Rule
Teman, teman dekat, sahabat
Dulu, 8 tahun lalu, aku kerap menunduk.
Menjadi seorang pemalu sungguh ujian yg agak menyiksa. Apalagi dibekali Tuhan dengan raut wajah dingin, salah sangka sering sekali terjadi.
Jutek
Sombong
Pongah
Penuh menyumpali telingaku.
Aku hanya tidak paham. Bagaimana mungkin seseorang melemparkan senyum pada orang yang tak begitu dikenalnya.
Lumrahkah memberi kontak whatsapp begitu saja setelah bertukar nama.
Itu benar-benar tak masuk diakal. Setidaknya diakalku.
Memiliki teman se-geng di putih abu seolah jadi berkah untukku.
Berorganisasi bersama, bahkan mengatur posisi bangku pun sama-sama.
Lalu aku mulai bingung kala dikata egois, tanpa embel-embel lagi
Aku didiamkan, dibuang, dikucilkan.
Untuk seseorang yang sukar berkenalan, aku kecewa.
Percayaku pada teman sudah makin meluruh.
Aku tak pernah bersemangat lagi, diamku makin menjadi.
Tiga tahun berselang, kududuki sebuah kampus.
Tidak pernah kuduga bagaimana kampus yang awalnya kupikir menyeramkan telah membawaku pada takdir pertemuan yang tak kusangka.
Icha, yang memang kutau namanya di bangku putih biru seolah berubah. Merubah tingkahnya jadi orang yang selalu kubutuhkan. Entah jadi teman atau sebagai orang tua.
Ya, dia terdewasa pikirannya.
Lalu ada Arman, si cempreng penyuka anime yang menurutku cukup banyak bicara. Yaa bisa dikata cerewet lah.
Manusia ini adalah orang asing pertama di kampus yang bisa membuatku buka suara.
Tak lama setelah mengenal Arman, Tika menjadi orang selanjutnya yang bisa cairkan wajahku.
Sifat bawaannya yang periang selalu menularkan tawanya padaku.
Terakhir Ridwan, personil terakhir yang justru membuat keberlimaan ini menjadi circle. Bermula dari saling membantu kerjakan tugas, kami jadi makin erat.
Dialah yang menobatkan circle ini sebagai sahabat. Sahabat yang terlambat katanya.
Meski menurut kita persahabatan ini terlambat, kuyakin ada hikmahnya.
Jika ini takdir Allah, maka inilah yang terbaik.
Kini kita sudah terpisah, sudah tak sekelas lagi.
Rencana yang ditata juga sudah jauh berbeda.
Kita banyak bertemu dengan orang baru, atau kenalan lama yang dekat kembali.
Meski begitu, tempat kalian tidak bisa digantikan. Sudah tersegel, hehe.
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengar kabar bahagia dari kalian. Entah cita, cinta atau harapan.
Bersama kalian aku belajar, bahwa saling mengerti, saling mendukung, saling menenangkan adalah kunci utamanya.
Susah senang, sedih bahagia, semua dibagi agar lebih ringan. Kurasa itulah tujuannya.
Apapun itu, bagaimanapun itu, berceritalah kawan. Delapan telinga akan mendengarkan, sebagian mulut akan menenangkan. Lalu sebagian lagi mengompori!
Hehe, itu seninya fren :')
Komentar
Posting Komentar