Tikaku, Sembilan
Heiii. Sudah cukup lama kita tak bertemu (Langsung). Lewat tulisan sih tidak. Hahaha.
Aku mau membagi cerita malam ini.
Barusan, aku menyelesaikan bacaan baru. Judulnya Mimpi sejuta dolar. Ditulis Alberthiene Endah, seorang jurnalis. Tapi isinya semacam autobiografi Merry Riana, seorang miliarder yang berawal dari mahasiswa kurang gizi, sepertiku.
Aku tau, kau tak akan tertarik membacanya. Tapi entah mengapa aku tengah bersemangat menceritakannya untukmu. Karena biasanya kau suka itu.
Total 362 halaman isinya. Cukup padat dengan font khas skripsi. Times New Rowman 12 pt. Aku mengenalinya dengan baik. Hehe.
Aku agak malu mengakui, tapi aku sempat meneteskan air mata. Saat kubaca perjuangannya berjalan kaki dan menahan lapar. Sungguh, akupun mengalaminya.
Dia mengaku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tetapi, untuk ukuranku dia masih jauh lebih beruntung dariku. Ayahnya Insinyur teknik. Meski akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha dengan bisnis kecil-kecilan.
Bisa jadi hidupnya memang tengah dilanda krisis, mengingat tahun yang sesungguhnya akan jadi masa awal kuliahnya justru tanah air kita, Indonesia dilanda Krisis Moneter. Ya! Itu di tahun 1998.
Ayah dan Ibunya tak perlu berpikir dua kali untuk mengirim putri sulungnya yang chineese ke luar negeri.
Ini wajar, sebab pusaran amukan warga bertuju pada etnis Tiong Hoa kala itu.
Toko-toko habis dibakar, pemerkosaan gadis Cina, penjarahan, dan banyak lagi kisah pilu mewarnai pemberitaan.
Orang tuanya dengan yakin merantaukan Ria. Melanjutkan studinya dengan pinjaman Bank sebesar 40ribu dolar singapura.
Hari-harinya tidak mudah, dia harus berhemat. Uang sakunya hanya 10 dolar seminggu. Padahal harga nasi goreng polos tanpa lauk adalah 2 dolar.
Aku cekikik, mengingat keadaanku yang tak jauh berbeda.
Merry Riana memakan mie rebus tiap hari. Ibunya membekali, juga dengan sabun, sampo, dan peralatan sehari-hari lain.
Astaga, aku merasa punya orang bernasib sama. Hahaha.
Hidup ini memang keras, kawan.
Tapi bagaimanapun kita harus menghadapinya.
Tak jauh berbeda dariku, Ria adalah anak sulung dari adik laki-lakinya. Bedanya, dia punya dua, sementara aku cuma punya satu. Jaraknya jauh pula. Hahaha.
Perantauannya yang pertama kali dalam hidup memaksa dirinya untuk menjadi mandiri. Apapun yang terjadi.
Sama denganku.
Tadinya kupikir indahnya kuliah akan mengubah perspektif pandangku tentang dunia pendidikan.
Kukira, duduk di bangku kuliah akan jauh lebih bebas dan tentunya menyenangkan.
Akh, tapi nyatanya ini tak jauh berbeda.
Bahkan proses beradaptasi jauh lebih sulit di tengah kelas yang 95% isinya pendiam. Termasuk kau, tapi itu dulu.
Sekarang mah 🎆🎆🎆
Petasan.
.
.
Hidupku tadinya sangat teratur.
Entah memang karena aku goldar A. Atau karena didikanku memang seperti itu. Herannya, toh orang tuaku bukan aparat. Intinya kedisiplinan harus datang dari diri sendiri. Lalu di bantu dan dipoles dengan organisasi demi organisasi yang kutekuni dengan senang hati.
Setiap pagi (dulu aku tak shalat 5 waktu, anjay kafir), aku bangun lalu tanpa cuci muka menuju dapur. Kugoreng telur, atau nasi goreng. Itu adalah andalanku tiap pagi. Kusiapkan dua porsi, untuk si curut sebagian.
Tugas si curut cuma memetik cabe yang ditanam di samping rumah. Kadang-kadang kusuruh juga memetik bayam, untuk kubuat perkedel.
Sementara curut memetik bahan suruhanku. Aku sibuk meracik bawang dan merica. Juga bahan-bahan lain yang selalu tersedia di rak-rak bumbu ibu.
Sembari menyalakan kompor, biasanya curut kubiarkan mandi dan berpakaian dulu. Aku belakangan. Biar dia yang menunggu. HAHAHA.
Sreng... sreng...
Kemudian hal paling ditunggu-tunggu tiba.
Makan bersama di meja makan berlapis plastik. Dengan piring kaleng. Maklum, si curut adalah manusia berbentuk anak kecil yang super aktif. Akalnya tidak akan habis sampai barang-barang hancur berantakan.
"Enakji?", tanyaku. Sambil kupelototi.
"Enaklah", katanya tanpa melirik sedikitpun. Dia asik mengunyah dengan lahap nasi goreng favoritnya.
Kau tau? Sampai sekarang, jika sekali waktu aku pulang ke rumah. Dia akan senang sejadi-jadinya. Katanya makan enak akan tiba. Ahhaha.
Terimakasih. Terimakasih.
Dia tidak pernah tau.
Bahwa disini, diperantauan.
Acapkali aku harus mengikat perut. Alias kelaparan.
Seluruh wajahku gatal tak keruan karena serangan alergi yang bertubi-tubi.
Dia tidak pernah tau.
Bahwa telur adalah makanan mewah untukku. Aku hanya mampu membeli mie instan seribuan, atau jika beruntung kubeli tempe 3 ribuan untuk kuhemat dengan membaginya kedalam tiga kloter.
Aku tak pernah menyangka, bahwa menjadi anak rantau seekstrim ini.
Yang tadinya aku bisa nonton TV tanpa khawatir tunggakan, makan silahkan kadang dipaksa, minum gratis, bensin bukan urusanku. Uang jajan lancar tiap hari.
Sekarang menyalakan satu bohlam lampu pun aku harus berpikir dua kali.
Aku khawatir, uang yang kupunya tak akan cukup untuk hari berikutnya.
Tiba-tiba aku harus berlatih menjadi akuntan yang sangat teliti.
Bagaimana mengatur segala kebutuhan tiap hari, tanpa harus meminta banyak (Aku pantang minta, jika dikirimi alhamdulillah)
Mulai dari urusan listrik, air, tabung gas, galon, sabun mandi, sabun wajah (kalau ada uang lebih), odol, sampo, detergen, bedak, bensin, lauk pauk, kuota...
Nah, itu baru kebutuhan primer.
Belum kalau waktu ganti oli tiba, ban motor bermasalah, pulsa habis, cas hp rusak, temen-temen ujian..
Dan yang paling horor adalah..
.
.
Ketika teman ngajak makan di luar.
Aku tak mungkin menolak, karena rindu.
Sungguh menyenangkan bertemu dan membicarakan hal-hal lucu.
Biasanya kupandang lamat-lamat makanan yang tersaji di depanku.
Kau tau? Menelannya seolah berduri.
Ada ketidakrelaan membiarkan uang yang harusnya bisa kupakai membeli bensin untuk 3 hari harus habis dalam 15 menit. Lalu aku kembali menikmati pertemuan. Karena ini tak bisa kubayar dengan berapapun yang kupunya. Ya ini menyenangkan, meski tenggorokan sesekali tercekat karna ketidakrelaan.
Kau tau?
Semenjak mengenalmu dan semakin dekat aku mulai belajar menikmati hidup.
Bagaimana aku dengan pelitnya membagi seribu demi seribu untuk keperluan sehari-hari. Namun begitu mudah jika bersama dengan teman menyenangkan sepertimu, juga beberapa yang lain.
Dari kaulah aku belajar.
Karena meski aku tak sakit secara fisik, mentalku betul-betul tertampar berkali-kali. Namun ada yang harus kuingat.
Hidup hanya sementara, dan mengapa kita harus sebegitu mengeluhnya?
Bukankah rezeki sudah Allah atur sesuai kebutuhan kita?
Mungkin yang kubutuhkan sekarang hanya mie instan tiap hari. Buktinya aku baik-baik saja.
Hikmahnya mungkin adalah bagaimana aku harus beranjak dari kenyataan menyedihkan saat makanpun harus berpikir dua atau tiga kali.
Lalu aku punya ide bagus.
Bagaimana kalau kau jadi Ria dan aku jadi Alva-nya? Iya iya Alva laki-laki. Itu teman kampus Ria yang akhirnya jadi suaminya.
Tapi mumpung kita kosong berjamaah, kenapa tidak???
Yuk ah!
Capek akutuh.. hahaha
Eh ada hikmahnya lagi
Tiap pulang kerja, aku jadi banyak beristigfar.
Karena sepanjang jalan penjaja makanan dengan teganya mengepulkan asap yang memancing liur. Lalu aku hanya bisa pura-pura bego dan istigfar dalam hati.
Sambil berdoa, semoga akan datang hari dimana aku bisa makan apapun yang kumau dengan keluarga dan juga teman-temanku. Eh siapa tau juga keluarga baru. Iyuuuuh. Hahaha
Komentar
Posting Komentar