Akram & Yusran

Kali ini aku menulis untuk rekan kerja, terdengar membosankan, tapi percayalah ini kurang tepat disebut teman kerja. Mereka lebih kuanggap adik yang lugu dan bisajadi kampret.

Yang pertama, Yusran alias Tobi. Tobirama Senju (hehe)
Orang yang hari pertamanya kucuekin.
Bersama Akram di atas motor, menunggu sesuatu yang kutebak pasti si bos.
Sama seperti perlakuanku pada orang baru biasanya, aku tidak memedulikan mereka.
Keberadannya kuabaikan, apalagi pagi itu kerjaan cukup banyak.
Sekalinya coba kulihat (kali aja mau nanya) eh, malah buang muka.
Okefix, gue gak peduli lagi.

Entah lelah menunggu atau apa.
Tobi memberanikan diri menyapa. Dengan "sangat terlalu" sopan bertanya keberadaan si bos itu.
Aku menjawab seadanya dengan muka datar
"Belum datang-_-", dalam hati gua bilang, siapa suruh lu buang muka.
Dari ekor mata kulihat temannya ikut memerhatikan, tapi lalu pura-pura kembali ke hp di tangannya.

Aku mengabaikan, betul-betul mengabaikannya dalam waktu yang cukup lama.
Pekerjaan sudah menipis, lalu rasa manusiawiku juga mulai hadir.
Ya, aku kasihan!
Kasihan juga mereka menunggu tanpa kejelasan.
Lalu kucoba memasang muka manis paling maksimal pagi itu. (Jangan bayangkan manis pada umumnya, kalau gue gak cemberut aja udah syukur).

"Kita' yang mau kerja disini?" Aku nemplok di pintu kaca sambil senyum setengah senti.
"Iye kak" Nadanya terlalu sopan, aku makin kasihan. Kutebak pasti mereka anak dibawah usiaku.

Mereka berdua kupersilahkan masuk, dari jarak dekat dugaanku benar, mereka lebih pendek dariku.
Entah kesetanan apa aku hari itu, aku dengan rela hati mengajari mereka sebisaku.
Meski tak bisa dibilang bagus, setidaknya itulah mampuku.
Kujelaskan tata cara kerja dengan gaya bicaraku yang super cepat seperti biasa.

"Iye kak"
"Iye"

Mungkin hanya dua kata itu yang kudengar sepanjang pagi.
Kalau boleh menduga, anak ini sopan dan berhasil mencegah penilaian buruk, hehe.

Aku agak lupa bagaimana akhirnya kami saling mengenalkan nama.
Yang kuingat bocah keriwil yang baru kutau namanya ini seperti anak pendiam.
Biar kuperkenalkan.

Namanya Akram. Akramatullah.
Kadang dia memaksa untuk dipanggil Enggol, nama keren katanya.
Tentu aku tolak! Nama sudah bagus-bagus malah mau diplesetkan, nggak!

Hampir semua orang yang kenal denganku pasti tau, aku manusia dingin dan tidak peduli dengan banyak hal.
Seorang teman pernah berkata
"imma itu orang paling cuek, baiknya cuma sama orang tertentu", katanya di depan anak-anak curut ini.

Lalu kubalas
"Maka jadilah orang yang tertentu itu!", aku mengangguk yakin.
Lalu semua tertawa.

Akram tidak terlalu banyak bicara di hari pertama. Namun suaranya memang terdengar agak diplomatis.
Aku tidak tahu betul mendeskripsikan, tapi kalau kau pernah dengar seni Angngaru dari Makassar. Nah, kira-kira begitulah jenis suaranya.

Esok harinya, mereka menguji jantungku.
Astaga! Mereka sudah menyerah. Mereka tidak mau datang lagi!
Pikiran-pikiran buruk berputar dikepalaku.

P
P
Tdk masukmki kerja?

Seorang imma nge-chat orang baru duluan. Ini rekor dunia.

Entah dua tiga jam baru ada balasan.
Aku ketar ketir sendiri, melihat keranjang yang bertumpuk sudah sampai dibatasnya.

Iye mauja kak. Baruka bangun

Aku menghela nafas. Kubesarkan hatinya bahwa tidak apa-apa datang terlambat.
Tak berapa lama mereka datang, lalu entah kenapa kami jadi begitu cepat akrab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger