik-baik saja.
"Tidak ada tanda apa-apa. Tanah langsung berguncang hebat, bergeser, terbelah, berputar, lalu ambruk tak karuan" katanya.
Matanya mulai berair kala menceritakan kedua anaknya yang sedang lucu-lucunya.
"Ini anak saya, masih lucu-lucunya", Ujarnya sembari memperlihatkan gambar kenangan anaknya yang terlihat bahagia. Satunya terlihat gembul, yang lainnya nampak manis dengan senyumnya yang merekah.
"Saya rasa mau gila sudah" Matanya berapi-api, memerah dan makin menggenangkan air mata.
"Saya cuci pakaian anak saya yang tersisa, siapa tahu nanti saya punya anak lagi", lanjutnya. Matanya nanar, ingin berharap, namun keadaannya masih terlalu rindu kedua anaknya.
Sejenak aku tertunduk, kudapati teman tengah menghapus air mata yang tak kuasa tertahan mendengar kronologis kejadiannya.
"Itu tanah langsung bergerak. Saya bingung. Saya hanya bisa berteriak. Ipar saya yang mendengar langsung memeluk saya"
Ia juga mengungkapkan, setelah kejadian 15 detik di kala maghrib itu selesai. Ia sudah tak tahu apa-apa. Anak-anak kesayangannya sudah entah kemana. Entah lari, terjepit, ataukah sudah tertimbun reruntuhan rumahnya sendiri. Tiap menjelang maghrib Ibu ini sibuk mengerjakan apa saja yang bisa alihkan dukanya mengenang waktu yang merenggut buah hatinya.
Saya merasa bersalah, tidak bisa berbuat banyak.
"Tak apa Ibu, semua akan Allah gantikan dengan yang lebih baik, anak-anak ibu akan menjemput Ibu menuju Jannah" kataku, sambil kuelus lengan kirinya. Seorang teman mengelus pundaknya coba menguatkan.
Kulihat secercah harapan di matanya. Ada ucapan aamiin yang penuh harapan di dalamnya. Ucapan terimakasihnya sungguh berat kuterima, jika ada kata maaf akan kulakukan. Tapi tugasku bukan untuk membuatnya semakin sedih. Kita semua tahu, menata hidup kembali di keadaan yang tak bisa kugambarkan dengan baik ini bukan perkara mudah.
Butuh waktu mengikis duka yang tak terhitung ini.
Kupandangi punggungnya yang beranjak pergi. Bahkan dari belakang tubuhnya masih terasa hawa kedukaan yang sangat dalam. Tak terasa air mata pun menggenang, lalu mengucur. Kuasa Allah adalah benar-benar Maha Kuasa.
Rencana-Nya adalah rencana yang paling indah namun kadang kita tak mampu memahaminya.
Semoga Ibu dan kedua anaknya ini dipertemukan di syurga dan berbahagia. Aamiin
Komentar
Posting Komentar