Kegecegewaga
Kali ini aku hanya ingin mengeluh.
Toh motivasiku menulis memang hanya untuk salurkan keluhku.
.
.
.
Malam ini aku terasa menyedihkan. Lebih dari biasanya.
Aku menangis, untuk sebab yang bahkan tak kutau pasti.
Aku dikatai aneh.
Untuk seseorang yang kuanggap sahabat, jujur saja bukan jawaban itu yang kuharap.
Aku memang salah,
Kenapa masih bergantung juga pada harapan.
Ini bukan sesuatu yang baru. Entahlah, mungkin suasana hatiku memang sedang buruk-buruknya.
Aku bingung harus memihakkan khawatirku pada siapa.
Untuk Keluargaku yang menanti teleponku, untuk sahabatku yang berjuang melawan sakitnya, untuk ponakanku yang sedang di infus, ataukah rasa bersalah pada rekan kerja yang belakangan kuanggap adik ini.
Mataku tak mau tidur, tubuhku mulai lelah.
Aku berdiam, tapi jawaban yang kucari belum kutemukan.
Satu-satunya jalan yang kukira benar, kini seolah hampa dan buntu tak bercahaya.
Aku tidak berhasil meyakinkan, karena memang aku tak ahli dalam hal itu.
Apa iya? Nasibku memang sedang tak memihakku malam ini?
Aku masih terngiang tubuh kurus sahabatku.
Betapa sedihnya aku saat dua centang biru dibiarkan begitu saja. Diabaikan.
Kuhela nafasku, mungkin memang ini yang dikatakan akhir dalam harapan.
K
Komentar
Posting Komentar