let u

Aku ingin meminta maaf atas doa-doa buruk yang kuucap.
Pada sujudku dimalam hari yang sesenggukan hadapi kenyataan bahwa berubahmu selama ini bukan tanpa alasan.
Untuk segala sumpah serapah pada beberapa teman dan sahabatku, mengutuk perlakuanmu padaku.

Karena kenyataannya, aku tidak pernah benar-benar bisa membenci orang yang kusayangi bahkan dititik terendah dan kondisi paling buruknya.
Nyatanya, aku tak pernah setega itu berharap hancurmu.
Aku sadar, pergimu dengannya pasti juga karenaku. Apa iya aku seburuk itu?

Lama sekali kenangan diawal kita bertemu, saat kau begitu gigih padaku yang sejujurnya saat itu sedang krisis percaya pada laki-laki terdahulu, bagaimana kamu yang sabar tenangkan aku yang kerap dilanda bom perasaan ingin mati. hehe.

Semuanya berputar dikepala, tentang wajah khawatirmu saat menjemputku waktu tabrakan dengan orang mabuk, lalu raut wajahmu berubah marah ingin mencari orang itu tapi aku bilang tidak perlu, seketika wajahmu tenang kembali. Saat pulang, kau menarik tanganku takut aku terjatuh tapi aku menariknya kembali karena malu dilihat temanmu yang berkendara tepat di belakang kita.

Tau tidak? sampai sekarang aku belum berani untuk makan di tempat paling sering kita datangi. Setiap kesana, bungkus ketupatmu yang menumpuk kau taruh di sebelahku yang hanya bisa makan satu atau dua. Lalu aku membelalak dan kita tertawa kecil melirik pelayannya. ahahaha 

Ingat tidak, kita berkeliling jauh. Menemaniku ke acara teman menikah, ke Barru untuk ambil satu biji hp yang sepertinya lebih banyak ongkos kesananya, ahaha. Tapi bagiku, itu adalah perjalanan terakhir kita yang paling panjang dan menyenangkan. Aku puas memelukmu, sesekali kau elus pelan tanganku, bercerita banyak hal. Jujur saja, aku senang sekali kala itu.

Ulang tahun sederhana yang jaraknya hanya sebulan, terimakasih yaa sungguh aku benar-benar bahagia hari itu. Aku sedikit tersipu, kulihat kau pun begitu.

Sampai disuatu hari aku merasa kamu mulai berubah, tidak lagi terlihat khawatir saat aku kecelakaan untuk yang ketiga kali. Membiarkanku pulang sendirian dengan sekujur badan yang sakit.

Agak sedih saat mengingat bagaimana kamu begitu menggebu untuk sekedar tau kabarku, saling melihat walau hanya dilayar kecil hp masing-masing. Tapi sekarang sudah hampir tidak pernah lagi.

Diakhir-akhir, kau bahkan tidak menggubrisku sama sekali. Teleponku dijawab sangat singkat dan terdengar tidak berselera sama sekali. 

Aku mulai kalut, kutitip doa pada kawanku yang sedang umroh. Siapa sangka, rasanya terlalu tiba-tiba.

Siapa perempuan yang live di akun instagrammu?

Aku coba menerka, apa iya sepupumu?
Tapi seingatku penampakannya tidak seperti itu.
Aku bahkan tidak pernah melihat dia sebelumnya.

Saat itu, aku jujur bergetar. Seluruh tubuhku rasanya berontak seketika. Sulit berpikir jernih dikeadaan kamu yang mengabaikanku berhari-hari. Kucoba meminta kejelasanmu, tapi bahkan kamu memblokir wa ku.

Wajah perempuan itu terngiang-ngiang dikepalaku. Kutemukan nama akun instagramnya. Saat kulihat nama akunmu disitu, kuputuskan berhenti mencarimu detik itu juga.

Sudah sebulan lamanya, kau nampaknya baik-baik saja. Aku ingin turut bahagia, tapi dadaku selalu sesak mengingat bagaimana teganya kau pergi tanpa selesaikan aku terlebih dulu?

Bahkan saat aku sudah tau semuanya, kau masih bilang sayang.

Sejak kapan?
Pertanyaan yang hingga kini masih terngiang dikepalaku saat mengingatmu dan perempuan itu.

Untuk sekarang, aku sedang berusaha ikhlas. Ingin berhenti marah dengan keadaan yang sudah terlalu jauh diluar kendaliku.

Tolong bantu aku merela dengan segala sakit dan sesak yang kurasa. Kutitip doa tenangkan diriku lewat tangan Tuhan, aku ingin sekali memaafkanmu yang pernah sangat menyayangiku. Tapi tidak dengan perempuan itu.

Aku mencoba membencimu, apa daya ternyata rasa sayangku jauh lebih besar. Aku berharap aku bisa ikhlas dan temukan bahagiaku sendiri. Merelakanmu sepenuhnya entah dengan siapapun yang kau mau.

Aku ingin berpamit dengan rasa sakit ini.
Aku ingin memaafkan diriku.

Kamu mengajarkanku memulai semua ini tanpa mengajariku berhenti.

Memulai hari rasanya selalu berat, tapi tak apa. Sejak pergimu, aku lebih banyak waktu dengan orang disekitarku.

Ingin kusampaikan tulisan ini langsung padamu, tapi bisajadi akan kulukai sekali lagi perasaanmu, atau perasaanku karena kamu tidak peduli lagi.

Ingat selalu mama yang selalu kamu ingin bahagiakan saat bersamaku ya. I let u go.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger