Pisah😊

Riak angin menerpa lembut, terasa sejuk.
Matahari sedang bermalasan, awan lebih pekat dari biasanya.
Masih teringat benar peristiwa seminggu lalu.
Saat gema azan maghrib sudah pada penghujungnya, malam mulai menyapa.

Tetiba debaman keras menghentak, menyisakan kehancuran dipenjuru ruang.
Untuk suatu alasan, kepanikan tak mendera.
Ada tenang yang memeluk lembut.
Berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Tak pernah kuduga bahwa peristiwa di ujung hari itu akan jadi biang.
Kisah pertemanan yang belum berapa lama rasanya kini telah di ambang kelumpuhan.
Kadang-kadang hati bergejolak
Apa iya Tuhan akan mengambilnya (lagi)?

Bukan kepulangan, ini lebih pada keterpisahan.
Lalu aku kembali pendiam, larut dalam luka yang sedari lama kubawa.

Mungkin inilah yang terbaik.
Lelahku memang sudah di ujung tanduk. Tapi, lagi-lagi kehilangan adalah cara paling menyiksa yang diujikan Tuhan padaku.
Aku tak pernah siap, tidak pernah.

Egoisku harus kubunuh.
Sampai berapa lama lagi aku "Menyiksa" mereka.
Aku tidak menyesali, hanya saja kurasa memang aku tak pandai sembunyikan sendu.

Selamat jalan teman,
Ini akan jadi cerita klasik di tahun nanti.
Dengan bangga aku akan menceritakan tentangmu, pada orang-orang yang kukenal kelak.
Mungkin keluarga, mungkin juga teman yang kutemui setelahmu.

Kuharap tidak akan ada yang berubah, meski itu mustahil.. tapi jika bisa, kuharap kita tak saling melupakan. Lalu berpura tak saling kenal.

Maaf untuk segala wacana yang tak sempat direalisasi. Mungkin nanti, itu pun jika Tuhan masih berkehendak untuk kita saling peduli. 😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu

Baru

stronger