Tikaku, enam belas

"Ayo pi karebosi!", katamu tiba-tiba.

"AYOOOOOO", aku girang dengan nada teriak yang melengking. Kalau kau mengenalku dengan baik, pasti telingamu sudah siap sedia disumpali. Hahaha.

Kemarin aku datang ke rumahmu, kuakui aku agak kurang berenergi.
Malamnya mataku dipaksa begadang oleh bocah-bocah kampret.
Sudah 3 malam ini aku sulit tidur, jika azan subuh berkumandang, barulah mata ini berhenti mengelak.

Seperti biasa aku tak pernah sungkan mengeluh didepanmu.
Rasanya selalu melegakan.
Kau pendongeng yang luar biasa. Mulai dari kenyataan sampai mimpi-mimpimu selalu kusambut dengan takjub dan mata berbinar-binar.

Disamping itu, kau adalah pendengar terhebat yang pernah kukenal.
Mendengar segala rengekan, celoteh, amukan sampai keluhan dan menimpanya dengan kalimat yang selalu memberiku rasa lega.

Tidak terdengar menggurui. Tidak juga mengompori.
Semacam penerimaan dengan bumbu orasi. Hahaha. Paansi

Seperti biasa, rencana jalan-jalan tidak pernah berjalan semulus itu.
Aku yang banyak acara teler-teleran lepas 3 malam begadang jadi banyak lost focus dan akhirnya kagak nyambung. Hahaha.

"Pimako dulu tidur", katamu paham melihat cara jalanku yang oleng sana-sini.
Mataku berbinar, tadinya ada rasa kurang enak tidur di pagi hari, apalagi di rumahmu yang juga dihuni keluarga kecilmu.
Tapi apalah daya, mata sisa 3 watt pemakaian 2 tahun (redup).

Aku benar-benar tidur. Lepas minum segelas coklat dengan martabak manis yang dibuat bersama semalam, cukup untuk meninabobokan perut juga mataku.
Janji bahwa pukul satu kita berangkat jadi molor tiba-tiba.
Jarum pendek jam sudah menunjuk keangka 2, bahkan lebih.

Saat badanku tengah berusaha memutus hubungan dengan kasur, kau malah asik guling-guling di sampingku. Aku makin tak bisa bangun.

Kutendang-tendangi betismu menyuruh untuk bangun (tidak tau diri). Padahal aku yang sudah tiduran lama.

Kupaksa diriku bangkit membasuh wajah yang sudah kelewat "cukmal"
Jilbab satu-satunya yang kubawa lalu kukenakan seadanya sambil memaksamu bangkit dari magnet terkuat di bumi (kasur).

Beruntunglah kita bukan tipe perempuan ribet haha..
Tidak sampai 10 menit, sepatumu sudah di kaki. Begitu juga dengan sendal kodokku, hehe.

Sepanjang jalan kita bercerita tak jelas arah. Apasaja, yang penting bisa membuat hangat suasana.

Kejadian sedikit lol menimpa, karena terlalu lama mengurung diri di rumah. Kita sampai tidak tau bahwa lapangan paling hits di makassar ini sudah difasilitasi parkir otomatis. Sedikit malu diteriaki, tapi karena tak sendiri jadi anggap saja itu sambutan selamat datang. Hahaha.

Pemandangan segar akhirnya bisa kudapati.
Anak-anak terlihat penuh semangat berlatih sepak bola, mengenakan seragam khas dengan warna terang menyilaukan dari radius 2 km.
Orang tuanya nampak antusias memandangi, ada botol minuman serta makanan kecil di tangan masing-masing. Akh, masa kecil memang menakjubkan.

Cukup jauh kita berjalan. Di putaran lapangan kedua, aku hampir menyerah.
Agak sedikit malu rasanya, mantan atlet yang kemarin berlatih 4x sehari sekarang sudah loyo tak berotot. Hahaha.

Kau bercerita banyak. Mengenai keluargamu, juga kuselip dengan suasana kerjaku. Ini menyenangkan, kau pencerita sekaligus pendengar yang baik. Eits jangan geer. Plis.
Berbeda dengaku, aku memang pendengar, tapi selalu latah saat bercerita. Kebanyakan acara mengap gak jelas. Kurasa kau pasti paham, makanya aku menuliskannya agar lebih lengkap. Hahaha.

Sudah ribuan langkah terukur di jam tangan canggihmu. Aku mulai terengah, sudah tidak kuat. Lebih lemah lagi saat kulihat jejeran penjaja minuman segar di sepanjang trek jogging. Aku putuskan menyerah, kau tak berdaya. Hehe.

Kebingungan melanda, warung mana yang akan jadi sasaran.
Saling sikut dimulai, lalu dipilihlah warung paling sepi. Itulah kita, suka sepi tapi takut kesepian. Ih paansi

Dua gelas es cendol nikmad tersaji depan mata. Tidak butuh waktu lama aku menghabiskannya, akhirnya kengileranku terbayar juga.
Hanya sekitar dua jam kita habiskan waktu bersama, duduk di bangku pinggiran lapangan. Mengamati sekeliling, sesekali menakuti anak kecil. Hobbymu yang belakangan jadi agak menyenangkan. Hahaha.

Aku pulang dengan perasaan lebih lega.
Kuharap esok hari akan lebih menyenangkan dari beberapa hari melelahkan ini.
Oiya, kulihat kau nampak lebih segar.
Alhamdulillah, karena aku benci melihatmu kering, pucat, berdosa pula!!
Hehehe, becandaa becandaa 😂

Tapi iya juga sih 😆

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger