A wish
Sekarang aku 22 tahun, hampir 23.
Banyak ujian yang kulalui.
Ada yang kecil, juga besar. Tidak mudah, bahkan nyaris menyerah.
Jika tak ingat Tuhan, andai tak ada sanak keluarga dan teman.
Hal bodoh mungkin telah kulakukan.
Sering aku dicap tak normal. Saking seringnya, itu jadi agak biasa ditelinga.
Bahkan beberapa mengira aku takkan normal dalam waktu dekat. Haha, aku senyum. Tapi jujur sedikit takut.
Memang, masa pubertas kulalui tak semengesankan kawan lain.
Boleh jadi akulah satu-satunya si hambar pada masa itu.
Sibukku hanya tertuju pada pertanyaan, akan jadi apa aku? Bisakah aku seperti harapan orang terdekatku?
Hidup kuhabiskan dengan memikirkan orang lain. Yang kusayang, tentu.
Kerap kudengar pengalaman hebat dari sisi tergelap kawanku.
Satu sisi aku kagum, bagaimana mereka seberani itu.
Dalam hati kudoakan, semoga jalan baik segera ditemukannya.
Namun, disisi lain aku bersyukur.
Untung aku tak memilih pintu yang sama. Jika iya, belum tentu aku bisa survive dengan kisah demikian. Allah masih sayang padaku. Tentu.
Kulihat teman sebaya saling jatuh hati, lalu dengan mudah melakukan apapun.
Ada yang mengagumkan, tapi tak sedikit yang jadi korban.
Berkali-kali aku gagal dalam urusan ini.
Alasanku tak ingin menyakiti justru membawaku pada cap sombong dan keras hati.
Aku hanya tak habis pikir. Orang yang tadinya bersahabat, lalu jauh hanya karena alasan rasa yang tak dapat balas.
Dinding kokoh berlapis panjatan doa dari keluarga di rumah benar tak tertembus.
Sekalipun aku mencoba membuka pintu, tak satupun yang temukan jalannya.
Sungguh, doa ibu memang bersambut.
Sekarang aku mengenalmu.
Meski sebenarnya sudah lama, kurasa hari ini lebih dekat.
Tak jauh, pasifku masih menguasai. Semoga kau maklumi itu.
Maaf, aku bukan mahluk yang mudah senyum.
Maaf, aku nampak kikuk.
Maaf, aku tidak seseru teman-temanku.
Asal kau tau, selalu kudoakan kamu.
Baik sekali niatmu, aku kagum.
Meski masih saling tunggu, kuharap nanti tak membuntu.
Komentar
Posting Komentar