Tikaku, 17

Hei

Maaf, malam ini aku sedang tidak karuan.
Hari ini terlalu panjang kulalui.
Aku marah, lalu menyesal (lagi).

Untuk orang yang kusayangi, belum sepertimu. Tapi belakangan mereka yang jadi penyemangat di hari-hari bosanku.

Aku pernah bercerita, kesan awalku pada mereka agak buruk. Terlambat, terlambat lagi dan terlambat terus.
Jujur, ini agak menyebalkan.

Kita sama-sama tau bahwa kedisiplinan waktu adalah mutlak. Barisan para mantan, eh maksudnya bangku depan selalu jadi wilayah teritorial kita.

"Kaka imma, makanka dulu di", suara kekanakan akram meluruhkan semua kata yang sudah kutata. Aku lagi-lagi tak tega.

"Oiya makanmo pale dulu", kataku diiringi harapan paling lama 30 menit mereka sudah disini.

Lalu jam dengan teraturnya berputar, melintasi garis-garis pemisah menit. Bahkan sudah melewati dua angka.
Aku mulai sesak napas a.k.a keringat dingin.

"Manami karyawanmu? Jam berapami ini? Menumpuk sekalimi", pengawas bertubuh pendek berkaos merah merundungi dengan berbagai pertanyaan yang jujur sudah muak kudengar.

"Iye pak, ada yang sudah tiga kali datang (mau ambil tapi belum dikerjakan)", timpal seorang rekan.

Ya Allah matilah saya, mampuslah anak-anak. Hari ini akan jadi hari yang berat, pikirku.

Tidak bisa kuhitung berapa kali si pengawas itu berceloteh. Aku sebenarnya agak geram.
Yang berjuang siapa, yang komentar sana sini siapa.
Yang kerja mati-matian siapa?, yang dapat gaji besar siapa.
Kan lucu aja gituu.

Akram Yusran memang over late hari ini. Tidak bisa dipungkiri, pasti rasa jenuhnya sudah mulai membumbung.
Sudah 2 bulan, hampir 3. Alasannya bertahan karena komitmen pada dirinya, juga karena katanya tidak tega meninggalkanku.

"Masa kutinggalkanki kak?", kata Tobi waktu itu.

"Kalau keluarmaki keluarma juga", katanya beberapa hari lalu.

Aku meresapi, lalu mewek sendiri.

Naluriku sebagai kakak perempuan dari adik laki-laki memang tidak bisa disembunyi.
Si kecil akram bahkan tidak ragu berteriak "Kaka immakuuu" di depan orang lain.

Iyadik, aku juga menganggapmu adik.
Adik nakal yang mulai sadar, tapi masih diambang kebingungan mau dibawa kemana nakalnya.

Seharian aku tidak bisa mengontrol diri (lagi). Aku diam, mukaku datar.
Hatiku ingin menyapa, tapi leherku kaku tak karuan. Kukutuk diriku untuk hari menyebalkan ini.

Aku tidak tau bagaimana mereka berpendapat tentangku di luar sana. Saat mereka tengah ngopi, atau main game domino andalan (dapat pulsa katanya).

Kupaksa diriku belajar mengontrol rasa.
Kulihat Tobi kesusahan melipat seprei, jika biasanya ia langsung meminta bantuan. Sore tadi dia hanya berbalik badan pura-pura tegar.

Apa yang kulakukan?

Kuulurkan tanganku tanpa sepatah kata. Rupanya dia menangkap kode itu dan cengenges seperti biasa. Kusenyumi dengan rasa sangat dipaksa.
"Kenapako lagi terlambat nah? Apalagi alasanmu?", kataku dengan nada yang terlalu datar untuknya, jauh berbeda dari biasanya. Juga tatapan tajam yang jarang sekali mereka lihat.

Tobi menatap sebentar, berpikir, lalu memutuskan untuk bilang "Tidakji kak"

Aku tak serta merta percaya, mereka bukan tipe anak yang terlambat karena "Tidakji kak"
Kurasa mungkin mereka ketiduran. Huh.
Akram tidak berani menoleh.

Cukup lama bagiku membangun perasaan kembali.
Sesudah diinterogasi habis-habisan sama si bos yang tiba-tiba datang. Aku agak mencair.

Seperti biasa, tuduhannya macam-macam. Aku mulai terbiasa.

Aku memang terlihat sangat dekat, tapi rasaku tak lebih dari kakak yang lindungi adik kecilnya.

Emosiku yang tiba-tiba karena takut mereka dimarah. Tapi toh, terjadi juga.

Tobi mengabariku bahwa ia mau pulang kampung. Aku makin larut dalam rasa bersalah yang sedari tadi kubawa.
Harusnya aku memedulikan rasa sakit kepala yang tadi ia adukan padaku. Tapi aku justru merespon dengan seadanya. Dengan nada yang buruk di telinga.

Akram, Tobi, maafkanka.

Ternyata belum bisaka berubah.
Masih cepat naik emosiku (seperti katamu)
Masih nda bisa kukontrol mukaku (seperti nabilang akram)

Sebenarnya itu karena peduliku, tapi kusadari cara ini sungguh salah.

Aku mencoba berpikir.
Bagaimana caranya tetap menjadi kakakmu yang bisa kau jadikan tempat mengadu, sekaligus menjadi kakak yang bisa membuat dirimu ada rasa mau untuk sedikit berubah.

Sedikit saja.

Cukup dengan menghadiahiku senyum saat aku turun dari lantai dua.

Bukan mengelabukan mataku dengan sambutan ruangan yang dijejali keranjang bernota dan boiler yang membeku.

Aku mau kau tetap ada. Disini aku mau belajar, bagaimana menjadi baik tanpa harus berniat terlihat baik.
Berharap bantuanku tidak untuk mengharap apapun, termasuk perubahanmu.
Ajari aku bagaimana tetap tersenyum bahkan tertawa di sela segala masalah.
Karena kulihat kalian ahli sekali dalam hal itu.

Aku tidak berniat mengekang, aku hanya menagih apa yang jadi kewajibanmu. Jika caraku salah, perlakuanku buruk, tolong tegur aku. Kakamu ini raganya masih tak sepantaran usianya. Hehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger