Perjalanan Mengikhlaskan
Aku tau ini tidak akan pernah mudah.
Melupakan, mengikhlaskan, orang yang tadinya paling kubutuhkan setiap harinya.
Memastikanku baik-baik saja tiap hari.
Memastikannya sampai ditujuan dengan selamat.
Memastikan aku yang sering sekali lupa makan.
Memastikannya tidak masuk angin karena tau betapa mudahnya ia sakit karenanya.
Tidak pernah kukira, bahwa akhirnya bisa sekacau ini.
Aku yang terbiasa tak pernah melewatkan hari tanpamu, secara tiba-tiba berubah.
Siapa sangka, yang terjadi bukan seperti pikirku yang mengira kamu diam karena sedang tertekan dengan keadaan.
Nyatanya, saat aku tiap malam menangis bertanya-tanya dikepala, kamu sedang berbagi tawa dengan perempuan lain yang sampai hari ini tak pernah kau jelaskan siapa dia.
Disaat aku khawatir dan mencoba memberanikan diri tanyakan kabarmu pada orang terdekatmu, kamu sudah berani bertukar akun sosmed. Bahkan saat kutemukan akunnya, ternyata temanmu yang akrab denganku juga followersnya.
Lagi-lagi, harus kuterima bahwa sepertinya dunia ini mendukung kebadutanku yang tidak sadar selama ini kau sudah berpaling.
Hampir tiga bulan dari hari-hari sesak yang kurasa. Selama itu pula bahkan kurasa lebih lama kamu bersama perempuan beralis tebal itu.
Aku benci diriku yang masih rindukan beberapa memori.
Padahal aku tau, semua itu hanya kebodohan dimatamu.
Seadainya kutau akan sesakit ini, selama ini, tidak akan kubiarkan hatiku terlampau tulus sayangi orang yang ternyata tidak lebih dari laki-laki murahan yang jajakan dirinya.
Jangan datang lagi, bagian diriku ingin membunuhmu. Tapi sisi yang lain masih bodoh menginginkan peluk.
Saking lelahnya aku bertarung dengan Aku yang lain, badanku rasanya meremuk.
Hanya karena terlihat baik-baik saja, bukan berarti ini tidak sakit.
Bahkan untuk menuliskan "Aku tidak ingin kamu bahagia" saja aku harus berhenti sejenak. Masihkah kau ragukan ketulusanku yang lalu?
Tolong bantu aku sembuh dengan berhenti menemuiku, jangan lagi menghubungiku dengan alasan apapun.
Pergilah, kamu tetap laki-laki baik yang kutemui. Kuanggap kamu yang dulu sudah mati.
Komentar
Posting Komentar