its done, lets reply all memories
Siapa sangka, kini, berakhir.
Senyum manis yang selalu kunanti.
mata berbinar yang menenangkan.
Nada lembut yang selalu menyadarkan akan rasa sabar.
Peluk hangat selepas hari yang melelahkan.
Seberat apapun cobaan, lebur seketika dengan gelak tawa. Juga air mata yang tak malu mengalir deras dalam dekap.
Makan sederhana saat susah, lalu berbagi jajan kala ada.
Telusuri jalan panjang, berbagi cerita bahagia, juga betapa berat keadaan.
Berat rasanya kuceritakan, namun kisah ini patut kuabadikan. Tentu saja dalam bingkai kalimat, karena sekarang aku bukanlah pemilik senyum itu. Anak laki-laki pertama yang menyadarkan aku bahwa perasaan tulus itu ada. Nyata.
Mungkin tak akan kutuliskan sekarang juga, lagi pula air mataku masih tak terkendali saat kuingat bagaimana saat bersamanya aku tak merasa sendirian.
Bahwa tak apa sesekali menjadi lemah.
Tentang dia yang melihatku sebagai seorang anak perempuan.
Aku janji, akan kutulis satu persatu 465 hari bersama orang yang kupercaya pernah menyayangiku.
Dia boleh pergi, tapi cerita ini kupastikan abadi.
Komentar
Posting Komentar