2019, is end
2019.
Tahun berat, hampaku belum berakhir.
Sesatku belum berujung.
Kucoba sibukkan diri,
Setelah drama hidup sepanjang tahun.
Acara insomnia berat, maag akut, stres, juga pendepakan.
Mentalku terserang, hampir terbunuh.
Aku sadar, aku egois.
Bukannya tidak peka, aku hanya mencoba tenang. Lunturkan sedikit sesak.
Tau tidak?
Hari itu, hari dimana sesak diujung tanduk. Sekuat hati kutahan. Sampai rasa menusuk itu benar-benar terasa.
Saat itu,
Aku sedang melipat pakaian, pakaian orang tentu.
Kuputar lagu-lagu agar tak terlalu kaku.
Jujur saja, itu hanya usaha membagi ruang dengarku.
Kebiasaanku menatap dalam-dalam cukup buruk, karenanya aku terngiang lagi.
Tentang aku yang tak punya nenek lagi, lalu patahnya harapanku tentang hal yang seharusnya sudah kusadari.
Aku tertipu, untuk angan yang tak akan sampai. Atas janji yang kubuat lalu menusuk diriku sendiri.
Apa aku egois lagi?
Tuhan, aku tidak punya apa-apa sekarang.
Jangankan uang, senyum saja aku susah.
Kusalahkan insting tajamku yang selalu tahu siapa saja fake face didepanku.
Air mataku sekarang menggenang, hampir tumpah.
Kugigit bibir bawahku, bergetar.
Kutampar, kupukul, kutinju pahaku sambir menyengir sendiri.
"Jangan nangis anjing!", haha maaf aku jadi mudah berkata kasar pada diriku sendiri.
"Cengeng lu!", masih menggenang. Kudongakkan kepala mencegahnya jatuh.
Hari-hari kujalani, lunglai, tak ada semangat lagi.
Aku bahkan tak punya alasan pasti untuk fight dengan hidup ini. Lemah sekali kan? Hahaha, sinting memang.
Menjadi produk cacat mau gagal seperti ini mengekang imajinasi liarku.
Terlalu banyak harapan yang patah lagi patah lagi.
Kulangkahkan kaki menaiki anak tangga, dengan pikiran kemana, dan tatapan tak berwarna. Datar.
Sesak sudah membumbung.
Lelah diujung ubun-ubun.
Bantalku jadi korban si rapuh. Sial, bahkan air mata saja tak cukup.
Teriak sudah dipangkal amandelku.
Kubekap dengan sarung, sial! Lagi-lagi tak cukup.
Lalu aku duduk, bersandar di balok kayu.
Melihat sekeliling yang hanya bersekat triplek tipis yang bolong dibagian atas.
Wuh.
Sakit ya, menahannya.
Kupeluk diriku, coba menenangkan, bisikkan sabda Tuhan.
Kau kuat, kau bisa.
Rasanya hambar. Malah makin menusuk.
Bantal kulapis sarung kudekap di wajah.
Aku meraung dalam diam.
Kugigit bibir keras-keras,
Esoknya kulihat luka, lalu menutupnya dengan sapuan lipstik indomaret yang kupunya.
Beberapa hari kemudian, aku dikejutkan.
Asli! Aku diusir mentah-mentah karena sebuah tuduhan tak berdasar.
Aku dicap ketua pemberontak.
Bahkan aku disumpahi tak akan mendapat yang kuharapkan.
Hei sialan!
Aku sudah cukup patah dengan orang terdekatku, lalu kau mau seenak kacang mengikut? Bangsat!
Tak apa..
Ada hikmahnya,
Belum juga barang-barangku terangkut.
Panggilan kerja sudah ditelinga.
Tuhan berencana baik, aku saja yang tidak paham sama sekali.
Malam ini, dipenghujung tahun.
Aku di kamar, sendiri, gelap, tidak ada pertanyaan apa kabar. Haha, sudah terbiasa. Bodohnya masih saja ada lukanya.
Kutulis ini agar tidak tumpah dengan air mata lagi, biar dengan kata.
Sudah lelah, bosan, capek.
Merry christmast and happy new year
Komentar
Posting Komentar