Untitled
Ketika kita sibuk memoles rumah dengan warna cat baru..
Saudara kita justru tengah mengais-ngais di puing reruntuhan rumah mereka.
Ketika kita merasa kacau menunggu lampu lalu lintas yang tak kunjung hijau di jalan pulang..
Saudara kita justru coba sibukkan diri melupakan maghrib yang tak ingin mereka ingati.
Saat kita kesal karena anak-anak begitu melelahkan hari ini..
Saudara kita justru tak mau putus harapan menjemput anak-anaknya yang sudah tertimbun puing dan lumpur.
Jika hari ini kita mengeluh karena Ibu hanya sediakan lauk tempe dan tahu..
Bagaimana saudara kita yang ingin beras pun harus berebut..
.
.
.
Tuhan Ada..
Tuhan sayang..
Tuhan sedang rindu saudara kita yang di Sigi, Donggala, dan Palu.
Semoga mereka diberi sabar dan ketabahan yang berlapis.
Mengikhlaskan kepergian sanak keluarga yang hampir tak terhitung.
Semoga Tuhan mengampuni segala khilaf yang diperbuat di masa hidup.
Pertanyaan hari ini adalah,
Siapkah kita membantu?
Siapkah kita meringankan beban saudara kita yang luka hati, jiwa, dan mentalnya?
Masih adakah kita sebagai saudaranya?
Komentar
Posting Komentar