Pembaktian

Kami bahkan belum saling kenal. Baru satu atau dua yang namanya sering terdengar. Salah satunya namaku, tepatnya kembaran namaku. Dan itu membuat risih sekali.

Berjalan di terik langit kota Palu yang capai empat puluh derajat.
Tentu kami kelemar sana sini.
Mengeluh kepanasan, namun membungkusnya dengan canda.

Sekali lagi, kami tak kenal.
Wajahpun masih samar-samar.
Seperti yang biasa kulakukan. Ketika mereka coba mencanda dan tak masuk diakalku, cuekan adalah hadiahnya. Kalau beruntung, mereka akan terima tatapan penuh cintaku yang kuyakin tak akan ada yang mau.

Menyusuri rumah terpal warga yang didindingi seprei seadanya.
Bayi, anak, orang tua dan lansia bersama.
Saling menguatkan di sisa trauma bekas bencana sepekan kemarin.

Beberapa kami temukan tak fit. Tentu dengan keluhan sakit demam atau diare.
Kalau kau melihat kondisinya langsung, kau tak akan heran. Sebab tenda dengan angin yang bebas kesana kemari sudah jadi tersangka utama.

Satu anak yang terluka di kepala ditindaki. Robek bekas timpaan batu bata yang menganga dan mulai bernanah disapu dengan kain kasa dan apalah namanya.

Beberapa ibu yang tengah hamil juga turut merapat. Memeriksakan tekanan darah. Yang lain menitip dukanya.

Kaki tak terasa lelahnya jika bayangkan kejadian sepekan lalu. Saat air pasang dari arah laut biru yang sekarang nampak begitu tenang tetiba menghantam.
Meluluhlantakkan apapun yang disapunya.
Meski sekarang nampak begitu elok. Bergerak pelan ke arah tepi.
Menemani santap sore sepanci ayam dalam bentuk indomie.
Sedikit berebut sendok dan piring lalu tertawa.

Sayang, aku tak begitu antusias sekarang.
Lebih kupilih menyendiri.
Duduk di atas serpihan tembok di atas pasir berbatu pantai.
Menikmati angin dan biru laut.
Juga menjadi penikmat candaan yang mereka buat. Dari kejauhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger